Sabtu, 05 Februari 2011

^_My Shining Star_^

wahh..wahh.. nii prtma kli'y nlis crpen iiang brhsil nih.. mga aj bsa dtrma n' bsa mnghbur iiang bca..(amin) iia udh gG ush pnjang lbar.. just enjoy it .

****

Pagi hari ini hujan masih turun dengan deras. Rasanya aku sangat malas untuk beranjak dari tempat tidurku. Hujan memang senantiasa membuat orang sangat malas dan terus mengurung diri dalam rumah. Walau, tak banyak juga orang yang masih beraktivitas diluar sana, ditengah hujan yang deras karena kesungguhannya dalam menjalani hidup. Dalam kedua kategori itu, aku termasuk orang yang sangat malas beraktivitas sewaktu hujan turun.
Perlahan kakiku menapaki lantai untuk beranjak mandi sebelum ocehan mamaku mulai bergema. Air di kamar mandi kali ini terasa sangat dingin, serasa menusuk tulangku. Kenapa sih hari ini hari Rabu? Kalau hari Sabtu atau Minggu kan aku bisa bermalas – malasan hari ini.
“Naya, cepetan Nay! Papa dah mau siap tuh!” teriak Mama dari balik pintu kamarku. Dengan sergap aku membalasnya sebelum mamaku berteriak kembali. “Iya Mah, bentaran. Naya lagi mandi!” akupun bergegas menyelesaikan prosesi mandi yang sedang kujalani.
“Pagi Mah, Pah, Kak Rio!” sapaku seraya menuruni anak tangga untuk melahap sarapanku yang ternyata nasi goreng untuk pagi ini, nyam nyam nyam.. I’m very like fried rice. “Buruan napa?! Ntar nasgor punyamu kumakan loh.” ancam kak Rio yang berhasil membuat mataku melotot bahkan hampir copot. Secepat kilat aku menyambar nasi gorengku yang hampir ikut – ikutan dilahap kakakku yang rakus ini. “Enak aja! Udah dapet jatah sendiri – sendiri kan?! Ugh, dasar RAKUS!!”

>>><<< 

“Hay Nay!! Pagi amat kamu datengnya.” Sapa seseorang yang suaranya sudah sangat ku kenal seraya menepuk pundakku dari belakang. “Pagi apanya? Mepet juga iya.” Jawabku sambil rada sewot.
“Maklum Nay. Cuaca lagi ga bersahabat banget. Aku aja tadi hampir ngga masuk sekolah” balas seseorang itu yang ternyata sahabatku Siska.
“Sekalian aja ngga masuk. Ngapain masuk segala?”
“Bukannya aku ngga mau nih, tapi ortu aku yang maksa aku buat masuk. Padahal, bbeuuh.. malesnya minta ampun dah aku.”
“Hadeuw.. hadeuw.. itu mah kamunya aja yang kebangetan!” timpalku seraya menoyor kepalanya yang berhiaskan bando berwarna orange itu. Aku mulai berhambur menuju kelas sebelum dia benar – benar mendaratkan ribuan jitakan di kepalaku ini.
Kami memang sejak kecil selalu bersama dibarengi dengan Shofa dan Rita. ‘Jenggo Sekawan’ itulah julukan kami. Sebenarnya kami tuh bukan semacam genk atau yang lainnya. Tapi, lucu aja. Banyak temen – temen yang lain, eeh.. kitanya masih aja berempat kemana – mana. Jenggo Sekawan aja yang namain bukan kami, melainkan guru SD kami yang suka ngeliatin kami main berempat terus. Entah dari mana nama itu bisa terbesit dalam pikiran guru kami yang kocak itu. Pokoknya, nama itu akan menjadi saksi bisu hubungan kami berempat sejauh ini.
“Woy..woy..woy.. olahraganya masih ntar jam ke-3 neng.” Kata Rita yang sedang duduk di kursinya sambil membaca novel Twillight kesayangannya.
“ah kamu Rit! Nggak tahu apa temen kamu yang imut ini lagi lari dari kejaran maut!”
“Maut?”
“NAYA!! SINI KAMU SEKARANG!! AKU JITAKIN PALA KAMU!!!” teriak Siska masih dari luar kelas yang seolah telah menjadi jawaban dari pertanyaan Rita tadi.
Akhirnya, aku dan Siska kejar – kejaran sampai Bu Dewi benar – benar masuk untuk menyampaikan bagian – bagian dari bunga. Disaat itu pula, aku baru menyadari tidak adanya sosok cewek yang selalu tanggap disaat Bu Dewi mengajar. Apalagi ini sedang membahas bagian tumbuhan, pasti nyamber aja dah tuh orang.
“Rit, Shofa kok ngga nongol sih nih hari? Biasanya juga udah connect aja tu orang sama Bu Dewi” tanyaku pada Rita yang duduk tepat di sebelahku. “Kurang jelas juga sih, tapi kemarin Shofa bilangnya mau ke Bandung” balas Rita.
“Ke Bandung?? Kok dia ngga cerita ke aku ya?”
“Mungkin dia lupa kale? Apalagi kan kamu paling suka sibuk sendiri.”
Aku suka sibuk sendiri? Nggak ah, perasaan kamu aja kali.”
“Kamu tuh sibuk ma madingmu. Kamu juga sibuk ma ekskul panjat tebingmu itu”
“Itu kan...”kata – kataku terputus setelah sebuah spidol berhasil mendarat mulus tepat dikepalaku. Rasanya sakit bukan main. “Naya. Rita! Kalian itu saya terangkan malah asyik ngerumpi sendiri. Mau jadi apa kalian nanti?” tegur Bu Dewi yang ternyata memperhatikan kami sedang asyik mengobrol. “Siniin spidol saya! Mau pake apa saya nulis nanti!” tambahnya lagi. Sejurus kemudian akupun bergegas ke depan untuk mengembalikan senjata jitunya tersebut.

>>><<< 

Mungkin, aku memang terlalu cuek sama teman – temanku. Selama ini,  aku sering berkecimpung sama ekskul panjat tebing dan lebih sering mengurus madding sekolah berbarengan dengan anggota pengurus madding yang lain daripada bermain dengan teman – temanku walau hanya untuk keliling komplek, hang out ke mall, atau hal lain yang sering kami lakukan bersama.
Rasanya kangen setelah mengenang hal – hal yang sering kami lakukan bersama. Kalau saja aku bisa memutar waktuku, pasti akan kuputar ke waktu sebelum aku lebih memilih ikut ekskul panjat tebing dan sebelum aku menyetujui pemilihan pengurus madding yang ternyata memilihku menjadi ketuanya. Hmm.. apakah semuanya akan kembali seperti semula?.
“Hi Nay!”sapa seseorang seraya menepuk pundakku dari belakang. Dari nada suaranya sih sangat pelan dan terkesan berbisik. Oh iya, aku baru ingat kalau tadi aku lebih memilih merenung di perpustakaan serambi membaca buku tentang metamorphosis binatang. Dalam hitungan detik aku membalikkan badanku untuk balik menyapanya. Dan ternyata orang itu adalah Rita. “Hi Rit!”
“Boleh duduk sini?” tanyanya sambil menunjuk bangku kosong di sebelahku.
“Boleh kok, ngga ada yang ngelarang lagi. Kalau ada yang ngelarang kamu, beritahu aku. Ntar aku gibeng tu orang.” Ujarku dengan agak terkekeh agar lebih mengendorkan suasana yang agak tegang.
“Ih, garing banget sih kamu.” Kata cewek tinggi, putih dan berambut panjang sepunggung nan cantik itu seraya duduk di tempat duduk yang tadi ia tunjuk.
Suasana hening sejenak, sampai dia kembali berucap. “ehm, Nay. Sory ya tadi”
“Sory kenapa, Rit? Seingetku, kamu ga punya salah ama aku.”
“Sory karena aku tadi dah bicara rada kasar ma kamu. kamu berhak kok gabung ma ekskul panjat tebing yang kamu suka itu dan jadi ketua di club madding sekolah. Kan, ketua osis sendiri yang nunjuk kamu.” Ungkapnya jujur.
“Ngga papa lagi Rit. Harusnya aku yang minta maaf ke kalian. Karna, akhir – akhir ini aku jarang gabung ma kalian.”
“Ngga papa juga kok, Nay. Lagian kita ngerti kesibukan kamu.”
“Ehm, ya udah deh, kan udah selesai nih minta maafannya. Kantin nyok, gerah nih.”
“Ah, kamu Nay. Orang suasana lagi bagus juga, kamunya malah ngerusak!”
“Hehe. Mau nggak nih? Apa kamu milih aku tinggalin di antara tumpukan ribuan buku di sini?”
“Ya udah deh. Lagian Siska juga udah nungguin lama, kasian tuh dia”
Kami pun beranjak dari perpustakaan menuju kantin. Surganya makanan enak di sekolah setelah melepas penat selama pelajaran dan untuk bercengkrama dengan kawan setia. Tempat yang sempurna untuk para pelajar. Mungkin, para murid berniat untuk sekolah hanya untuk menikmati makanan kantin yang terkesan enak – enak. Hehhe.. nggak deh cuma becanda. Pastinya, mereka berniat sekolah untuk menjadi pintar agar memudahkan mereka untuk menggapai cita – cita mereka masing – masing.

“Woy Rit! Katanya kamu lagi deket sama si Izul ya?” selidik Siska setelah memesan minuman dan makanan.
“What??! Izul??! Izul anak kelas 9.6 itu?” ungkapku setengah kaget.
“Kalo iya emang napa? Emang, ada yang komplen yaa?” jawabnya dengan santai dan balik bertanya padaku.
“Ehmm. .ngga papa juga sihh. Tapi...” kata – kataku terputus oleh ungkapan Siska yang tiba – tiba menyerobot. “Izul itu orangnya ngga jelas!”
“Ngga jelas gimana sih? Tanya Rita penasaran.
“Hellouw.. ini 2011 gitu! Mana ada sih cowo yang rela ngehabisin waktunya selama berjam – jam, hanya untuk nangkring di perpus dan baca buku yang tebbelnya bukan main. Masa ntar kamu mau di ajak kencan di perpus?” tutur Siska dengan jamblang.
“Hmm. Ya’ tul!”tambahku dengan mengacungkan dua jempolku seraya meminum jus mangga yang kugenggam.
“Hellouw.. the name of love gituu!” bela Rita.
“The name of love apanya! Kalo yang ini mah.. kamunya aja yang buta!” kata Siska yang mulai agak meninggikan suaranya.
“Kamu juga kan! Lihat tuh pacamu, si Edwin! Playboy cap kampung yang slengekannya minta ampun. Itu yang kamu maksud pacar?!!” kata Rita yang ikut – ikutan meninggikan suaranya.
Merekapun mulai beradu mulut tanpa memerhatikan keadaan kantin yang mulai rame dan sebagian sedang memerhatikan mereka. Sedangkan aku. Aku hanya sibuk melahap mie ayam yang sedari tadi terbengkalai olehku karna harus sibuk memerhatikan cek – cok antara kedua sahabatku. Untung ini hanya Siska sama Rita, seandainya sekarang ada Shofa, bbeuhh.. pasti deh jadi sorotan se-antero kantin.
“Nayaa!! Kok kamu diem aja sihh??!” tegur Rita padaku setelah mereka menyelesaikan perdebatan yang nggak penting beberapa detik yang lalu.
“Terus.. aku harus ngapain dong?”
“Yaa.. ngapain kek! Kreatif dikit dong!!” Ritapun ikut – ikut menegurku.
“So..?”
“Ihh.. kamu tu ngegemesin yah!! Sebel aku ma kamu!” ujar Siska.
“Oh ya! Akhir – akhir ini aku bingung deh ama tingkahnya Riko ke kamu Nay. Apa dia suka sama kamu ya?” tanya Rita yang telah berhasil membuat jus mangga yang masih berada di tenggorokanku berusaha keluar. “WHAT??! Riko anak yang baru pindah 4 bulan lalu yang sekarang udah jadi leadernya basket putra itu?? Ngga usah ngaco deh..”
Mana mungkin sih, Riko si cowok yang digilain banyak cewek seantero sekolah ini suka ma aku? Sadar Nay! Riko tuh ‘Shining Star’ terlalu jauh buat kamu gapai. Rita tuh cuma becandain kamu aja. SADAARRRRR.
“Ahh, iya tuh Nay! Rita bener ko. Akhir – akhir ini aku sering lihat Riko kalo ketemu kamu tuh suka salting salting gimmanaaa getoh!”
“Hellooo.. ah udah ah. Kok jadi bahas Riko sih?? Kelas nyoook!”
“Kok kamu juga ikut – ikutan salting sih Nay?”
“Waah.. eh lihat Sis, mukanya Naya mpe merah semua tuh..hihhi”
“Ah, udah ah. Kalian semua pada ngaco!” akupun segera melangkahkan kakiku meninggalkan kantin dan juga para sahabatku. Konyol. Nggak mungkin banget Riko suka ma aku. Aku tuh tau tipe cewek yang disukai macam cowok – cowok kaya Riko. Pasti yang putih, tinggi, rambutnya panjang, cantik, dan yang paling penting TERKENAL. Aku tuh ngga klop banget sama kriteria – kriteria yang udah kusebutin tadi. Kecuali, putih ama tinggi. Kalo cakep yaa, standart lah. Ngga cakep tapi ngga jelek – jelek juga.
“AAAUUWWW!! Busyet dah! Kalo jalan liat – liat dong!” aku menjerit pelan karena seseorang menubrukku dan menjatuhkan buku – bukunya di kakiku. Ngga terlalu banyak dan tebel juga sih. Tapi tetep aja kerasa sakit.
“Ah..eh..sorry..sorry..aku nggak sengaja.” Kata orang itu yang ternyata.......RIKO. wajahku tiba – tiba berubah jadi merah. Walaupun aku ngga bisa ngelihatnya, tapi aku bisa ngerasain betapa merahnya wajahku ini. Ya Allah..moga – moga aja dia ngga sadar betapa merahnya wajahku ini.
“Eee..ngga papa kok. Lagian aku yang salah, jalan sambil ngelamun. Hehhe” ucapku setelah membantunya membereskan buku – buku yang berserakan.
“Ya udah, thanks ya dah bantu beresin bukunya. Lain kali kalo jalan jangan pake ngelamun lagi.” Katanya seraya membubuhkan senyuman dahsyat yang berhasil membuatku hampir meleleh.
“Kamu juga, kalo bawa buku ati – ati. Jangan sampe dijatuhin di kaki orang lagi”
“Sekali lagi maaf buat kaki kamu itu.”
Diapun berlalu. Sedangkan aku? Aku hanya menatap punggungnya yang hampir menjauh dari tempat kami bertabrakan dan pergi. Bener – bener kaya ‘Shining Star’ betulan. Pertemuan yang singkat tapi jarang banget ada. Terakhir aku ngomong sama dia tuh hemmm...kira – kira 1 bulan lebih yang lalu. Itupun karna dia ngga sengaja nimpukin bola basketnya ke kepalaku. Aku pikir – pikir sih dari dulu kalo aku ketemu dia suka celaka. Yang ketimpuk bola lah, ketimpa bukulah. Pokoknya aku ngga pernah slamet.

>>><<< 

“Anak – anak!! Karena hari ini saya ada rapat guru, kalian saya beri tugas. Tugasnya membuat laporan, terserah mau temanya apa. Nanti akan saya jadikan beberapa kelompok masing – masing 2 anak.” Jelas Bu Yanik ketika masuk kelas. Apa? Ngebuat laporan? Itu mah kecil bagiku. Hem..hem..pasanganku sapa yah?
“Bu! Pasangannya milih sendiri – sendiri Bu? Tanya seorang murid setengah berteriak.
“Soal pasangannya, kalian udah ibu pasangin sama kelas lain. Jadi, pasangan kalian nanti beda kelas. Nama pasangannya udah ibu tempelin di papan pengumuman perpus. Nanti laporannya dikumpulin 2 minggu lagi. Nah, sekarang saya mau menghadiri rapat. Jangan ramai ya anak – anak!” tambah Bu Yanik yang terburu – buru segera ingin menghadiri rapat. “BAIK BUUUU!!” jawab murid – murid kompak.
Semua muridpun mulai sibuk sendiri. Ada yang membicarakan dan menebak – nebak siapa pasangannya nanti, adapula yang acuh tak acuh tentang pengumuman Bu Yanik tadi. Oh God..moga aja pasanganku bukan orang – orang yang njengkelin ataupun yang populer. Bisa mati kutu aku nanti.

>>><<< 

Istirahat tiba. Waktu yang menegangkan bagiku untuk tahu siapa pasanganku membuat laporan.  Aku, Rita, dan Siska bergegas menuju perpustakaan dengan hati yang was – was. Ternyata,  di sekitar papan pengumuman perpustakaan sudah banyak orang yang berkerumun. Ada yang masih penasaran dengan siapa pasangannya, dan ada yang berwajah gembira setelah tahu pasangannya, dan ada pula yang bermuka masam.
Selagi Rita dan Siska ikut berdesak – desakkan di antara banyak orang, aku lebih memilih duduk menanti orang yang berkerumun semakin berkurang. Rasanya aku sangat ngantuk. Segera kusandarkan kepalaku di atas tangan yang ku lipat di meja. Fikiranku mulai melayang berusaha membentuk mimpi. Tiba – tiba sebuah sentuhan atau yang lebih tepat disebut dengan nama tepukan terasa di punggungku.
Aku membalikkan badanku berusaha melihat siapa yang menepuk pundakku. “Ihh..ganggu orang aja sih ngga tau orang lagi........................RIKO???” hhah?? Riko? Apa aku masih mimpi ya? Ngga mungkin Riko nepuk pundakku. Untuk memastikannya, akupun mencubit tanganku dan akhirnya.. “Auw..sakit!” ternyata ngga mimpi. Jadi bener tadi itu Riko yang nepuk pundakku.
“Kamu tuh lucu yaa. Ngapain pake nyubit tangan kamu segala? Ni dunia nyata kali, ngga mimpi.” Katanya dengan seulas senyum yang mengembang di bibirnya.
“Ah, hehhe” aku hanya bisa tersenyum kikuk.
“Eh, bener kamu kan yang namanya Naya Enggardini?”
“Ah..hem..iya”
“Kenalin. Aku Riko, Riko Hikmah Pradana. Aku pasangan kamu buat nyusun laporannya Bu Yanik.” Sambil mengulurkan tangannya yang kekar di hadapanku.
“Eee..ee.. aku Naya, tapi Naya Anggardini, bukan Enggardini.” Kataku berusaha menyembunyikan kegugupan yang dari tadi menyelimuti tubuhku.
“Yaellah.. dikit doang juga. Eh, kaki kamu masih sakit ngga. Maaf ya soal yang tadi.”
“Udah ngga papa kok. Gimana nih nyusun laporannya? Kapan kamu bisa ngerjain bareng?”
“Hari ini aku full. Kalo besok gimana? Kamu bisa kan? Kalo tempatnya sih terserah kamu aja, aku ngikut. Yang penting tempatnya harus penuh inspirasi.”
“Haaa? Tempat yang penuh inspirasi? Mana ada tuh?”
“Pokoknya harus ketemu. Ehmm, aku pergi dulu yaa, mau latihan basket. Met nyari tempat yang inspiratif!” Diapun pergi dengan seulas senyum yang masih setia bertengger di bibirnya. Cowok yang mempesona, pokonya bener – bener shining star yang aku dambain deh.  Beruntung banget aku bisa pasangan sama dia. Thanks Bu Yanik. Engkau memang mengerti isi hatiku.
“HAAYYYYOOO!!!!” teriak seseorang yang ternyata Siska dari belakang mengagetkanku. Sontak aku terlonjak dari bangku yang sedari tadi kududuki. “Waduh. Yang lagi berflower – flower dapet pasangan Riko nih!” Goda Siska.
“Haa?? Siapa lagi yang berflower - flower? Biasa aja tuh” kataku bohong.
“Aaaaaa...ketahuan tuh bo’ongnya” Ritapun ikut – ikutan menggodaku.
“Siapa juga yang bo’ong? Aku itu serius.”
“Kamu tuh ngga bisa bo’ong ma kita – kita..jujur aja napa” ujar Siska.
“Iya deehhh... aku ngaku. Aku emang tadi sedikit berbunga – bunga. Tapi inget! SEDIKIT!! cuma sedikit doang!”
“tetep aja kan namanya berbunga – bunga..ahay!” ujar Rita.
“Eeh..gimana kalau kita hari ini jalan? Kemarin baru dateng barang – barang baru lho! Trus ada juga barang bagus yang diskonan! Diskonnya hampir 70% lho!!” ujar Siska yang sekarang merangkap menjadi sales butik gadungan.
“Ehmm..sory Sis aku gak bisa. Aku sibuk banget hari ini” ujarku sambil menatap Siska prihatin.
“Lagian juga kalo ngga ada Shofa kan ngga asyik. Masa Cuma kita bertiga?” Ritapun juga sependapat denganku.
“Yaaaaaaaaahhhhhhh........” dengus Siska berat. Rasanya aku kasihan sama sahabatku yang satu ini. Dari kami berempat, memang Siska yang paling muda, paling manja dan paling gila belanja. Terkadang, tingkahnya juga suka nyebelin. Aku suka dibuat jengkel karna tingkahnya itu. Tapi walaupun begitu, dia tetep temen kami yang paling nyaman buat diajak curhat, karna kedewasaannya yang tiba – tiba muncul tanpa disadari. “Hmmmmm.. Ok deh. Nanti kalo Shofa dah balik dan kalo aku lagi ngga sibuk, kalian semua aku traktir deh. Sepuas kalian.” Usulku dengan kerlingan mata dan senyuman yang mengisyaratkan sesuatu. “Beneran?? Kamu ngga bo’ong kan? Yeeiy!” ujarnya senang dengan tawa kecilnya. “Iya. Aku janji”

>>><<< 

Malam ini rumahku terasa sepi, papa dan mamaku pergi ke acara makan malam di rumah relasinya papa. Sedangkan Kak Rio, dia asyik main PS di rumah Doni tetangga sebelah. Heemmm..malam ini bener – bener kalabu. Aku melangkahkan kakiku menuju gasebo dekat kolam renang di halaman belakang rumahku. Gasebo rumahku. Dimana aku dan keluargaku biasa berkumpul, dimana tempatku melepas canda dengan temanku, dan tempat dimana pula aku sering melepas sedih dan penat.
Drrttt...drrtt...hpku bergetar. 1 new mesage. Tumben ada sms malem – malem gini, kalo ngga Shofa, Siska, atau Rita mungkin aku ngga ada yang sms malem – malem gini.
From: 089xxxxxx
“Hi Nay! Dah tidur lum?” haa? Nomor baru, siapa yaa?
To: 089xxxxxx
“Lum koo.. ni sapa yaa?”
From: 089xxxxxx
“Aku Riko. Gimana, dah dapet tempatnya lum?”
Sebelum kubalas, nomer itu ku simpan dengan nama Riko.
To: Riko
“oouwh.. Riko. :( lum tuh.. kamu sih aneh – aneh mintanya..”
From: Riko
“hehhe :).. coz kalo ngga tempat yang inspiratif aku ngga bisa mikir. Sekali lagi sory yaa..”
To: Riko
“Sory kenapa? Kan tadi kamu udah minta maaf soal yang njatuhin bukumu ke kakiku?”
From: Riko
“Ya sekarang beda dong. Yang sekarang aku itu minta maaf karena dah ngrepotin kamu.. Eh, dah ngantuk lum?”
To: Riko
“:) OK deh aku maafin.. :( udah sih dikit”
From: Riko
“Aku juga sih.. ya udah deh, kamu tidur aja. Kan besok masih sekolah. Ntar capek lho. Sweet dream”
To: Riko
“iia.. you too :)”

Senyumku langsung mengembang begitu menyelesaikan percakapan via sms tadi. Rasanya ada suatu aliran yang berbeda saat melakukan aktivitas tadi. Ooh God... apakah ini namanya cinta?
“Egghhhhheeeeeemmmmm” sebuah dehaman yang ku kenal menyadarkanku dari lamunan sesaat tadi. “Ehh, Kak Rio. Ngapain di sini Kak?”
“Kamu tuh yang ngapain di sini? Udah malem bukannya tidur malah nangkring disini. Mana tadi pake senyum – senyum lagi pas baca sms. Pasti dari pacar kamu deh.”
“Haaah? Pacar? Aku ngga punya pacar lagi. Kan aku masih imut – imut, jadi ngga boleh pacaran dulu.” Kataku serambi memamerkan wajah imut – imutku ini.
“Iya deh kamu emang imut. Tapi, karna kamu terlalu imut itu aku jadi mual.”
“Ihh, Kak Rio tuh gag asyik deh. Eh kak, tempat yang inspiratif itu dimana yaa?”
“Buat apa tempat inspiratif?”
“Buat kerja kelompok. Temen aku tuh aneh. Mau kerja kelompok kok pake nyari tempat yang inspiratif segala!”
“Pasti temen kamu itu cowo...hayoo ngaku”
“Ah udah deh.. kan kaka cuma jawab doang!” kataku dengan muka agak merah.
“Tempat yang inspiratif yaa? Itu sih ada banyak. Tapi tergantung kamunya juga. Gini deh, tempat inspiratif itu tempat yang sering kamu kunjungin di waktu kamu lagi kusut. Lhaa.. pasti kan ada tuh tempatnya.”
“Oooooo..” aku hanya membulatkan mulutku.
“Ah udahan yaa. Aku mau tidur dulu, ngantuk. Met berfikir yaa my little princess” katanya sambil mengacak – acak rambutku yang halus ini.
Sambil merapihkan rambut, aku berfikir keras mencari tempat inspiratif yang dibutuhin Riko. Angin malam yang dingin menghembus menerpa tubuhku. Mendadak aku jadi menggigil kedinginan. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam dan menghangatkan diri. Ditemani segelas coklat hangat dan setoples biskuit aku berusaha mencari tempat yang dimaksud Riko. “Ahh! Aku tahu!” kataku girang

>>><<< 

Matahari serasa datang lebih cepat melebihi piket terbitnya setiap hari. Mataku yang masih berkantung dan semangat belajar hanya 10% dari biasanya aku memasuki kelas. Kenapa sih tadi malam aku rela berfikir mati – matian sampai malam hanya untuk nyari tempat inspirasif? Huh betapa tololnya aku. Tapi, tak apalah, yang penting kan sekarang aku dah dapet tempatnya.
“Habis piket jaga ronda semalam Nay?” kata Siska asal “Lihat tuh, mukamu kusut banget” tambahnya.
“Ya nggak lah. Ogah gilla!” kataku sambil duduk dan bersandar di tembok. Aku mencoba melanjutkan tidurku dan kembali ke tempat yang penuh imajinasi.
“Lha terus? Kamu ngapain aja semalem sampe mukamu kusut banget?” Siska mengerutkan keningnya. “Aku tadi malem nyari tempat yang inspiratif”
“Tempat yang inspiratif? Buat apa Nay?”
Oh ya! Aku lupa belum bilang soal aku lagi nyari tempat yang inspiratif. “Aku disuruh Riko. Katanya kalo kerja kelompok dia maunya di tempat yang inspiratif.”
“haah..ehem..Riko?” katanya jahil. “Dah nemu tempatnya lum?” katanya lagi.
“Udah sih..”
Kami pun melanjutkan obrolan kami sampai Bu Heni datang. Aku mulai menelungkupkan kepalaku begitu Bu Heni mulai mengajar. Aku berusaha mengumpulkan tenaga agar bisa melewati jam – jam selanjutnya.

>>><<< 

Masih dengan semangat yang kendur aku tertahan di kelas. Rasanya ngga ada aktivitas yang bisa membuatku bangkit lagi hari ini. Semua anak – anak mulai meninggalkan sekolah. Rita dan Siska juga sudah kembali ke rumahnya masing – masing. Hanya aku yang masih di kelas karna malas untuk beranjak.
“Hy Nay...”
“Haah iya..” aku berbalik dan ternyata......Riko sudah berada tepat di belakangku dengan seulas senyumnya yang sangat manis. Kenapa sekarang aku merasa ngga bisa melepaskan pandanganku pada senyum itu?. “Shining Star..?”
“Haah? Shining star? Kamu kenapa? Ngga enak badan? Aku cariin kemana – mana, ehh taunya kamu lagi di kelas”
“Ahh enggak. Aku ngga papa kok”
“Ohh, ya udah. Jadi ngga nih nyusun laporannya? Kamu dah nemuin tempatnya kan?”
“Udah dong..”
“Yuk! Kita berangkat sekarang” kata Riko. Entah sadar atau nggak dia menarik lenganku. Sempat terfikir untuk melepaskan genggamannya itu. Akupun menghentikan langkahku. Membuatnya bingung.
“Kenapa Nay?” sebagai jawabannya aku menunjuk ke arah tangannya dengan daguku.
Riko membulatkan matanya. “Ah eh..Sory.” Kepalanya menunduk malu dan senyum yang begitu manis sekarang telah berubah jadi kecut.
“Ga papa kok.. Jadi ngga nih?” tanyaku.
“Jadi dong..” dia mempersilahkanku jalan terlebih dahulu ke parkiran untuk mengambil motornya. Sekilas aku melihatnya dari kaca – kaca kelas yang kulalui. Sayu – sayu pipinya terlihat merah dan dia sedang menggaruk tengkuknya sambil tersenyum kecil. Orang aneh.

>>><<< 

Kami sampai di sebuah bangunan yang berwarna putih dengan taman kecil yang dilengkapi kolam ikan dan sebuah ayunan di depannya. Ya, rumahku. Rumah yang selama ini ku huni dengan keluargaku.
“Ini rumah siapa Nay? Rumahmu? Ngapain ke rumahmu? Kan aku pengennya di tempat yang inspiratif.” Serbu Riko dengan sederetan pertanyaan.
“kalo tanya satu – satu dong. Jangan main serbu aja! Masuk yuk!”
Rikopun mengikuti langkahku untuk memasuki rumah. Dengan lembut kami menyalami mamaku yang berada di depan televisi dan minta izin untuk kerja kelompok. Dengan segera kami menuju halaman belakang. Disana kami duduk di gazebo dekat kolam dan dikelilingi oleh taman yang menurutku indah.
“Ini tempat inspirasif yang aku maksud.” Kataku membuka percakapan.
“Indah.”
“Thanks yaa, aku sama keluargaku sendiri yang nata tempat ini”
“Ooou.. keliatannya tempat ini bukan hanya bakal nginspirasi kamu aja deh. Tapi aku juga” ujar Riko tulus. Tanpa kusadari senyumku mengembang begitu mendengar perkataan Riko tadi. “Itu pasti!”
Kamipun mulai membahas konsep laporan yang akan kami buat. Satu – persatu buku kami buka untuk mencari bahan. Suara angin yang berhembus pelan senantiasa menemani kami. Sesekali aku melirik raut wajah Riko yang mulai serius dan membuatku ingin terkekeh sendiri. Dengan cekatan ia membaca buku dan memahami isinya.
“Nah hari ini dah cukup segini aja. Selanjutnya dilanjutin ntar aja” saran Riko begitu ia selesai menutup laptopnya.
“Oke deh, aku ngikut kamu. Yang penting ni laporan bisa selese.”
“Ya udah, kalo gitu aku pulang dulu ya. Salam buat keluarga kamu.”
Rikopun pergi dengan seulas senyum yang sangat indah dan menawan. Pasti setiap wanita yang liat senyuman itu bakal lumer. Seperginya Riko aku duduk – duduk di ayunan taman. Aku berfikir, setelah melakukan aktivitas tadi bersama ‘My Shining Star’, rasanya ada hal yang berbeda pada diriku. Menjadi lebih bergairah dan lebih semangat untuk menempuh hidup. Apa itu yang namanya cinta?

>>><<< 

Malam ini aku lebih memilih membaca komik yang belum sempat kubaca. Tubuh kusandarkan di dinding kasur dan mulai membaca. Sesekali aku menyeruput coklat panas yang telah kusediakan khusus untuk membaca komik. Tak lupa setoples makanan ringan ikut kulahap. Masih terfikir kegiatanku dengan Riko tadi. Mungkin hal itu tak akan pernah terlupa dalam benakku. Rasanya jika dengan Riko, semua hal dapat kulakukan dengan mudah.
Drrrttt..drrtt..
1 new message. Segera kuraih handphone yang sedari tadi kuletakkan di meja belajar. “Riko..” kataku begitu melihat nama yang tertera pada layar handphoneku. Ada rasa tak percaya dan senang begitu melihat pesan itu ada di kotak masukku. Dengan cepat kubuka pesan itu.
From Riko:
“Hai Nay! Gi ngapain?”
To Riko:
“Hy jga :). Lagi baca komik aja.”
Acara sms-an pun berlanjut sehingga komik yang tadi kugeluti terbengkalai begitu saja. Ada rasa senang yang menyelimuti hatiku sewaktu melakukan aktivitas sms-an itu. Begitu sms Riko yang terakhir kuterima, akupun tertidur pulas. Aku yakin, malam ini aku akan mimpi indah seindah bintang yang bertaburan menghiasi gelapnya malam.


>>><<< 

Hari demi hari sering kulewati bersama Riko untuk membahas laporan yang akan kami kumpulkan pada Bu Yanik. Perlahan – lahan aku mulai menunjukkan rasa simpati dan empatiku padanya. Tak lupa kukirimkan sinyal – sinyal rasa sukaku padanya. Aku merasa bahwa suatu saat nanti Riko pasti akan membalasnya. Bukan karna terlalu PD. Tapi, karna kedekatan kami. Kami sudah sangat dekat dan pasti akan menuju arah yang sudah bisa ditebak.
PACARAN. Ya, aku sangat menginginkan hal itu terjadi. Tapi entah mengapa aku mulai merasa bahwa semua ini flat. Tak ada kata yang terungkap dari bibir Riko yang menunjukkan bahwa dia suka padaku.

>>><<< 

Hari ini Shofa balik, tepat 2 hari sebelum weekend. Aku, Siska, dan Rita sudah menyusun jadwal yang akan kami lakukan begitu sepulangnya Shofa dari Bandung. Shopping, makan – makan, nonton, dan aktivitas lainnya sudah tersusun rapi dalam pikiran kami.
“Hi guys!!!!! Kangen ngga sama aku?” sapa Shofa begitu sampai di kamarku, markas besar ‘Jenggo Sekawan’ tanpa mengetok pintu dulu.
“Shofa?!!” kamipun berhambur menuju Shofa yang tepat berada di depan pintu.
“Shofa. Kok kamu di Bandungnya lama amat sih? Kita kan kangen banget.” Ujar Siska begitu melepaskan pelukannya dari Shofa.
“Iya Sop. Tanpa ada kamu rasanya sepi banget.” Ujar Rita kemudian.
“Waduh.. sory.. sory.. Oma aku lagi sakit, trus diopname di rumah sakit.” Jawab Shofa agak menyesal.
“Nggak papa kok Shof. Trus Oma kamu sekarang gimana?” Tanyaku.
“Oma aku udah baik – baik aja kok. Dia udah bisa keluar RS dan rawat jalan.”
“Moga Oma kamu cepet sembuh yaa.” Ujar Siska tulus.
“Egh, kita hang out yuk. Kita kangen hang out ma kamu Shof.” Kataku mulai menyemangati hari.
“Oke. lets go!!!!!” jawab mereka. Kamipun mulai menancapkan gas untuk hang out bersama melepas kangen. Dari beli baju, nonton, makan, beli buku, semua bakal kita lakuin bersama. Tanpa ada yang bisa ganggu.

>>><<< 

Aku mulai menghentikan jemariku yang telah lelah mengetik. Perlahan kututup laptop yang sedari tadi kutekuni. Pikiran yang kusut membuatku merasakan rasa haus yang sangat teramat. Kulangkahkan kakiku menuju kantin untuk melepas dahaga.
Sekolah terlihat sepi sekarang. Benar saja, sekarang sudah pukul 4 sore tepat. Hanya murid yang sedang ekskul saja yang masih berkeliaran di sekolah jam segini. Setelah kupesan segelas milkshake lengkap dengan sebungkus biskuit coklat, aku mulai memilih tempat duduk yang sekiranya nyaman untuk disinggahi. Kufikir, tempat duduk yang menghadap taman cocok untukku melepaskan penat.
Begitu duduk mataku seperti tak mau lepas pada suatu pandangan, tanpa kusadari tanganku meremas sebungkus biskuit coklat yang ada di tanganku. Aku melihat 2 sejoli yang sedang bergurau di sebuah bangku taman tepat di bawah pohon. Rasanya dinding hatiku mulai runtuh begitu melihatnya. Riko dengan seorang gadis. Gadis yang sangat lekat denganku. Ya, SHOFA. Mereka terlihat sangat akrab dan terkesan seperti orang pacaran.
Hatiku mulai gelisah sekarang. Apa maksud dari semua ini? Akupun mulai pergi dari kantin dan juga sekolah. Aku berasa tak karuan. Rasanya, air mataku ingin mengalir deras. Menumpahkan semua perasaan yang ada.

>>><<< 

Malam ini cuaca mendung, semendung hatiku yang sedang galau. Peristiwa tadi senantiasa melayang – layang di fikiranku. Aku memang bodoh. Dengan gampangnya aku menyimpulkan bahwa Riko suka padaku. Seharusnya aku sadar kalau Riko itu cowok perfect yang sangat bersinar di antara bintang yang lain dan digilai banyak cewe, sedangkan aku? Aku hanya cewe biasa yang terlalu berharap pada Riko.
Kalau aja aku bisa kembali ke masa lalu. Pasti, aku akan menghapus rasa sayangku pada cowok itu jauh – jauh hari. Namun, aku tak bisa kembali ke masa yang menurutku indah, tapi itu dulu.
Drrrtt..drrtt.. sebuah tanda dari handphoneku yang berarti ada pesan masuk. Begitu kulihat layarnya, aku hanya menelan ludah. Riko. Lagi – lagi ia berusaha menghubungiku. Tak seperti biasa, kini aku mulai mengabaikan semua pesan dan panggilan dari Riko. Sejak dari sore tadi ia telah mengirimkan beberapa pesan dan beberapa panggilan.
Apa mungkin dia penasaran aku ngga ngebales smsnya yaa? Karna dulu, ngga pernah ada kata ‘ngga ngebales pesan dari Riko’ di kamusku. Kini aku harus bisa membiasakan diri menjaga jarak darinya. Dari cowok yang udah membuat cinta pertama yang baru kurasakan kandas.
Awan yang semulanya mendung, kini mulai membuahkan rintik – rintik hujan. Tanpa terasa air mataku mulai mengalir perlahan seperti gerimis malam ini. Aku mendekap lututku sebagai sandaran. “Kenapa sih Rik? Kenapa kamu suka ngasih harapan ke aku dengan sinyal – sinyal yang susah buat diartiin? Kenapa sih kamu ngedeketin sobat aku sendiri? Kenapa ngga yang laen aja? Kenapa Rik? Kenapa???!!” kataku lirih dengan air mata yang semakin deras mengalir membasahi pipiku.

>>><<< 

Aku melangkahkan kakiku letih menuju kantin. Hari ini semua jam pelajaran kosong. Aku lebih memilih menyendiri di kantin untuk memulihkan semangatku yang telah pupus. Pupus, pupus karna  cinta yang kandas begitu saja.
“Woy Nay!! Di sini kamu rupanya? Kita dah cariin kamu kemana – mana. Eeh taunya kamu malah disini.” Ungkap Rita beberapa detik setelah aku duduk.
Aku hanya  tersenyum simpul menanggapi perkataan Rita. Malas bagiku untuk berbicara sekarang. Terlebih pada Shofa. Entah mengapa aku jadi ikut – ikutan menjauhi dia yang tak tahu apa – apa. Kubiarkan mereka bercakap dan bergurau bersama. Kini hanya aku dan duniaku sendiri.
“Nay, kamu kenapa? Kok keliatannya murung terus? Kamu sakit?” tanya Shofa yang sadar bahwa ternyata dari tadi aku terus terdiam.
“Ngga papa kok Shof, nyantai aja kali. Lanjutin aja ngobrolnya.” Jawabku.
“Ngga papa gimana?! Dari tadi kamu murung terus lho Nay.” Ujar Rita yang ikut – ikutan mengomentariku.
“Kan aku dah bilang ngga papa. Kalo aku bilang ngga papa ya ngga papa!” Aku menghentakkan kaki dan bergegas menjauh dari para sahabatku. Rasanya muak mendengar pertanyaan – pertanyaan yang ngga penting kaya tadi. Sebaiknya aku harus bergegas menjernihkan pikiranku dan mulai bisa menerima kenyataan.

>>><<< 

Suasana taman sekolah hari ini tergolong sepi dari biasanya. Semilir angin yang berhembus menerbangkan beberapa helai rambutku. Rasanya, hatiku mulai kembali seperti semula begitu melihat ikan – ikan yang sedang bermain di kolam. Pemandangan yang sangat aku butuhkan sekarang.
“Hi Nay! Boleh minta waktunya bentar ngga?” kata seseorang yang................. sekarang sedang kujauhi. Riko. Raut muka yang tadi mulai cerah kini kembali muram begitu melihat sosok cowok yang dulu begitu kugilai.
“Ehm, Riko? Boleh kok. Mau ngapain?”
“Ehmm....ehmm....ehmmm....”
“Jadi ngomong ngga nih?” kakiku segera ingin beranjak. Dengan sigap tangan kekar cowo itu menahan lenganku, dan berkata. “Aku suka sama kamu.”
Dhueerrrrr...! rasanya ada petir yang menyambar kepalaku seketika. Ga percaya. Itu kata pertama yang muncul.
“Iya. Aku suka sama kamu Naya Anggardini. Bener – bener suka. Mau ngga jadi pacarku?” katanya dengan mantap untuk lebih meyakinkanku.
Lidahku rasanya kelu. Andai aja kamu bilang itu sebelum kamu deket sama Shofa. Pasti aku langsung bilang ‘Iya’ tanpa pikir panjang lagi. Tapi, sekarang dah beda. Kamu bukan lagi penghuni hati yang dah ketutup ini.
“Gimana? Kamu mau? Mata Riko semakin melekat memandangku. Aku semakin bingung dengan perkataan Riko.
“Shofa...?” hanya kata itu yang ku ucapkan. Wajah Riko menampakkan raut yang bingung. Seketika ia menoleh ke arah sekitar kami berdiri. Mungkin ia mengira ada Shofa di suatu tempat di antara kami, karna tadi aku menyebut nama itu.
“Iya, Shofa. Ngapain kamu kemarin ndeketin dia, kalo emang sekarang kamu mau nyatain ini semua?” jelasku.
“Ough.. maksud kamu waktu kemarin aku sama Shofa lagi di taman itu?”
“He’em. Ngapain kemarin kamu ngobrol sama dia? Keliatan kaya orang pacaran malah.”
“Ough.. jadi sekarang kamu cemburu nih?”
Perkataan yang sangat tepat sasaran. Apa mungkin dia bisa baca fikiran? Agh ngaco ah, masa Riko bisa baca fikiran orang. Cepat – cepat segera ku tepis perkataan Riko tadi, “Nggak lah. Itu kan hak kamu buat deket ma sapa aja. Ngapain aku harus pake cemburu segala? Kamu kan bukan sapa – sapa aku.”
“Emang itu tujuan aku.” Kata Riko singkat. Aku hanya terperangah mendengar kata – kata tadi.
“Iya. Ngebuat kamu cemburu. Itu tujuan aku sebenernya.”
“Buat apa? Ngapain kamu mau bikin aku cemburu?”
“Karna selama ini aku fikir kamu ngga ngerespon sinyal – sinyal dari aku. Maka dari itu, aku coba ngebuat kamu cemburu dengan cara ndeketin Shofa. Sahabat kamu. Alhasil, kamu beneran cemburu kan?”
WHAT??! Ngga nangkap sinyal apanya? Ngapain coba selama ini aku selalu salah tingkah kalo aku ketemu dia. Terus, selalu ngebales sms-nya dia mpe malem banget, sampe sekitar jam 2 pagi malah. Apa itu kurang cukup membuktikan kalo sebenernya aku tuh care sama dia?
“Terus Nay, gimana? Kamu mau jadi pacar aku ngga?”
“Sory Rik. Aku ngga bisa.”
Riko hanya melongoh mendengar pernyataanku tadi. Ditolak. Mungkin kata itu ngga pernah terjadi pada Riko. Bayangkan, seorang cowok yang keren abis ditolak ama cewe yang biasa – biasa aja kaya aku.
“Apa?! Kenapa kamu nolak aku?! Aku bener – bener serius!” kata Riko sambil melekatkan pandangannya.
“Sory Rik. Tapi, makasih. Makasih banget karna kamu bisa sayang sama aku. Makasih juga karna kamu udah ngebuat hariku akhir – akhir ini jadi lebih berwarna.”
Pandangan Riko mulai melemah. Dia mundur setengah langkah dan mencoba mulai menyusun kata. “Kenapa? Apa kamu bisa nerangin ini semua ke aku? Aku butuh penjelasan dari kamu!”
“Shofa. Shofa berharap banget sama kamu. Aku tahu dari pandangan mata dia saat mandang kamu kemarin. Juga dari bahasa tubuh dia ke kamu kemarin. Itu semua ngga pernah aku lihat sebelumnya. Sebelum dia ketemu kamu.”
“Tapi, aku sayang sama kamu. Apa kamu rela aku sama Shofa?”
“Aku rela ko. Kalau kamu emang sayang beneran sama aku. Tolong, kamu coba belajar untuk menyayangi Shofa juga.”
Kami terdiam. Mencoba memahami semua ini. Perlahan kami mulai terbang dengan fikiran kami sendiri. Fikiran tentang kejadian yang baru saja terjadi. Dan mungkin, kejadian yang mampu membuat Riko sesaat terpuruk. Sampai seorang wanita cantik menghampiri kami.
“Kalian? Ngapain kalian berdua disini?”
“Shofa?” Aku dan Riko bingung dan berusaha mencari alasan yang tepat.
“Ehmm.. tadi Riko lagi tanya sesuatu soal tugasnya Bu Yanik. Kan aku satu kelompok sama dia. Iya kan Rik?” aku memberi isyarat pada Riko untuk mengikuti perkataanku.
“Ah ehm.. iya Shof. Tadi itu aku nanyain soal tugas dari Bu Yanik yang belum kelar.” Kata Riko sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Oh.. ya udah deh.”
“Eh, aku pergi dulu ya. Aku laper, mau ke kantin beli makanan buat ganjel perut. Kalian disini aja ngobrol berdua.” Kataku mencoba melarikan diri dari mereka.
“Ya udah deh. Lagian tadi Rita sama Siska nyariin kamu.” Sahut Shofa.
“Bye!” akupun mulai menjauh dari mereka. Belum selesai langkahku berpijak, aku berbalik ke belakang. Kulihat Riko menatapku dengan pandangan yang lirih, tidak seperti biasa. Aku agak ngga enak sama Riko. Tapi apadaya, ini jalan yang kupilih. Mulai sekarang aku harus belajar melupakan kamu, senyummu, dan juga tawamu yang dulu slalu kau limpahkan padaku. Melupakan semua kenangan yang singkat namun berarti bagiku. Melupakan setiap detik yang membuat hatiku berdebar tak karuan. Selamat tinggal Riko. Selamat tinggal cinta pertamaku. Selamat tinggal My Shining Star.

*TAMAT*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar