oleh Dyas Aliffauzan
oke langsung aja baca ya
enjoy it!
*****
mungkin ini memang jalan takdirku
mengagumi tanpa di cintai
tak mengapa bagiku
asal kau pun bahagia dengan hidupmu, dengan hidupmu
telah lama kupendam perasaan itu
menunggu hatimu menyambut diriku
tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah bahagia untukku, bahagia untukku
ku ingin kau tahu
diriku di sini menanti dirimu
meski ku tunggu hingga ujung waktuku
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja
lagu itu terngiang di telinga gabriel. Lagu yang dalam beberapa bulan ini terus dia putar. CINTA DALAM HATI. 3 kata magic yang membuat semua orang bisa berubah. Gabriel sendiri bingung apa makna dari 3 kata itu. kata yang indah namun sangat menyakitkan bila di rasa. Mungkin memendanm cinta tidak selalu buruk. Terkadang memendam perasaan itu adalah hal yang terbaik. Gak selamanya perasaan itu harus diungkapkan. Apalagi jika itu gak memungkinkan. Yah… cinta tak harus memiliki. Mungkin itu yang paling simple. Tapi apa semua orang bisa menerima kata itu?
Gabriel melirik arlojinya yang masih berdetak di angka 11. Pikiran cowo itu sedang terbang bersama laju mobilnya yang tidak terlalu kencang. Rasa gelisah menyelimuti hatinya. gabriel berpikir kenapa cinta itu harus rumit?? Serumit benang wol yang dililit kusut. Susah untuk mengurainya apalagi membuatnya menjadi indah. Tapi apapun itu cintanya saat ini tanpa alasan. Cinta dalam hatinya!! mungkin menyimpan cinta dalam hati sesuatu yang abstrak. Apalagi untuk cowok! Semua akan menganggap gabriel tidak gentle karena hanya bisa memendam perasaannya, tapi bukan itu alasan kenapa dia melakukannya. Bukan karena takut! Tapi memang belum saatnya dan gabriel gak mau kalau perasaannya dapat membuat orang lain terluka
Handphone gabriel bergetar. Diliriknya hp yang berada di atas dasbord. Seketika itu wajah muramnya berubah ceria
“iya hallo vi?”
“yel, cepet ke kampus. Gue mau cerita”
“apa?”
“ada deh. Cepet y ague tunggu. Bay”
Sambungan telfon terputus. Gabriel kembali meletakan Hpnya. Senyumnya yang sumringah kini berubah jadi kecil. Tapi toh itu gak mengurangi rasa bahagia dalam hatinya. cinta emang berjuta rasanya. Hal yang bisa membuat kita jadi aneh… terutama gabriel. Entah kenapa dengan mendengar suaranya di telfon itu sudah cukup memberi bunga dihatinya. Kedengarannya konyol tapi semuanya memang realita. Cowo itu kembali focus pada lagu cidaha yang masih dia putar. Kebiasaan barunya. Memutar lagu itu berulang-ulang. Mungkin benar kita bisa meluapkan perasaan dengan bernyanyi. Yah itu baik kan dari pada gak meluapkannya sama sekali.
Tanpa terasa Honda jazz hitam itu telah menginjak area parkir. Melamun memang membuatnya terasa cepat
gabriel berjalan kearah taman kampus. Sebenarnya hari ini dia ingin libur. Toh sekarang hari sabtu tapi gabriel sengaja ke kampus untuk mengurus senatnya. Dan satu lagi alasan gila cowo itu………….
“iyel….” senyumnya kembali merekah. Di otaknya kembali terngiang lagu yang beberapa menit lalu dia dengar
“hai vi” cowo itu berjalan kea rah bangku panjang. Tempat seorang gadis menunggunya
“dateng juga loh. Eh gue mau cerita loh…” sivia. cewe itu tersenyum manis. Senyumnya sudah sangat terekam dalam otak gabriel
“tentang apa vi?”
“shilla” mendengar nama itu terlontar dari mulut sivia. senyum di bibirnya mendadak surut. Gabriel sudah bosan mendengar cerita sivia tentang shilla. ya memang itu bukan salah sivia tapi… ahhh andai aja sivia tau yang sebenarnya
“yel… shilla tuh beneran suka sama lo. Dia sayang sama lo tulus. Lo gak tau ya dia tuh seneng banget kalo lo ada dideketnya. Dan satu lagi. Elo first love dia. Bayangin yel. Betapa berharganya lo buat shilla”
“tapi vi…” ucapan gabriel seperti menggantung. Entah untuk berapa kali dia harus bilang kalo dia menganggap shilla hanya sebatas teman!
“yel… buka sedikit hati lo untuk dia. Pasti lo bisa” sivia memegang lengan kekar gabriel. Jujur itu membuat gabriel sedikit salah tingkah tapi dia berusaha kembali ke alamnya semula
“gak segampang itu… lo harus ngerti posisi gue” suara gabriel begitu lembut. Dalam hatinya dia ingin berteriak kalo hatinya saat ini sudah terisi dan gak mungkin dia ganti dengan mudah. SIVIA. lo orangnya vi…
“gue tau tapi seenggaknya lo bales perhatian dia. Dia sering kan bawain lo makanan,sms lo,dan segala hal yang lo suka pasti dia tau”
Gabriel seperti berada diujung jurang, kebimbangan membuatnya ingin jatuh ke bagian terdalam. Andai sivia tau kalo dialah cinda dalam hati itu, kalo dialah yang gak mungkin membuat shilla lebih dari teman untuknya. Tapi gabriel gak mempunyai keberanian untuk itu. semuanya terlalu rumit untuk terpecahkan
“yel… ko lo malah diem si”
“hmhm gak papa vi”
“ayolah. Lo kan cowo, jangan sampe lo buat hati cewe selembut shilla jadi hancur” sivia menatap cowo itu dalam. Tatapan yang membuat gabriel melayang tapi… bukan itu yang dia mau. Bukan tatapan memohon untuk membuatnya menerima shilla
“itu sama aja gue ngasih dia harapan kosong. Sampe kapan si vi lo harus jadi perantara perasaan shilla ke gue… via cinta itu murni, dan gak selamanya cinta bisa kita bagi dengan siapa pun. Terkadang cinta itu tercipta hanya untuk satu orang”
“gue tau. Tapi gue cewe yel, apa yang shilla rasain bisa gue rasain dan betapa hancurnya dia jika harapannya selama ini sia-sia”
‘andai lo juga tau apa yang gue rasain’ gabriel membatin sambil menatap gadis didepannya nanar. Mengapa sulit untuknya bilang suka dan sayang tapi itu bagus. Artinya cintanya selama ini benar-benar tulus, hingga sulit untuk dia ungkapkan dan berujung pada hal yang bimbang
“pertama dia curhat lewat sms ke gue, gue bisa tau kalo dia bener-bener tulus yel. Perasaannya terlalu lembut”
Gabriel ingat. Semua ini berawal dari pertemuan gak dingaja itu. sivia dengan shilla. mereka memang gak saling kenal tapi gabriel sangat mengenal shilla karena papahnya yang memang bersahabat dengan orang tua cewe itu. sedangkan sivia, dia sudah berteman dengan gabriel sejak SMA gabriel menyesali dunia ini yang terlalu sempit hingga kedua cewe itu bisa berteman. semua berawal dari event di kampus. Sivia yang memang panitia acara itu terpaksa harus bekerja sama dengan shilla. kordinator acara yang sama. Mereka saling cerita hingga bisa berteman seperti sekarang. Dan burukya shilla cerita kalau selama ini dia menyukai gabriel. Kalau boleh jujur gabriel tau itu sejak lama. Shilla yang mengungkapkannya sendiri tapi hatinya memang bukan untuk cewe itu. hatinya hanya untuk satu orang. Cewe yang sejak lama dia perhatikan tapi sayang sangat sulit untuknya menyadari akan perasaan gabriel
“iyel ko lo jadi cowo pelamun si. dari tadi gue tuh ngomong”
“eh sorry. Vi udahlah mood gue lagi ke situ. Meningan sekarang kita ke kantin. Gue beliin lo minum biar lo berenti ngomong soal shilla”
“tapi”
“cukup via… vi andai lo tau kalo gue cape… apa yang selama ini lo bilang bener kok. Kalo gue cowo aneh yang gak bisa nerima cewe setulus dan secantik shilla tapi please semua orang punya persepsi berbeda. Hati gue bukan buat dia… “ entah mendapat keberanian dari mana gabriel berhasil mengungkapkan kegalauan dalam hatinya. Walau gak semua
“iya gue ngerti. Dan semuanya emang ada ditangan lo. Gue Cuma perantara aja. gue gak mau ada cewe yang hancur Cuma gara-gara cinta” suara sivia berubah lirih. Membuat gabriel menatapnya dalam. Ada sebersit sesalnya, mengapa ia bisa membuat sivia seperti itu. tapi gabriel juga berharap sivia tau perasaannya.
“gue ngerti tapi lo juga harus ngerti kalo cinta gak bisa dipaksain. Dan yang namanya patah hati pasti ada”
“iya. sorry ya kalo selama ini gue gak ngerti lo” ungkap sivia dengan seulas senyum
“its oke”
>>>>>>>>>>>>>>
Untuk berapa kalinya gabriel bertingkah autis di kamar. Menulis nama sivia pada selembar kertas, dan tentunya memutar lagu cinta dalam hati yang sudah sangat dia hafal. huh… desahan napas terdengar berat dalam dirinya. Jujur ini sangat membingungkan. Terjebak dalam 2 pilihan yang sudah ada jawabannya, tapi sayang jaawaban itu sangat salah untuk saat ini “if you know that I will always love you. although you would not know it” tulisan itu terpampang jelas di kertas yang sudah penuh dengan nama SIVIA. gabriel merasa dirinya seperti autis yang menunggu cinta. Kenapa si dia harus terlibat dalam hal itu? kenapa dia tidak bisa mencintai satu wanita dengan mudah. kenapa semuanya terasa begitu sulit? entahlah pertanyaan itu. gabriel membirkan pertanyaan itu melayang dalam otaknya tanpa bisa terjawab.
“den gabriel”
“ehm iya bi” dia membalikkan badannya kearah pembantu yang berada diambang pintu
“ada non shilla dibawah”
“oh iya nanti saya kebawah” dengan malas gabriel bangun dari tempat tidur. Kedatangan shilla saat ini bukan yang dadakan, cewe itu sudah menefonnya beberapa menit yang lalu.
“ada apa shil” iyel tersenyum tipis dan duduk berhadapan dengan cewe itu
“aku mau nganterin kamu brownies. Aku tau banget kamu suka brownies” shilla menyodorkan sekotak kue lezat itu. cukup lama gabriel hanya memandangnya. Dalam bayangnya gabriel berharap cewe yang memberikan kue ini adalah sivia.
“hm thanks ya shil. Sebenernya lo gak usah repot-repot”
“iya gak papa kok. Aku kesini usulan dari sivia. katanya papah mamah kamu lagi gak ada dirumah jadi siapa tau aku bisa nemenin kamu”
Okey untuk berapa kalinya gabriel harus mengingat nama itu lagi. Sivia andai elo yang ada disini mungkin gue akan ceria, gak BT kaya gini. Kenapa harus shilla… dan bodohnya kenapa elo yang nyuruh dia dateng kesini. Ungkap gabriel dalam hati
“sivia baik ya… aku seneng bisa temenan sama dia. Anaknya asik,seru,gokil dan satu lagi. Dia pengertian banget. Aku berasa punya kakak”
“iya. sivia emang baik”
“kamu beruntung yel, udah temenan sama dia sejak lama. Aku aja yang baru beberapa minggu udah seneng banget”
Menanggapi ucapan shilla. gabriel hanya tersenyum simpul. Baginya ucapan shilla benar 1000 persen. Dia memang beruntung kenal sivia “shil, lo sering curhat bareng kan sama via. Via sering curhat sama lo tentang apa?”
“via si jarang lebih sering aku. Tapi kalo curhat dia lebih sering mengenai hobbynya dan masalahnya dikampus. Kaya dosen atau pelajaran”
“kalo tentang cinta?” tanya gabriel ragu, dia gak mau salah mengucapkan pertanyaan itu
“hmhm hapir gak pernah si?tapi aku tau via lagi suka sama cowo?”
“SIAPA?” gabriel seperti mendapat duren jatoh diatas kepalanya. Sivia suka sama cowo?? Jujur sejak lama dia berteman dengan gadis itu, dia gak pernah tau kalo sivia suka sama cowo, atau emang siva gak pernah nunjukinnya?
“kok kamu kaget gitu si?”
“hmhm abis aku jarang aja denger sivia lagi naksir cowo”
“kirain kamu… hehe”
“kirain apa shil?”
“kamu cemburu kalo via punya cowo”
Glekkk… ucapan seperti menampar gabriel. Jelas! Gabriel akan sangat cemburu kalo memang cowo itu bukan dirinya
“eh gak mungkin lah. Gue kan Cuma temennya. Shil lo tau gak siapa cowo itu?”
“aku gak tau tapi yang pasti dia deket sama sivia dan mungkin sama kamu sendiri”
“oo..” gabriel membentuk huruf O dimulutnya. Otaknya seperti berputar. Mencari tau siapa cowo yang dimaksud shilla. ‘siapa yang sivia suka?’ pertanyaan itu bergabung jadi satu dalam otaknya
“yel.kuenya gak dimakan? By the way kayaknya aku gak bisa lama. Mamah udah sms nih. Udah malem juga” shilla bangkit dari duduknya
“hm iya. thanks ya shil kuenya”
“oke”
Sepeninggal shilla. gabriel merebahkan tubuhnya di sofa. pikirannya masih berkutat pada pertanyaan tadi. Siapa cowo yang berhasil meluluhkan hati sivia? ahh gabriel merasa malam ini dia gak akan tidur nyenyak
>>>>>>>>>
Panas matahari pagi itu disambut dengan kantung mata hitam. Gabriel baru saja mandi. Tapi sayang kelopak matanya masih saja bengkak karena kurang tidur. Pagi ini gabriel harus pergi. Suatu hal malas di hari minggu cerah apalagi dengan keadaannya seperti ini.
Setelah dirasa rapi, gabriel menuju mobilnya. Dia menarik napas kuat. Hari ini dia akan bertemu banyak orang, dan salah satunya adalah sivia. tapi dengan kondisinya seperti ini gabriel merasa ingin terus dirumah. Memecahkan pertanyaan yang membuatnya seperti orang aneh “oke. Gue bisa bilang kemaren gue begadang nonton film” gabriel menstarter mobilnya, perlahan melajukannya menunju PIM (pondok indah mall)
Kurang lebih 20 menit dia sudah ada di tempat itu. gabriel berjalan santai menuju j-coo. Tempat dia janjian dengan beberapa temannya untuk membicarakan tugas terbaru dari dosen.
“hei. Baru dateng lo” alvin menymbutnya. Gabriel hanya tersenyum tipis,. Hari ini moodnya terlalu jelek
“sorry ya tadi gue bangun agak kesiangan”
“yoi gak papa kali kita juga belum mulai. Masih nunggu rio” sahut zevana membuat gabriel mengangguk pelan
“yel ko mata lo item gitu si. kurang tidur?” tanya sivia yang memang duduk berhadapan dengan gabriel
“hmhm iya. semalem gue nonton film sampe larut” akhirnya gabriel memakai jawaban itu. menurutnya itu jawaban bohong terbaik
“oo… kirain ngapain”
“alah… paling ngeronda bukannya nonton film” sahut alvin enteng.
“yee emang gue kaya elo vin tukang ronda alias hansip”
“kata siapa gue hansip,. Gue penjaga keamanan”
“udah jayus banget si kalian berdua” zevana menengahi. Bercandaan cowo-cowo emang aneh, keliatan jayus abis
“eh rio dateng tuh” semua menoleh keraah rio. Cowo tinggi itu sekarang duduk disebelah sivia. wajahnya terlihat seperti menyesal “sorry ya gue telat. Nyokap gue minta nganterin ke salon dulu”
“its oke yo. Kita juga belum mulai” ujar sivia melirik rio disebelahnya. Gabriel yang memang saat itu berada didepan keduanya jelas menangkap atmosfer baru dalam diri sivia. entah apa itu… tapi yang pasti sivia berubah canggung. Gabrel kenal sivia lama dan dia tau cewe itu berubah tegang seperti berada disebelah dosen killer
Setelah makan kecil kelima mahasiswa itu melanjutkan tujuan mereka ke sini. Mengerjakan tugas!. Cukup sering perdebatan terjadi. Terutama masalah konsep dan isi. Semuanya punya pendapat masing-masing konsentrasi gabriel seperti terpecah saat itu. dia benar-benar menangkap hal yang ganjal. Sivia berubah!! Biasanya dia kritis dalam menyampaian pendapat tapi sekarang dia seperti menuruti pendapat rio!. Bukan seperti sivia yang biasanya. entah gimana gabriel mempunyai pendapat sivia menyukai cowo itu! tapi apa mungkin? Sedangkah sivia pun jarang ngobrol atau main dengan rio
…………………………
“via gue mau tanya sesuatu sama lo?” gabriel membuka pembicaraan. Saat ini dirinya dan sivia sudah selesai dari pekerjaan tadi. Mereka berdua asik jalan di mall sambil menikmati sebuah ice cream sementara yang lain sudah pulang beberapa waktu lalu
“apa yel?”
“gue ngerasa tadi lo berubah”
“hah? Berubah gimana?” sivia seakan tak mengerti maksud gabriel
“biasanya lo paling rajin kalo ngasih pendapat tapi tadi ko lo kalem aja ya dan lebih nurut sama pendapatnya rio”
Tibatiba sivia berhenti. Tenggorakannya serasa tersangkut “ko lo bisa punya pendapat gitu yel”
“tuh kan lo jadi kaget gitu. Ya gue ngerasa aja. ada atmosfer yang beda kalo lo deket sama rio”
“siapa yang kaget… lagian beda gimana kayaknya biasa aja” sivia kembali berjalan. Dia berusaha menyusun jawaban jika nanti gabriel bertanya seperti tadi
“gak usah boong gitu kali… gue kenal lo udah lumayan lama dan gue tau kalo lo tadi saltng dan canggung. Apa lo suka sama rio?”
UHUKKK…sivia tersedak hebat. Dia gak menyangka gabriel akan langsung menanyakan pertanyaan itu
“lo gak papa kan vi?”
“gak papa. Lagian pertanyaan lo aneh” elak sivia berusaha bersikap biasa
“tapi bener kan?” tanya gabriel takut. Please jawab enggak vi atau lo bakal bikin hati gue hancur
“hmhm gue…. Kalo boleh jujur iya”
Sebuah jawaban yang membuat gabriel lemas, jawaban menampar dan sangat menyakitkan. “kok bisa?” suaranya pelan dan nyaris tak terdengar
“gue sendiri gak tau yel.tiba-tiba perasaan itu dateng aja”
“oke… terus sekarang?”
“gue gak tau. Yah biar ajalah rio tau dengan sendirinya”
Gabriel mengangguk lemah. Jawaban sivia sudah cukup menjelaskan semua. Entah gimana hatinya saat ini. Hancur, terluka atau sakit? gabriel rasa semuanya ada. Patah hati!!
>>>>>>>>>>>>>>>>>
“via, gue boleh tanya gak?” ujar gabriel sambil menyusun buku-bukunya. Saat itu mereka sedang ada di perpustakaan. Mencari tugas kuliah seperti biasa
Sivia menoleh, kemudian tersenyum kecil “apa yel. Tanya aja”
Gabriel diam sejenak. Hatinya sangat bimbang hingga dia gak tau apa yang harus dia lakukan. Kejadian tempo hari membuat gabriel sadar kalau perasaannya selama ini sia-sia. Perasaan bodoh yang dia simpan rapat-rapat. Haruskah dia mengakuinya sekarang? Tapi itu akan sama aja memperburuk keadaan
“vi, gimana perasaan lo sama rio sekarang” akhirnya pertanyaan itu terlontar dalam satu tarikan nafas. Dan jujur ada perih yang terasa
Sivia berhanti dari kegiatannya, dia duduk di bangku sambil menopang dagu. Gabriel gak ngerti maksud perubahan sikap itu
“yel, aku bingung. Apa perasaan ini salah karena aku ngerasa ini Cuma buang-buang waktu. Rio gak akan pernah nerima aku lebih dari temen karena memang diantara kita gak ada yang special tapi kalo boleh jujur aku masih berharap”
“aku ngerti yang kamu rasain vi. Dan aku rasa gak ada salahnya kamu punya perasaan itu. setiap orang berhak mencintai dan dicintai”
“tapi kalo cinta itu gak mungkin terjadi?” sivia membalikkan badannya, menghadap gabriel yang berdiri dibelakang
“kita harus bisa nerima itu, karena itu yang buat bahagia orang yang kita sayang. Mungkin lo tau kata-kata cinta gak harus memiliki. Itu bukan hanya sekedar kata-kata tapi punya makna yang dalem. Gak selamanya kita bisa milikin orang yang kita sayang dan itu bukan yang terburuk tapi justru yang terbaik. Karena kebahagiaan dia nantinya juga akan membuat kita tersenyum kan”
“walau senyum itu pahit”
Gabriel mengangguk. itu yang dia rasakan sekarang. Tersenyum dalam kepahitan. tapi buat gabriel itu gak masalah asalkan senyum sivia gak hilang. Itu udah CUKUP
“elo mau gue bantuin deket sama rio?” tanya gabriel. Rasa sakit itu muncul begitu pekat
“gak usah yel. Biar waktu aja yang jawab semua”
“tapi vi, apa itu gak akan buat hati lo sakit?”
“gak. Gak sama sekali” jawab sivia mantap. Gabriel memandang sivia teduh. Andai dia bisa melakukan apa yang sivia lakukan. Tapi rasa sayangnya begitu besar hingga sulit untuk gak merasakan sakit itu
“yel, gimana sama shilla?”
“gak gimana-gimana vi”
“yel boleh gak elo nurutin satu permintaan gue, satu aja. dan gue janji gue akan nurutin apa mau lo”
“ko lo gitu si ngomongnya. Emang mau minta apa?”
“terima shilla”
BRAKK buku ditangan gabriel jatuh. Dia menatap sivia nanar.
“sorry yel tapi gue mohon. Sekali ini aja”
“apa itu buat lo bahagia vi?”
“mungkin. Karena buat gue, bisa ngeliat orang lain bahagia dengan orang yang dia sayang itu bahagia gue yang gak ternilai”
Gabriel membuang napasnya. Dulu gabriel janji pada dirinya, bahwa dia akan melakukan apa aja asal sivia bisa bahagia tapi bukan ini!! Tuhan kenapa semua begitu rumit. Apa harus aku mengorbakan perasaan ini. Apa harus aku terluka asal orang aku sayang tersenyum?
“gue pikirin nanti vi”
“pikiran ya yel. Oh y ague duluan ya, bay”
Sepeninggal gadis itu, gabriel duduk ditempat cewe tadi. Dia memikirkannya. Tapi gak ada satu pun jawaban. gabriel menyobek kertas kosong di bagian belakang buku. Kemudian mengambl pulpen diatas meja
Sivia…….. entah gimana gue bisa nulis ini. Vi andai ada kesempatan buat muter waktu, gue aka puter waktu itu. gue akan melakukan 2 hal. Gak pernah ketemu lo sama sekali atau pergi saat gue sadar akan perasaan itu tapi gue terlambat, perasaan itu datang tanpa bisa gue cegah. Gue mengangumi lo lebih dari yang lo tau dan lebih dari orang lain. Mungkin gue cowo pengecut vi yang gak bisa ngungkapin perasaannya. Karena gue sadar rasa ini terlalu besar, terlalu murni dan terlalu indah. Buat gue, elo beda dari gadis lain. Elo punya tempat special dan hati ini!! Gue rasa Cuma tercipta buat lo. elo cinta pertama gue dan gue harap juga cinta terakhir gue. Walaupun gue sadar itu gak mungkin. Gue tau elo emang gak bisa gue milikin lebih dari temen tapi lo juga harus tau vi itu udah cukup buat gue. gue pengen lo tau kalau selama ini apa yang gue rasa itu jujur, gue tersenyum dalam kepahitan dan gue nutup semua celah dalam hati gue, BUAT ELO VI. Tapi mungkin ini Cuma cinta dalam hati, cinta yang gak akan pernah berujung. tapi asal lo tau. Mencintai lo dalam hati itu udah cukup buat gue bahagia. You are always beautiful for me and you always wonder this until whenever.
Gabriel memandang kertas itu. kertas yang menurutnya lebih mirip surat. Ahh tapi surat itu gak akan sampai pada sivia. dan gabriel gak akan mau kalau surat itu ada ditangan sivia. biarlah surat ini ada ditangannya. Dan entah sampai kapan
“woy bro” seseorang menepuk pundak gabriel. Membuatnya kembali sadar dari hal indah tadi. Mengangumi sivia!!
“eh yo. Ada apa?”
Rio . cowo itu duduk disamping gabriel “gak papa. Nyapa aja. tumben main ke perpus”
“maksud lo? Ya gak papa kan… toh ini punya kampus jadi gue berhak main kesini kan gue bayar kuliahnya”gabriel nyengir
“iyalah yel. Eh tau gak lo buku yang alvin punya? Katanya ada juga ya di perpus?”
“iya tau kok. Emang ada. Ketinggalan lo”
“hehe gue kan jarang main di perpus. Cariin dong”
“yeh… dasar lo. Yaudah bentar” gabriel beranjak pada deretan rak buku. Sementara rio hanya memperhatikan gabriel yang meneliti setiap buku besar didepannya.
“loh apaan ni” rio memungut secarcik kertas yang tanpas sengaja jatuh saat tangannya menyenggol kertas itu. rio menimbangnya. Ada rasa ingin tau dalam dirinya untuk membaca kertas yang dilipat asal itu. tapi suara gabriel membuat niat itu diurungkan
“rio sini lo. Yang ini bukan bukunya?” gumam gabriel tanpa melihat rio. Pandangannya masih meneliti deretan buku didepannya
“yoi yang ini. Thanks ya. Eh… cabut yuk. Gue males lama-lama disini haha” rio hanya nyngir yang hanya dicibir gabriel dalam hati “dasar. Yaudah yok” gabriel mengambil tasnya tanpa ingat surat rahasia yang baru ia tulis
“yo, ada acara gak lo malem ini?” tanya gabriel saat menuruni anak tangga
“gak ada. Kenapa? Mau ngajak gue kencan?” sahut rio asal
Gabriel memajukan mulutnya. Seenaknya aja rio bilang gitu. Dia masih normal kali! “najis deh.. gak. ada yang mau gue omongin sama lo. Penting banget. Jam 7 di café loli”
“oo kirain lo ada rasa sama gue. Hahaha” rio masih becanda. Gabriel mendengus. Dalam hatinya dia bertanya. Kenapa sivia bisa suka sama cowo macem rio. Yang slengean dan asal kalo ngomong
“rio….. gila lo ya. Jadinya gimana? Bisa gak?”
“bisa-bisa. Anytime for you”
Ingin rasanya gabriel lari dari situ. Dia takut kalo rio benar-benar ada kelainan….
>>>>>>>>>>>
Gabriel duduk diatas kap mobilnya. Sesekali gabriel memandang arloji yang udah nunjukin jam 7 lewat 15 itu. rio benar-benar ngaret. Padahal cowo itu kesini naik motor tapi masih aja telat kira-kira jam 7 lewat 20 motor ninja rio terpakir dihalaman café loli.. gabriel sengaja gak masuk duluan, mencegah kalo rio ngaret dan dia gak mau kalo Cuma bisa duduk manis di dalem. Ternyata dugaannya gak salah kan?? setelah omelan kecil, gabriel menarik rio masuk ke dalam café itu. suasana didalam cukup sepi. Hanya ada 5 orang pengunjung disana. Maklum, ini bukan malam minggu !!
Setelah memesan makanan, gabriel memulai obrolannya. Dia menarik napas dalam “yo… gue mau nanya sama lo. Seandainya ada cewe yang suka sama lo. Tapi dia gak berani bilang. Lo mau ngelakuin apa?”
“apa ya. Ya gue harus tau dulu cewe itu siapa. Kalo emang gue juga suka ya gue terima”
“kalo cewe itu sivia?” pertanyaan itu meluncur cepat dalam satu tarikan napas
“hah. Sivia. VIA MAKSUD LO?” rio mebelalakan matanya
“iya lo tau kan”
Gak ada jawaban dari rio tapi sedetik kemudian “HAHAHAHAHA”
“ko lo ketewa” gabriel memandangnya heran
“ya abis lo lucu. Ko sivia”
“gue serius yo. Dia suka sama lo. Gue sendiri gak tau apa yang bisa nyebabin dia suka”
Rio kembali diam… cukup lama hingga makanan pesanan mereka datang “sekarang gue deh yang balik nanya. Apa kepentingan lo si sama sivia sampe bela-belain ngajak gue ketemuan Cuma buat nanya gini?”
Pertanyaan rio sangat menampar. Satu alasan!! DIA INGIN MEMBUAT SIVIA BAHAGIA
“kok lo gak bisa jawab”
“hmhm” gabriel hanya mendesah. Entah apa yang harus dia jawab
“udah lo gak usah sembunyi dalam topeng lo itu. jujur yel. Karena kejujuran lebih berharga daripada memendam” rio merogoh saku celananya, mengambil lipatan kertas yang sudah lecek “mungkin lo tau apa ini”
Mata gabriel membulat… dia menepuk dahinya. Menyesali kebodohan itu. kenapa dia bisa lupa akan suratnya?? “lo dapet itu dari mana?”
“gak usah pura-pura gak tau. yel gue kira lo itu cowok gentle ya. Cowo yang idaman. Tapi apa…. buat ngungkapin perasaan lo sendiri aja gak bisa” cibir rio. Gabriel gak berkomentar “gue ngerti. Lo punya perasaan sama via udah lama tapi karena suatu hal yang gue gak tau apa dan pasti hal itu gak penting, lo jadi mundur. Lo lebih memilih menyimpan cinta lo yang entah sampai kapan. Membiarkan hati lo sakit dan menebar senyum sebagai topeng”
“lo gak ngerti yo. Mungkin mudah buat bilang cinta tapi gak mudah kalo lo ada di posisi gue”
“posisi lo emang kaya apa? lo ada di jurang atau ada di hutan lebat sampe linglung dan bimbang gak karuan”
“lo bener… gue emang ada di jurang. Jurang yang dalam. Gue harus bisa bebas dari jurang itu tapi hanya ada 2 pilihan tapi sayang keduanya gak akan bawa gue pulang. Keduanya Cuma akan buat gue sakit. karena 2 pilihan itu emang salah”
“jadi cinta lo buat 2 hati” rio menyimpulkan maksud perumpamaan gabriel
“you know? This is worse”
Akhirnya gabriel meceritakan semuanya. Semua yang terjadi. Antara dirinya, sivia dan shilla. tentang cintanya kepada gadis yang dia suka begitu lama namun tak ada keberanian untuk dia mengungkapkan. Tapi ketika ada setitik nyali, itu semua surut saat shilla hadir diantara mereka. Sivia menganggap shilla begitu pantas untuknya,hingga gabriel menyerah dengan situasi itu
rio hanya mengangguk mendenga cerita gabriel. menurutnya ini cukup rumit tapi pasti ada jalan keluarnya. Hanya aja Cuma gabriel yang tau. rio merasa gabriel harus milih salah satu. Atau dia gak pilih dua-duanya
“apa menurut lo gue ngehindar aja ya dari dua-duanya?” tanya gabriel mengakhiri ceritanya.
“itu teserah lo tapi menurut gue semua harus ada keputusannya. Lo harus milih satu atau gak sama sekali” rio menegaskan. Dia memberi senyum yakin pada gabriel yang hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya
………………………………..
Langit pekat bertambur bintang menemani kebimbangan di hati itu. rasanya buat apa penantian selama itu kalau ujungnya hanya rasa ragu yang ada, buat apa selama ini dia menuggu kalau akhirnya berakhir tanpa hasil. Tapi toh omongan rio ada benarnya. Semua harus diputuskan. gabriel harus memilih. Mengorbankan satu cewe entah shilla atau sivia. tapi sangat sulit untuk memilihnya. Atau yang terakhir pergi dari kehidupan 2 cewe itu dan gak berurusan dengan mereka sama sekali.
“mungkin gue butuh waktu buat tenang, gue harus menghilang sebentar dari ini semua. Sekedar buat cari jalan yang terbaik” ujar gabriel dengan tarikan napas panjang. Dia memejamkan matanya. Menikmati indahnya malam dengan bintang yang mungkin saksi dari kegalauannya saat ini
>>>>>>>>>>>>>>
Waktu yang berjalan membuat semua berubah. Kisah itu lambat laun berganti. Rasa kehilangan mejalar bersma angin yang bertiup. Entah sampai kapan kisah itu akan terus bergulir. Kisah yang endingnya belum diketahui. Kisah yang jalan ceritanya hanya waktu yang tau. tapi kisah itu yang membuat sivia sadar akan hal yang baru dalam hatinya. Mungkin dia merasakannya. Merasakan kisah yang memang sengaja di buat. Tapi sivia gak tau apa inti kisahnya. Yang dia tau sekarang seperti kehilangan sesuatu walapun dia rasa itu tak terlalu besar apapun alasannya. Sivia merasa kehilangan!! Gabriel. Sosok itu tak lagi dia temui. Gabrel seperti hilang. Di kampus mereka hanya sekali dua kali bertatap muka, cowo itu pun tak menyapa saat bertemu, hanya seulas senyum yang mewakili, bahkan dia seperti sengaja menghilang. Setiap bertemu gabriel berusaha pergi dengan berbagai alasan. Alasan yang masuk akaln namun tak jelas untuk sivia.
‘gue ada tugas’ ‘gue harus jemput adek gue’ ‘senat lagi banyak urusan’ ‘gue ngantuk butuh istirahat’ ‘nyokap sakit’ ‘gue males yang lain aja’ dan berbagai alasan lainnya. sivia mendesah. Pandangannya menyapu seluruh halaman kampus. Honda jazz hitam itu pun tak lagi terlihat di parkiran. Gabriel benar-benar berubah. Tapi apa yang membuatnya seperti itu? pertanyaan itu terus melintas di otak sivia selama 5 hari ini.
“viaa…….” Rio membanting tasnya di atas meja panjang di bawah pohon. Tempat cewe itu duduk dan melamun. Sivia meliriknya sebentar kemudian kembali melamun. Sekarang perasaannya hilang begitu saja. Perasaannya terhadap rio! Yah entah gimana caranya tapi itu terjadi begitu aja. mungkin rio emang bukan yang terbaik dan rasa sukanya hanya sesaat
“vi ko diem si. lagi pms ya?” tanya rio enteng.
“gak” sivia menggeleng pelan. Dia sedang tidak ingin becanda apalagi becandaan garing seperti tadi
“kenapa? Kangen sama someone?”
“gak tau”
“aduhh dasar orang galau. Susah diajak ngobrol”
“siapa yang galau. Enggak”
“masa si? tau gak tanda-tanda orang galau. Dia suka ngelamun, dan mikirin orang yang menurut dia berarti. Lo miirin gabriel kan?”
Sivia menoleh. Dia tersentak. Kenapa cowo itu bisa tau? apa begitu kelihatan?
“gak usah kaget. gue tau kok bahkan gue tau lebih dari lo”
“maksudnya yo?” sivia mengerutkan dahinya.
“mungkin saatnya lo tau ini… gue juga cape kalo harus nyembunyiinya apalagi ngeliat lo uring-uringan gini vi” rio membuka tasnya. Mengambil sebuah kertas yang sudah amat lecek. Lebih lecek saat surat itu dia kasih ke gabriel tempo hari
“lo baca isinya dan lo akan tau yang sebenernya. Oh ya lo tau shilla kan?”
Sivia mengangguk “kenapa sama shilla?”
“dia udah ngerti semuanya dan dia berharap yang terbaik” rio bangkit dari duduknya. Meninggalkan sivia dengan segala rasa bingungnya setelah memandang sepersekian menit. Sivia menyerah. Dia memilih membukanya
Entah ribuan batu itu datang dari mana. Tapi yang pasti sivia merasa sakit. apa yang telah ia perbuat? Apa yang telah ia lakukan pada orang setulus gabriel? Dan kenapa dia bisa melakukan itu? sivia merasa sangat bodoh. Dia memaki dirinya sendiri. Ya Tuhan gue pasti jahat banget. Kenapa gue bisa nyakitin gabriel kenapa dia gak pernah tau itu semua. Dan kenapa dia malah membuat gabriel menerima shilla? sivia menelungkupkan wajahnya. Ingin dia menangis. Kenapa dia membiarkan orang yang benar-benar tulus itu pergi? Apa dia begitu egois?
“nangis sepuasnya kalo emang itu membuat semua lebih baik”
Sivia mendongak,mencari asal suara itu “shilla” suaranya parau, mungkin kerana dia terlalu ingin menahan tangisnya
“aku udah tau semua vi”
“shilla aku minta maaf. Aku sendiri baru tau sekarang”
“harusnya aku yang minta maaf. Aku sadar cinta itu gak bisa dipaksain. Hati gabriel untuk kamu. Dan itu gak pernah berubah walaupun ada seribu aku”
“aku tau shil dan aku merasa jahat,egois,bodoh” ujar sivia. suaranya serak dan ada sedikit air mata dikelopak matanya
“jangan pernah salahin diri sendiri vi karena itu sama aja memperburuk keadaan. Kalo emang kamu nganggep gabriel berarti dan kamu kehilangan dia. Kejar dia” shilla tersenyum. Senyum penuh arti. Sivia tau dia mengucapkan itu tulus
“apa kamu gak akan cemburu?”
Shilla tertawa renyah “apapun rasa itu, cemburu atau apa. itu bukan hak aku. Yah emang awalnya aku kesel,marah,sedih,kecewa tapi kemudian aku tau itu semua gak ada artinya. Jadi buat apa aku mikirin lebih baik aku coba cari lembaran baru. Itu lebih bagus kan” shillan menepuk pundak sivia. ucapannya seperti nasihat untuk sivia saat ini. Mungkin benar, rasa bersalahnya sekarang gak ada artinya, itu semua Cuma kerikil tajam yang gak akan ngebuat kisah ini selesai
“tapi aku udah terlambat kan. Gabriel mungkin udah membuang perasaannya jauh-jauh dan aku juga ngerasa bersalah banget sama dia shil. Aku udah nyuruh dia ngelakuin hal yang sama sekali gak dia mau. Mencintai kamu”
“gak ada kata terlambat vi, kalo emang gabriel tulus sama kamu, dia pasti akan nunggu kamu dan percaya deh. Apa yang dia lakuin sekarang, seperti menghindar semua demi kebaikan kita. Aku, kamu dan gabriel sendiri” shilla tersenyum penuh arti. Gurat wajahnya benar-benar jujur. Jadi dia mengucapkan itu bukan semata-mata menghibur tapi shilla benar-benar sudah menghapus perasaannya kepada gabriel
“kok kamu udah tau duluan si?”
“aku tau ini dari rio dan gabriel. Aku gak sengaja denger perbincangan mereka beberapa hari yang lalu saat mereka makan di kantin. Jujur aku shock tapi setelah mendapat penjelasan aku ngerti semua. Aku jadi orang ketiga” shilla tertawa kecil. Sivia merasa kehangatan dari tawanya “tapi itu bukan salah aku kan? Aku sendiri gak tau yang terjadi sebenernya. Makanya sekarang aku ingin memperbaiki semua. Yah mungkin cinta aku bukan gabriel tapi seseorang yang lebih baik”
“kamu hebat shil. Aku kagum sama ketegaran kamu”
“itu bukan ketegaran tapi memang kewajiban hehe. Sekarang kamu harus selesaiin semuanya” kata shilla yakin.
Sivia menyetujui ucapan itu. dia harus menyelesaikan proses ini! “aku akan selesaiin kisah ini shil”
“iya HARUS!!!”
>>>>>>>>>>>>>>>
Penyesalan hanya ada diakhir tapi penyesalan bukan akhir dari segalanya. Justru penyesalan adalah pembelajaran. Sivia merasakannya. Dia sadar semua itu udah terjadi. Dan sekarang dia harus memperbaikinya beberapa jam lalu dia sudah mengirim pesan yang isinya menyuruh gabriel datang kesini. Ke bukit kecil di dalam kota. Tapi mungkin gabriel gak akan datang. karena ini sudah lewat 1 jam dari pesannya
“aku akan disini entah sampai kapan” sivia memejamkan matanya. Merasakan angin yang menerpa wajah dan helai-helai rambutnya. Hatinya perih tapi mungkin gak ada apa-apannya jika dibanding gabriel
“Bawa perasaan ini terbang dan hilang bersama angin, bawa pergi ke langit,terbang ke samudera hindia,pasifik,tenggelem dia laut mengalir ke kutub, membeku dan akhirnya mati tanpa bisa mencair” sivia terus memejamkan matanya. Rambutnya terbang bersama angin. Tapi ngga bersama perasaannya
“jangan hilangin perasaan itu vi” sesaat suara itu terdengar lembut. Tapi sivia bergeming dia tetap memejamkan matanya. Buatnya suara itu hanya halusinansi karena sampai kapan pun suara itu gak akan datang untuknya
“aku disini. Buka mata kamu. Jangan pernah bilang kalo kamu akan membuang perasaan itu” tangan kekar itu sivia rasa begitu nyata. Beberapa detik dia hanya merasakannya sampai kini badannya diputar beberapa derajat “buka mata lo” perlahan sivia membuka matanya. Merasakan kehangatan yang lain, kehangatan yang nyaman
“iyel” orang itu berdiri tegak didepannya. Wajahnya tersenyum. Senyuman yang beberapa minggu ini menghilang
“sorry gue telat”
“gue kira lo gak mau dateng” ujar sivia lirih. Wajahnya kini berada dekat dengan wajah gabriel
“gue bukan gak mau dateng tapi gue takut. Via sorry ya selama beberapa minggu ini gue ngehindar dari lo,ngejauh bahkan terkesah aneh. Tapi itu bukan karena gue marah atau ada masalah tapi itu karena gue gak mau bikin hati seseorang sakit dan buat semuanya tambah kacau. Gue tau elo udah tau semuanya kan?”
“iya. dan elo udah buat gue jadi orang yang paling jahat” sivia menatap mata bening gabriel. Ada teduh dan rasa nyaman yang ia rasakan tapi kenapa ia baru sadar itu sekarang? Kenapa ngga sejak dulu?
“gue Cuma takut vi kalo gue terus berada dalam posisi itu justru gue yang merasa jadi cowok paling jahat. Gue gak mau nyakitin siapa pun jadi gue mutusin buat lari dari itu semua walaupun pada akhirnya gue sadar itu gak akan nyelesaiin masalah” gumam gabriel, dia balas menatap sivia.
“apapun alasannya gue lah orang yang salah dalam cerita ini yel. Gue gak peka sama perasaan lo, gue terlalu egois dan selalu mentingin perasaan shilla. padahal gue gak tau perasaan lo ke dia kaya apa”
Gabriel tersenyum kecut. Memang benar. Sivia salah. Salah kerana dia ngga bertanya dulu apakah dia juga menyukai shilla
“via,,, selama ini gue pake topeng. Topeng dari hati gue yang kalut. Topeng dari diri yang pengecut. Tapi akhirnya gue harus buka topeng itu. karena gue sendiri gak tahan. Gue mau semua orang tau apa yang ada di dalam hati gue. Dan sekarang topeng itu terbuka tapi elo udah tau soal itu bahkan sebelum gue berani ngelepas topengnya”
Sivia kembali mengernyit. Omongan gabriel susah untuk dicerna “maksudnya?”
“iya. gue baru berani buka topeng itu beberapa jam yang lalu. Saat rio dan shilla nyameprin gue dan bilang kalo topeng itu udah gak ada artinya lagi, kalau elo lagi nunggu gue disini dan kalo gue gak nyamperin elo, gue akan kehilangan penantian gue untuk kedua kalinya” gabriel menarik lembut tangan sivia. “gue pengecut ya vi? Cuma bisa memendam cinta?” gabriel tersenyum sambil mengerlingkan matanya
“iya elo pengecut!! Kenapa si elo gak jujur. Dan kenapa elo malah mau bantuin gue deket sama rio?” sahut sivia. senyumnya yang manis kini kembali terlihat
“karena apa yang buat lo bahagia gue akan lakuin. Itu janji gue vi”
Sivia merasakan hatinya mencelos. Tuhan… kenapa dia bisa melewatkan ini?melewatkan cowo setulus gabriel
“oh ya gimana sama rio?” gabriel kembali mengerling, membuat sivia melotot kearahnya “maksudnya??? Gue udah gak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. Ternyata itu Cuma perasaan sesaat. Oh ya elo tau gak perasaan kehilangan gue lebih dari perasaan suka gue ke rio”
“loh kok gitu?”
“soalnya gue sadar gue gak bisa kehilangan lo” sivia menjawabnya dengan nada yang susah diartikan. Suaranya terkesan jail namun ketulusan juga terlihat dari nada bicaranya
Gabriel tersenyum. Mungkin memendam itu baik tapi yang gak baik kalo harus mengorbankan orang yang kitas sayang. Dan sekarang dia telah mendapatkan penantiannya. Sivia!!
“jadi bener ni udah gak suka lagi sama rio. Dia kan ganteng” gabriel tersenyum jail
Sivia hanya manyun dan melepaskan genggaman gabriel “ih kamu ya. Bener deh aku tuh udah gak suka lagi sama rio. Mungkin aku Cuma kagum dan sekarang aku sadar satu hal kalo orang yang aku sayang ada didepan mata ku sendiri dan bodohnya aku melewatkannya dulu” sivia mengucapkannya sambil melempar tatapannya kesegala arah, ia ngga berani kalo harus melihat mata gabriel saat ini. Sivia takut penyesalannya semakin besar
“itu bagian dari proses vi. Gak ada yang perlu disesalin. Aku juga salah kok. Aku terlalu kalem sama perasaan sampai aku rela nyakitin perasaan aku sendiri”
“oh ya masalah shilla gimana? Apa dia…”
“aku rasa dia bisa ngerti. Dia dewasa dan bahkan dia yang maksa aku kesini” gabriel memotong ucapan sivia. perlahan gabriel maju dan kembali pada posisi awalnya. Berhadapan dengan gadis itu
“would you be my girl friend?”
“ciyeeee… terima aja vi” suara itu terdengar dari balik ilalang. 2 orang manusia dengan jailnya bersuil. Yap!! Mereka rio san shilla. entah sejak kapan kedua orang itu berada disana
“loh kok?”
“sorry ya mereka emang ikut kesini tapi aku juga gak tau sampe ngintip” gabriel gantian menatap shilla dan rio. Tatapan murka lebih tepatnya
“abis gue takut aja lo gak jadi nyatain cintanya makanya nyegah-myegah gue kesini hehe” rio nyengir dan berjalan mendekat
“iya dan ternyata gabriel berhasil melakukan hal yang buatnya sulit itu.suatu hal yang dulunya gak mungkin buat dia” timpal shilla dia kini berdiri disamping sivia dan merangkulnya
“tapi elo berdua jadi ganggu tau”gumam gabriel setengah kesal. rio hanya tertawa “oke deh gue gak mau ganggu. Shil dari pada jadi nyamuk meningan kita ketempat lain. Mereka mah jadul kencan di bukit yang ada ilalangnya gini. Gak gaul. Meningan kita ke café”
“oo jadi rio ngajak shilla kencan. Ehem ada apa ya?” sivia berdeham pelan. Dia melemparkan senyum mengejek kepada rio. Sementara shilla hanya bisa mendelik “what? Gak lah vi…”
“kalo iya juga gak papa?” timpal gabriel. Rio Cuma bisa bergumam pelan “ko jadi gue yang kena”
“eh eh tapi kalian berdua cocok loh. Kalian kan bagian dari kisah gue sama sivia” gabriel berpendapat yang langsung diangguki sivia “yap betull!”
“tapi gak gini juga” tanpas sadar rio dan shilla mengucapkan kata yang sama. Mereka saling berpandangan dan jelas! Saat itu wajah shilla bersemu merah
“ahahahahahaha” sivia dan gabriel tertawa lepas
Tawa itu terdengar bersama suara angin dan kicauan burung. Tawa dari mereka yang merasakan indahnya bahagia, indahnya dari akhir cerita yang gak terduga. Hidup memang misteri, semua sudah ada jalannya dari mulai prolog hingga epilognya. Namun tetap aja yang menentukan alur itu hanya Tuhan dan waktu. tapi bagaimanapun akhirnya toh semua punya kesan. Kesan yang tertinggal di halaman terakhir. gabriel menutup kisahnya dengan berbagai makna. Makna akan kejujuran dan cinta yang tulus. Dan satu yang terpenting. Makna dari sebuah proses yang rumit ………………………………………………..
Sivia menatap note book didepannya tanpa berkedip. Entah apa yang begitu menyedot perhatiannya. sekarang tepat seminggu sejak kejadian di bukit itu. sivia merasa hidupnya penuh warna. Yang paling simple dia PUNYA PACAR BARU SEKARANG!!
“via ngapain si?” gabriel duduk disebelahnya sambil menyerahkan sekaleng fanta
“ehm lagi ngecek tugas yel”
“segitunya vi. Oh ya ada kabar bagus loh” gabriel mengerling genit. Berusaha menyedot perhatian sivia
“hmhm apa?” tanyanya datar. Gabriel manyun. Caranya gak berhasil
“SHILLA SAMA RIO JADIAN”
“apa???” sivia terperanjat. Dia menatap gabriel gak percaya “kok bisa?”
“itu yang namanya takdir. Semua gak pernah sama seperti apa yang kita mau. Yahh mungin mereka terlibat cinta tak terduga. Seperti yang kita bilang. Mereka kan bagian dari kisah kita jadi Tuhan adil dengan membuat kisah mereka sendiri hehe”
“iya juga sih. Makin pinter aja sih kamuuu” sivia mencubit hidung gabriel hingga bersemu merah
“iya dong gue gitu haha”
“dasar”
“eh vi dengerin gue deh ehem” gabriel berdeham kecil sejurus kemudian menatap sivia serius “you are the most beautiful woman today. You always fill my heart with your smile. I'm happy to have you”
“hahaha iya deh aku juga”
Dan akhirnya kisah ini berakhir dengan senyuman. Kisah simple tapi butuh pengorbanan. Hidup itu perjuangan jadi jangan pernah bilang kita bakal berenti disini jangan pernah bilang kalo kita gak sanggup karena sesungguhnya kita gak pernah tau kalo kita BISA!! soal cinta…………. Hmhm semua adalah proses. Proses panjang yang mungkin banyak menguras emosi tapi percaya deh… apapun akhirnya cerita cintanya. Semua pasti ada amanat dan pelajaran. So… never be afraid to make love to talk
I will not make the same mistakes that you did I will not let myself cause my heart so much misery I will not break the way you did You fell so hard I've learned the hard way, to never let it get that far
Because of you I never stray too far from the sidewalk Because of you I learned to play on the safe side So I don't get hurt Because of you I find it hard to trust Not only me, but everyone around me Because of you I am afraid
I lose my way
And it's not too long
before you point it out
I cannot cry Because
I know that's weakness in your eyes
I'm forced to fake a smile, a laugh Every day of my life My heart can't possibly break When it wasn't even whole to start with
Because of you
I never stray too far from the sidewalk
Because of you I learned to play on the safe side So I don't get hurt
Because of you I find it hard to trust Not only me, but everyone around me
Because of you I am afraid
I watched you die
I heard you cry
Every night in your sleep
I was so young You should have known better than
to lean on me You never thought of anyone else
You just saw your pain And now
I cry In the middle of the night For the same damn thing
Because of you
I never stray too far from the sidewalk
Because of you I learned to play on the safe side
So I don't get hurt Because of you
I tried my hardest just to forget everything
Because of you I don't know how to let anyone else in
Because of you I'm ashamed of my life because it's empty
Because of you I am afraid
Because of you Because of you (Kelly kracson_ because of you)

enjoy it!
*****
mungkin ini memang jalan takdirku
mengagumi tanpa di cintai
tak mengapa bagiku
asal kau pun bahagia dengan hidupmu, dengan hidupmu
telah lama kupendam perasaan itu
menunggu hatimu menyambut diriku
tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah bahagia untukku, bahagia untukku
ku ingin kau tahu
diriku di sini menanti dirimu
meski ku tunggu hingga ujung waktuku
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja
lagu itu terngiang di telinga gabriel. Lagu yang dalam beberapa bulan ini terus dia putar. CINTA DALAM HATI. 3 kata magic yang membuat semua orang bisa berubah. Gabriel sendiri bingung apa makna dari 3 kata itu. kata yang indah namun sangat menyakitkan bila di rasa. Mungkin memendanm cinta tidak selalu buruk. Terkadang memendam perasaan itu adalah hal yang terbaik. Gak selamanya perasaan itu harus diungkapkan. Apalagi jika itu gak memungkinkan. Yah… cinta tak harus memiliki. Mungkin itu yang paling simple. Tapi apa semua orang bisa menerima kata itu?
Gabriel melirik arlojinya yang masih berdetak di angka 11. Pikiran cowo itu sedang terbang bersama laju mobilnya yang tidak terlalu kencang. Rasa gelisah menyelimuti hatinya. gabriel berpikir kenapa cinta itu harus rumit?? Serumit benang wol yang dililit kusut. Susah untuk mengurainya apalagi membuatnya menjadi indah. Tapi apapun itu cintanya saat ini tanpa alasan. Cinta dalam hatinya!! mungkin menyimpan cinta dalam hati sesuatu yang abstrak. Apalagi untuk cowok! Semua akan menganggap gabriel tidak gentle karena hanya bisa memendam perasaannya, tapi bukan itu alasan kenapa dia melakukannya. Bukan karena takut! Tapi memang belum saatnya dan gabriel gak mau kalau perasaannya dapat membuat orang lain terluka
Handphone gabriel bergetar. Diliriknya hp yang berada di atas dasbord. Seketika itu wajah muramnya berubah ceria
“iya hallo vi?”
“yel, cepet ke kampus. Gue mau cerita”
“apa?”
“ada deh. Cepet y ague tunggu. Bay”
Sambungan telfon terputus. Gabriel kembali meletakan Hpnya. Senyumnya yang sumringah kini berubah jadi kecil. Tapi toh itu gak mengurangi rasa bahagia dalam hatinya. cinta emang berjuta rasanya. Hal yang bisa membuat kita jadi aneh… terutama gabriel. Entah kenapa dengan mendengar suaranya di telfon itu sudah cukup memberi bunga dihatinya. Kedengarannya konyol tapi semuanya memang realita. Cowo itu kembali focus pada lagu cidaha yang masih dia putar. Kebiasaan barunya. Memutar lagu itu berulang-ulang. Mungkin benar kita bisa meluapkan perasaan dengan bernyanyi. Yah itu baik kan dari pada gak meluapkannya sama sekali.
Tanpa terasa Honda jazz hitam itu telah menginjak area parkir. Melamun memang membuatnya terasa cepat
gabriel berjalan kearah taman kampus. Sebenarnya hari ini dia ingin libur. Toh sekarang hari sabtu tapi gabriel sengaja ke kampus untuk mengurus senatnya. Dan satu lagi alasan gila cowo itu………….
“iyel….” senyumnya kembali merekah. Di otaknya kembali terngiang lagu yang beberapa menit lalu dia dengar
“hai vi” cowo itu berjalan kea rah bangku panjang. Tempat seorang gadis menunggunya
“dateng juga loh. Eh gue mau cerita loh…” sivia. cewe itu tersenyum manis. Senyumnya sudah sangat terekam dalam otak gabriel
“tentang apa vi?”
“shilla” mendengar nama itu terlontar dari mulut sivia. senyum di bibirnya mendadak surut. Gabriel sudah bosan mendengar cerita sivia tentang shilla. ya memang itu bukan salah sivia tapi… ahhh andai aja sivia tau yang sebenarnya
“yel… shilla tuh beneran suka sama lo. Dia sayang sama lo tulus. Lo gak tau ya dia tuh seneng banget kalo lo ada dideketnya. Dan satu lagi. Elo first love dia. Bayangin yel. Betapa berharganya lo buat shilla”
“tapi vi…” ucapan gabriel seperti menggantung. Entah untuk berapa kali dia harus bilang kalo dia menganggap shilla hanya sebatas teman!
“yel… buka sedikit hati lo untuk dia. Pasti lo bisa” sivia memegang lengan kekar gabriel. Jujur itu membuat gabriel sedikit salah tingkah tapi dia berusaha kembali ke alamnya semula
“gak segampang itu… lo harus ngerti posisi gue” suara gabriel begitu lembut. Dalam hatinya dia ingin berteriak kalo hatinya saat ini sudah terisi dan gak mungkin dia ganti dengan mudah. SIVIA. lo orangnya vi…
“gue tau tapi seenggaknya lo bales perhatian dia. Dia sering kan bawain lo makanan,sms lo,dan segala hal yang lo suka pasti dia tau”
Gabriel seperti berada diujung jurang, kebimbangan membuatnya ingin jatuh ke bagian terdalam. Andai sivia tau kalo dialah cinda dalam hati itu, kalo dialah yang gak mungkin membuat shilla lebih dari teman untuknya. Tapi gabriel gak mempunyai keberanian untuk itu. semuanya terlalu rumit untuk terpecahkan
“yel… ko lo malah diem si”
“hmhm gak papa vi”
“ayolah. Lo kan cowo, jangan sampe lo buat hati cewe selembut shilla jadi hancur” sivia menatap cowo itu dalam. Tatapan yang membuat gabriel melayang tapi… bukan itu yang dia mau. Bukan tatapan memohon untuk membuatnya menerima shilla
“itu sama aja gue ngasih dia harapan kosong. Sampe kapan si vi lo harus jadi perantara perasaan shilla ke gue… via cinta itu murni, dan gak selamanya cinta bisa kita bagi dengan siapa pun. Terkadang cinta itu tercipta hanya untuk satu orang”
“gue tau. Tapi gue cewe yel, apa yang shilla rasain bisa gue rasain dan betapa hancurnya dia jika harapannya selama ini sia-sia”
‘andai lo juga tau apa yang gue rasain’ gabriel membatin sambil menatap gadis didepannya nanar. Mengapa sulit untuknya bilang suka dan sayang tapi itu bagus. Artinya cintanya selama ini benar-benar tulus, hingga sulit untuk dia ungkapkan dan berujung pada hal yang bimbang
“pertama dia curhat lewat sms ke gue, gue bisa tau kalo dia bener-bener tulus yel. Perasaannya terlalu lembut”
Gabriel ingat. Semua ini berawal dari pertemuan gak dingaja itu. sivia dengan shilla. mereka memang gak saling kenal tapi gabriel sangat mengenal shilla karena papahnya yang memang bersahabat dengan orang tua cewe itu. sedangkan sivia, dia sudah berteman dengan gabriel sejak SMA gabriel menyesali dunia ini yang terlalu sempit hingga kedua cewe itu bisa berteman. semua berawal dari event di kampus. Sivia yang memang panitia acara itu terpaksa harus bekerja sama dengan shilla. kordinator acara yang sama. Mereka saling cerita hingga bisa berteman seperti sekarang. Dan burukya shilla cerita kalau selama ini dia menyukai gabriel. Kalau boleh jujur gabriel tau itu sejak lama. Shilla yang mengungkapkannya sendiri tapi hatinya memang bukan untuk cewe itu. hatinya hanya untuk satu orang. Cewe yang sejak lama dia perhatikan tapi sayang sangat sulit untuknya menyadari akan perasaan gabriel
“iyel ko lo jadi cowo pelamun si. dari tadi gue tuh ngomong”
“eh sorry. Vi udahlah mood gue lagi ke situ. Meningan sekarang kita ke kantin. Gue beliin lo minum biar lo berenti ngomong soal shilla”
“tapi”
“cukup via… vi andai lo tau kalo gue cape… apa yang selama ini lo bilang bener kok. Kalo gue cowo aneh yang gak bisa nerima cewe setulus dan secantik shilla tapi please semua orang punya persepsi berbeda. Hati gue bukan buat dia… “ entah mendapat keberanian dari mana gabriel berhasil mengungkapkan kegalauan dalam hatinya. Walau gak semua
“iya gue ngerti. Dan semuanya emang ada ditangan lo. Gue Cuma perantara aja. gue gak mau ada cewe yang hancur Cuma gara-gara cinta” suara sivia berubah lirih. Membuat gabriel menatapnya dalam. Ada sebersit sesalnya, mengapa ia bisa membuat sivia seperti itu. tapi gabriel juga berharap sivia tau perasaannya.
“gue ngerti tapi lo juga harus ngerti kalo cinta gak bisa dipaksain. Dan yang namanya patah hati pasti ada”
“iya. sorry ya kalo selama ini gue gak ngerti lo” ungkap sivia dengan seulas senyum
“its oke”
>>>>>>>>>>>>>>
Untuk berapa kalinya gabriel bertingkah autis di kamar. Menulis nama sivia pada selembar kertas, dan tentunya memutar lagu cinta dalam hati yang sudah sangat dia hafal. huh… desahan napas terdengar berat dalam dirinya. Jujur ini sangat membingungkan. Terjebak dalam 2 pilihan yang sudah ada jawabannya, tapi sayang jaawaban itu sangat salah untuk saat ini “if you know that I will always love you. although you would not know it” tulisan itu terpampang jelas di kertas yang sudah penuh dengan nama SIVIA. gabriel merasa dirinya seperti autis yang menunggu cinta. Kenapa si dia harus terlibat dalam hal itu? kenapa dia tidak bisa mencintai satu wanita dengan mudah. kenapa semuanya terasa begitu sulit? entahlah pertanyaan itu. gabriel membirkan pertanyaan itu melayang dalam otaknya tanpa bisa terjawab.
“den gabriel”
“ehm iya bi” dia membalikkan badannya kearah pembantu yang berada diambang pintu
“ada non shilla dibawah”
“oh iya nanti saya kebawah” dengan malas gabriel bangun dari tempat tidur. Kedatangan shilla saat ini bukan yang dadakan, cewe itu sudah menefonnya beberapa menit yang lalu.
“ada apa shil” iyel tersenyum tipis dan duduk berhadapan dengan cewe itu
“aku mau nganterin kamu brownies. Aku tau banget kamu suka brownies” shilla menyodorkan sekotak kue lezat itu. cukup lama gabriel hanya memandangnya. Dalam bayangnya gabriel berharap cewe yang memberikan kue ini adalah sivia.
“hm thanks ya shil. Sebenernya lo gak usah repot-repot”
“iya gak papa kok. Aku kesini usulan dari sivia. katanya papah mamah kamu lagi gak ada dirumah jadi siapa tau aku bisa nemenin kamu”
Okey untuk berapa kalinya gabriel harus mengingat nama itu lagi. Sivia andai elo yang ada disini mungkin gue akan ceria, gak BT kaya gini. Kenapa harus shilla… dan bodohnya kenapa elo yang nyuruh dia dateng kesini. Ungkap gabriel dalam hati
“sivia baik ya… aku seneng bisa temenan sama dia. Anaknya asik,seru,gokil dan satu lagi. Dia pengertian banget. Aku berasa punya kakak”
“iya. sivia emang baik”
“kamu beruntung yel, udah temenan sama dia sejak lama. Aku aja yang baru beberapa minggu udah seneng banget”
Menanggapi ucapan shilla. gabriel hanya tersenyum simpul. Baginya ucapan shilla benar 1000 persen. Dia memang beruntung kenal sivia “shil, lo sering curhat bareng kan sama via. Via sering curhat sama lo tentang apa?”
“via si jarang lebih sering aku. Tapi kalo curhat dia lebih sering mengenai hobbynya dan masalahnya dikampus. Kaya dosen atau pelajaran”
“kalo tentang cinta?” tanya gabriel ragu, dia gak mau salah mengucapkan pertanyaan itu
“hmhm hapir gak pernah si?tapi aku tau via lagi suka sama cowo?”
“SIAPA?” gabriel seperti mendapat duren jatoh diatas kepalanya. Sivia suka sama cowo?? Jujur sejak lama dia berteman dengan gadis itu, dia gak pernah tau kalo sivia suka sama cowo, atau emang siva gak pernah nunjukinnya?
“kok kamu kaget gitu si?”
“hmhm abis aku jarang aja denger sivia lagi naksir cowo”
“kirain kamu… hehe”
“kirain apa shil?”
“kamu cemburu kalo via punya cowo”
Glekkk… ucapan seperti menampar gabriel. Jelas! Gabriel akan sangat cemburu kalo memang cowo itu bukan dirinya
“eh gak mungkin lah. Gue kan Cuma temennya. Shil lo tau gak siapa cowo itu?”
“aku gak tau tapi yang pasti dia deket sama sivia dan mungkin sama kamu sendiri”
“oo..” gabriel membentuk huruf O dimulutnya. Otaknya seperti berputar. Mencari tau siapa cowo yang dimaksud shilla. ‘siapa yang sivia suka?’ pertanyaan itu bergabung jadi satu dalam otaknya
“yel.kuenya gak dimakan? By the way kayaknya aku gak bisa lama. Mamah udah sms nih. Udah malem juga” shilla bangkit dari duduknya
“hm iya. thanks ya shil kuenya”
“oke”
Sepeninggal shilla. gabriel merebahkan tubuhnya di sofa. pikirannya masih berkutat pada pertanyaan tadi. Siapa cowo yang berhasil meluluhkan hati sivia? ahh gabriel merasa malam ini dia gak akan tidur nyenyak
>>>>>>>>>
Panas matahari pagi itu disambut dengan kantung mata hitam. Gabriel baru saja mandi. Tapi sayang kelopak matanya masih saja bengkak karena kurang tidur. Pagi ini gabriel harus pergi. Suatu hal malas di hari minggu cerah apalagi dengan keadaannya seperti ini.
Setelah dirasa rapi, gabriel menuju mobilnya. Dia menarik napas kuat. Hari ini dia akan bertemu banyak orang, dan salah satunya adalah sivia. tapi dengan kondisinya seperti ini gabriel merasa ingin terus dirumah. Memecahkan pertanyaan yang membuatnya seperti orang aneh “oke. Gue bisa bilang kemaren gue begadang nonton film” gabriel menstarter mobilnya, perlahan melajukannya menunju PIM (pondok indah mall)
Kurang lebih 20 menit dia sudah ada di tempat itu. gabriel berjalan santai menuju j-coo. Tempat dia janjian dengan beberapa temannya untuk membicarakan tugas terbaru dari dosen.
“hei. Baru dateng lo” alvin menymbutnya. Gabriel hanya tersenyum tipis,. Hari ini moodnya terlalu jelek
“sorry ya tadi gue bangun agak kesiangan”
“yoi gak papa kali kita juga belum mulai. Masih nunggu rio” sahut zevana membuat gabriel mengangguk pelan
“yel ko mata lo item gitu si. kurang tidur?” tanya sivia yang memang duduk berhadapan dengan gabriel
“hmhm iya. semalem gue nonton film sampe larut” akhirnya gabriel memakai jawaban itu. menurutnya itu jawaban bohong terbaik
“oo… kirain ngapain”
“alah… paling ngeronda bukannya nonton film” sahut alvin enteng.
“yee emang gue kaya elo vin tukang ronda alias hansip”
“kata siapa gue hansip,. Gue penjaga keamanan”
“udah jayus banget si kalian berdua” zevana menengahi. Bercandaan cowo-cowo emang aneh, keliatan jayus abis
“eh rio dateng tuh” semua menoleh keraah rio. Cowo tinggi itu sekarang duduk disebelah sivia. wajahnya terlihat seperti menyesal “sorry ya gue telat. Nyokap gue minta nganterin ke salon dulu”
“its oke yo. Kita juga belum mulai” ujar sivia melirik rio disebelahnya. Gabriel yang memang saat itu berada didepan keduanya jelas menangkap atmosfer baru dalam diri sivia. entah apa itu… tapi yang pasti sivia berubah canggung. Gabrel kenal sivia lama dan dia tau cewe itu berubah tegang seperti berada disebelah dosen killer
Setelah makan kecil kelima mahasiswa itu melanjutkan tujuan mereka ke sini. Mengerjakan tugas!. Cukup sering perdebatan terjadi. Terutama masalah konsep dan isi. Semuanya punya pendapat masing-masing konsentrasi gabriel seperti terpecah saat itu. dia benar-benar menangkap hal yang ganjal. Sivia berubah!! Biasanya dia kritis dalam menyampaian pendapat tapi sekarang dia seperti menuruti pendapat rio!. Bukan seperti sivia yang biasanya. entah gimana gabriel mempunyai pendapat sivia menyukai cowo itu! tapi apa mungkin? Sedangkah sivia pun jarang ngobrol atau main dengan rio
…………………………
“via gue mau tanya sesuatu sama lo?” gabriel membuka pembicaraan. Saat ini dirinya dan sivia sudah selesai dari pekerjaan tadi. Mereka berdua asik jalan di mall sambil menikmati sebuah ice cream sementara yang lain sudah pulang beberapa waktu lalu
“apa yel?”
“gue ngerasa tadi lo berubah”
“hah? Berubah gimana?” sivia seakan tak mengerti maksud gabriel
“biasanya lo paling rajin kalo ngasih pendapat tapi tadi ko lo kalem aja ya dan lebih nurut sama pendapatnya rio”
Tibatiba sivia berhenti. Tenggorakannya serasa tersangkut “ko lo bisa punya pendapat gitu yel”
“tuh kan lo jadi kaget gitu. Ya gue ngerasa aja. ada atmosfer yang beda kalo lo deket sama rio”
“siapa yang kaget… lagian beda gimana kayaknya biasa aja” sivia kembali berjalan. Dia berusaha menyusun jawaban jika nanti gabriel bertanya seperti tadi
“gak usah boong gitu kali… gue kenal lo udah lumayan lama dan gue tau kalo lo tadi saltng dan canggung. Apa lo suka sama rio?”
UHUKKK…sivia tersedak hebat. Dia gak menyangka gabriel akan langsung menanyakan pertanyaan itu
“lo gak papa kan vi?”
“gak papa. Lagian pertanyaan lo aneh” elak sivia berusaha bersikap biasa
“tapi bener kan?” tanya gabriel takut. Please jawab enggak vi atau lo bakal bikin hati gue hancur
“hmhm gue…. Kalo boleh jujur iya”
Sebuah jawaban yang membuat gabriel lemas, jawaban menampar dan sangat menyakitkan. “kok bisa?” suaranya pelan dan nyaris tak terdengar
“gue sendiri gak tau yel.tiba-tiba perasaan itu dateng aja”
“oke… terus sekarang?”
“gue gak tau. Yah biar ajalah rio tau dengan sendirinya”
Gabriel mengangguk lemah. Jawaban sivia sudah cukup menjelaskan semua. Entah gimana hatinya saat ini. Hancur, terluka atau sakit? gabriel rasa semuanya ada. Patah hati!!
>>>>>>>>>>>>>>>>>
“via, gue boleh tanya gak?” ujar gabriel sambil menyusun buku-bukunya. Saat itu mereka sedang ada di perpustakaan. Mencari tugas kuliah seperti biasa
Sivia menoleh, kemudian tersenyum kecil “apa yel. Tanya aja”
Gabriel diam sejenak. Hatinya sangat bimbang hingga dia gak tau apa yang harus dia lakukan. Kejadian tempo hari membuat gabriel sadar kalau perasaannya selama ini sia-sia. Perasaan bodoh yang dia simpan rapat-rapat. Haruskah dia mengakuinya sekarang? Tapi itu akan sama aja memperburuk keadaan
“vi, gimana perasaan lo sama rio sekarang” akhirnya pertanyaan itu terlontar dalam satu tarikan nafas. Dan jujur ada perih yang terasa
Sivia berhanti dari kegiatannya, dia duduk di bangku sambil menopang dagu. Gabriel gak ngerti maksud perubahan sikap itu
“yel, aku bingung. Apa perasaan ini salah karena aku ngerasa ini Cuma buang-buang waktu. Rio gak akan pernah nerima aku lebih dari temen karena memang diantara kita gak ada yang special tapi kalo boleh jujur aku masih berharap”
“aku ngerti yang kamu rasain vi. Dan aku rasa gak ada salahnya kamu punya perasaan itu. setiap orang berhak mencintai dan dicintai”
“tapi kalo cinta itu gak mungkin terjadi?” sivia membalikkan badannya, menghadap gabriel yang berdiri dibelakang
“kita harus bisa nerima itu, karena itu yang buat bahagia orang yang kita sayang. Mungkin lo tau kata-kata cinta gak harus memiliki. Itu bukan hanya sekedar kata-kata tapi punya makna yang dalem. Gak selamanya kita bisa milikin orang yang kita sayang dan itu bukan yang terburuk tapi justru yang terbaik. Karena kebahagiaan dia nantinya juga akan membuat kita tersenyum kan”
“walau senyum itu pahit”
Gabriel mengangguk. itu yang dia rasakan sekarang. Tersenyum dalam kepahitan. tapi buat gabriel itu gak masalah asalkan senyum sivia gak hilang. Itu udah CUKUP
“elo mau gue bantuin deket sama rio?” tanya gabriel. Rasa sakit itu muncul begitu pekat
“gak usah yel. Biar waktu aja yang jawab semua”
“tapi vi, apa itu gak akan buat hati lo sakit?”
“gak. Gak sama sekali” jawab sivia mantap. Gabriel memandang sivia teduh. Andai dia bisa melakukan apa yang sivia lakukan. Tapi rasa sayangnya begitu besar hingga sulit untuk gak merasakan sakit itu
“yel, gimana sama shilla?”
“gak gimana-gimana vi”
“yel boleh gak elo nurutin satu permintaan gue, satu aja. dan gue janji gue akan nurutin apa mau lo”
“ko lo gitu si ngomongnya. Emang mau minta apa?”
“terima shilla”
BRAKK buku ditangan gabriel jatuh. Dia menatap sivia nanar.
“sorry yel tapi gue mohon. Sekali ini aja”
“apa itu buat lo bahagia vi?”
“mungkin. Karena buat gue, bisa ngeliat orang lain bahagia dengan orang yang dia sayang itu bahagia gue yang gak ternilai”
Gabriel membuang napasnya. Dulu gabriel janji pada dirinya, bahwa dia akan melakukan apa aja asal sivia bisa bahagia tapi bukan ini!! Tuhan kenapa semua begitu rumit. Apa harus aku mengorbakan perasaan ini. Apa harus aku terluka asal orang aku sayang tersenyum?
“gue pikirin nanti vi”
“pikiran ya yel. Oh y ague duluan ya, bay”
Sepeninggal gadis itu, gabriel duduk ditempat cewe tadi. Dia memikirkannya. Tapi gak ada satu pun jawaban. gabriel menyobek kertas kosong di bagian belakang buku. Kemudian mengambl pulpen diatas meja
Sivia…….. entah gimana gue bisa nulis ini. Vi andai ada kesempatan buat muter waktu, gue aka puter waktu itu. gue akan melakukan 2 hal. Gak pernah ketemu lo sama sekali atau pergi saat gue sadar akan perasaan itu tapi gue terlambat, perasaan itu datang tanpa bisa gue cegah. Gue mengangumi lo lebih dari yang lo tau dan lebih dari orang lain. Mungkin gue cowo pengecut vi yang gak bisa ngungkapin perasaannya. Karena gue sadar rasa ini terlalu besar, terlalu murni dan terlalu indah. Buat gue, elo beda dari gadis lain. Elo punya tempat special dan hati ini!! Gue rasa Cuma tercipta buat lo. elo cinta pertama gue dan gue harap juga cinta terakhir gue. Walaupun gue sadar itu gak mungkin. Gue tau elo emang gak bisa gue milikin lebih dari temen tapi lo juga harus tau vi itu udah cukup buat gue. gue pengen lo tau kalau selama ini apa yang gue rasa itu jujur, gue tersenyum dalam kepahitan dan gue nutup semua celah dalam hati gue, BUAT ELO VI. Tapi mungkin ini Cuma cinta dalam hati, cinta yang gak akan pernah berujung. tapi asal lo tau. Mencintai lo dalam hati itu udah cukup buat gue bahagia. You are always beautiful for me and you always wonder this until whenever.
Gabriel memandang kertas itu. kertas yang menurutnya lebih mirip surat. Ahh tapi surat itu gak akan sampai pada sivia. dan gabriel gak akan mau kalau surat itu ada ditangan sivia. biarlah surat ini ada ditangannya. Dan entah sampai kapan
“woy bro” seseorang menepuk pundak gabriel. Membuatnya kembali sadar dari hal indah tadi. Mengangumi sivia!!
“eh yo. Ada apa?”
Rio . cowo itu duduk disamping gabriel “gak papa. Nyapa aja. tumben main ke perpus”
“maksud lo? Ya gak papa kan… toh ini punya kampus jadi gue berhak main kesini kan gue bayar kuliahnya”gabriel nyengir
“iyalah yel. Eh tau gak lo buku yang alvin punya? Katanya ada juga ya di perpus?”
“iya tau kok. Emang ada. Ketinggalan lo”
“hehe gue kan jarang main di perpus. Cariin dong”
“yeh… dasar lo. Yaudah bentar” gabriel beranjak pada deretan rak buku. Sementara rio hanya memperhatikan gabriel yang meneliti setiap buku besar didepannya.
“loh apaan ni” rio memungut secarcik kertas yang tanpas sengaja jatuh saat tangannya menyenggol kertas itu. rio menimbangnya. Ada rasa ingin tau dalam dirinya untuk membaca kertas yang dilipat asal itu. tapi suara gabriel membuat niat itu diurungkan
“rio sini lo. Yang ini bukan bukunya?” gumam gabriel tanpa melihat rio. Pandangannya masih meneliti deretan buku didepannya
“yoi yang ini. Thanks ya. Eh… cabut yuk. Gue males lama-lama disini haha” rio hanya nyngir yang hanya dicibir gabriel dalam hati “dasar. Yaudah yok” gabriel mengambil tasnya tanpa ingat surat rahasia yang baru ia tulis
“yo, ada acara gak lo malem ini?” tanya gabriel saat menuruni anak tangga
“gak ada. Kenapa? Mau ngajak gue kencan?” sahut rio asal
Gabriel memajukan mulutnya. Seenaknya aja rio bilang gitu. Dia masih normal kali! “najis deh.. gak. ada yang mau gue omongin sama lo. Penting banget. Jam 7 di café loli”
“oo kirain lo ada rasa sama gue. Hahaha” rio masih becanda. Gabriel mendengus. Dalam hatinya dia bertanya. Kenapa sivia bisa suka sama cowo macem rio. Yang slengean dan asal kalo ngomong
“rio….. gila lo ya. Jadinya gimana? Bisa gak?”
“bisa-bisa. Anytime for you”
Ingin rasanya gabriel lari dari situ. Dia takut kalo rio benar-benar ada kelainan….
>>>>>>>>>>>
Gabriel duduk diatas kap mobilnya. Sesekali gabriel memandang arloji yang udah nunjukin jam 7 lewat 15 itu. rio benar-benar ngaret. Padahal cowo itu kesini naik motor tapi masih aja telat kira-kira jam 7 lewat 20 motor ninja rio terpakir dihalaman café loli.. gabriel sengaja gak masuk duluan, mencegah kalo rio ngaret dan dia gak mau kalo Cuma bisa duduk manis di dalem. Ternyata dugaannya gak salah kan?? setelah omelan kecil, gabriel menarik rio masuk ke dalam café itu. suasana didalam cukup sepi. Hanya ada 5 orang pengunjung disana. Maklum, ini bukan malam minggu !!
Setelah memesan makanan, gabriel memulai obrolannya. Dia menarik napas dalam “yo… gue mau nanya sama lo. Seandainya ada cewe yang suka sama lo. Tapi dia gak berani bilang. Lo mau ngelakuin apa?”
“apa ya. Ya gue harus tau dulu cewe itu siapa. Kalo emang gue juga suka ya gue terima”
“kalo cewe itu sivia?” pertanyaan itu meluncur cepat dalam satu tarikan napas
“hah. Sivia. VIA MAKSUD LO?” rio mebelalakan matanya
“iya lo tau kan”
Gak ada jawaban dari rio tapi sedetik kemudian “HAHAHAHAHA”
“ko lo ketewa” gabriel memandangnya heran
“ya abis lo lucu. Ko sivia”
“gue serius yo. Dia suka sama lo. Gue sendiri gak tau apa yang bisa nyebabin dia suka”
Rio kembali diam… cukup lama hingga makanan pesanan mereka datang “sekarang gue deh yang balik nanya. Apa kepentingan lo si sama sivia sampe bela-belain ngajak gue ketemuan Cuma buat nanya gini?”
Pertanyaan rio sangat menampar. Satu alasan!! DIA INGIN MEMBUAT SIVIA BAHAGIA
“kok lo gak bisa jawab”
“hmhm” gabriel hanya mendesah. Entah apa yang harus dia jawab
“udah lo gak usah sembunyi dalam topeng lo itu. jujur yel. Karena kejujuran lebih berharga daripada memendam” rio merogoh saku celananya, mengambil lipatan kertas yang sudah lecek “mungkin lo tau apa ini”
Mata gabriel membulat… dia menepuk dahinya. Menyesali kebodohan itu. kenapa dia bisa lupa akan suratnya?? “lo dapet itu dari mana?”
“gak usah pura-pura gak tau. yel gue kira lo itu cowok gentle ya. Cowo yang idaman. Tapi apa…. buat ngungkapin perasaan lo sendiri aja gak bisa” cibir rio. Gabriel gak berkomentar “gue ngerti. Lo punya perasaan sama via udah lama tapi karena suatu hal yang gue gak tau apa dan pasti hal itu gak penting, lo jadi mundur. Lo lebih memilih menyimpan cinta lo yang entah sampai kapan. Membiarkan hati lo sakit dan menebar senyum sebagai topeng”
“lo gak ngerti yo. Mungkin mudah buat bilang cinta tapi gak mudah kalo lo ada di posisi gue”
“posisi lo emang kaya apa? lo ada di jurang atau ada di hutan lebat sampe linglung dan bimbang gak karuan”
“lo bener… gue emang ada di jurang. Jurang yang dalam. Gue harus bisa bebas dari jurang itu tapi hanya ada 2 pilihan tapi sayang keduanya gak akan bawa gue pulang. Keduanya Cuma akan buat gue sakit. karena 2 pilihan itu emang salah”
“jadi cinta lo buat 2 hati” rio menyimpulkan maksud perumpamaan gabriel
“you know? This is worse”
Akhirnya gabriel meceritakan semuanya. Semua yang terjadi. Antara dirinya, sivia dan shilla. tentang cintanya kepada gadis yang dia suka begitu lama namun tak ada keberanian untuk dia mengungkapkan. Tapi ketika ada setitik nyali, itu semua surut saat shilla hadir diantara mereka. Sivia menganggap shilla begitu pantas untuknya,hingga gabriel menyerah dengan situasi itu
rio hanya mengangguk mendenga cerita gabriel. menurutnya ini cukup rumit tapi pasti ada jalan keluarnya. Hanya aja Cuma gabriel yang tau. rio merasa gabriel harus milih salah satu. Atau dia gak pilih dua-duanya
“apa menurut lo gue ngehindar aja ya dari dua-duanya?” tanya gabriel mengakhiri ceritanya.
“itu teserah lo tapi menurut gue semua harus ada keputusannya. Lo harus milih satu atau gak sama sekali” rio menegaskan. Dia memberi senyum yakin pada gabriel yang hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya
………………………………..
Langit pekat bertambur bintang menemani kebimbangan di hati itu. rasanya buat apa penantian selama itu kalau ujungnya hanya rasa ragu yang ada, buat apa selama ini dia menuggu kalau akhirnya berakhir tanpa hasil. Tapi toh omongan rio ada benarnya. Semua harus diputuskan. gabriel harus memilih. Mengorbankan satu cewe entah shilla atau sivia. tapi sangat sulit untuk memilihnya. Atau yang terakhir pergi dari kehidupan 2 cewe itu dan gak berurusan dengan mereka sama sekali.
“mungkin gue butuh waktu buat tenang, gue harus menghilang sebentar dari ini semua. Sekedar buat cari jalan yang terbaik” ujar gabriel dengan tarikan napas panjang. Dia memejamkan matanya. Menikmati indahnya malam dengan bintang yang mungkin saksi dari kegalauannya saat ini
>>>>>>>>>>>>>>
Waktu yang berjalan membuat semua berubah. Kisah itu lambat laun berganti. Rasa kehilangan mejalar bersma angin yang bertiup. Entah sampai kapan kisah itu akan terus bergulir. Kisah yang endingnya belum diketahui. Kisah yang jalan ceritanya hanya waktu yang tau. tapi kisah itu yang membuat sivia sadar akan hal yang baru dalam hatinya. Mungkin dia merasakannya. Merasakan kisah yang memang sengaja di buat. Tapi sivia gak tau apa inti kisahnya. Yang dia tau sekarang seperti kehilangan sesuatu walapun dia rasa itu tak terlalu besar apapun alasannya. Sivia merasa kehilangan!! Gabriel. Sosok itu tak lagi dia temui. Gabrel seperti hilang. Di kampus mereka hanya sekali dua kali bertatap muka, cowo itu pun tak menyapa saat bertemu, hanya seulas senyum yang mewakili, bahkan dia seperti sengaja menghilang. Setiap bertemu gabriel berusaha pergi dengan berbagai alasan. Alasan yang masuk akaln namun tak jelas untuk sivia.
‘gue ada tugas’ ‘gue harus jemput adek gue’ ‘senat lagi banyak urusan’ ‘gue ngantuk butuh istirahat’ ‘nyokap sakit’ ‘gue males yang lain aja’ dan berbagai alasan lainnya. sivia mendesah. Pandangannya menyapu seluruh halaman kampus. Honda jazz hitam itu pun tak lagi terlihat di parkiran. Gabriel benar-benar berubah. Tapi apa yang membuatnya seperti itu? pertanyaan itu terus melintas di otak sivia selama 5 hari ini.
“viaa…….” Rio membanting tasnya di atas meja panjang di bawah pohon. Tempat cewe itu duduk dan melamun. Sivia meliriknya sebentar kemudian kembali melamun. Sekarang perasaannya hilang begitu saja. Perasaannya terhadap rio! Yah entah gimana caranya tapi itu terjadi begitu aja. mungkin rio emang bukan yang terbaik dan rasa sukanya hanya sesaat
“vi ko diem si. lagi pms ya?” tanya rio enteng.
“gak” sivia menggeleng pelan. Dia sedang tidak ingin becanda apalagi becandaan garing seperti tadi
“kenapa? Kangen sama someone?”
“gak tau”
“aduhh dasar orang galau. Susah diajak ngobrol”
“siapa yang galau. Enggak”
“masa si? tau gak tanda-tanda orang galau. Dia suka ngelamun, dan mikirin orang yang menurut dia berarti. Lo miirin gabriel kan?”
Sivia menoleh. Dia tersentak. Kenapa cowo itu bisa tau? apa begitu kelihatan?
“gak usah kaget. gue tau kok bahkan gue tau lebih dari lo”
“maksudnya yo?” sivia mengerutkan dahinya.
“mungkin saatnya lo tau ini… gue juga cape kalo harus nyembunyiinya apalagi ngeliat lo uring-uringan gini vi” rio membuka tasnya. Mengambil sebuah kertas yang sudah amat lecek. Lebih lecek saat surat itu dia kasih ke gabriel tempo hari
“lo baca isinya dan lo akan tau yang sebenernya. Oh ya lo tau shilla kan?”
Sivia mengangguk “kenapa sama shilla?”
“dia udah ngerti semuanya dan dia berharap yang terbaik” rio bangkit dari duduknya. Meninggalkan sivia dengan segala rasa bingungnya setelah memandang sepersekian menit. Sivia menyerah. Dia memilih membukanya
Entah ribuan batu itu datang dari mana. Tapi yang pasti sivia merasa sakit. apa yang telah ia perbuat? Apa yang telah ia lakukan pada orang setulus gabriel? Dan kenapa dia bisa melakukan itu? sivia merasa sangat bodoh. Dia memaki dirinya sendiri. Ya Tuhan gue pasti jahat banget. Kenapa gue bisa nyakitin gabriel kenapa dia gak pernah tau itu semua. Dan kenapa dia malah membuat gabriel menerima shilla? sivia menelungkupkan wajahnya. Ingin dia menangis. Kenapa dia membiarkan orang yang benar-benar tulus itu pergi? Apa dia begitu egois?
“nangis sepuasnya kalo emang itu membuat semua lebih baik”
Sivia mendongak,mencari asal suara itu “shilla” suaranya parau, mungkin kerana dia terlalu ingin menahan tangisnya
“aku udah tau semua vi”
“shilla aku minta maaf. Aku sendiri baru tau sekarang”
“harusnya aku yang minta maaf. Aku sadar cinta itu gak bisa dipaksain. Hati gabriel untuk kamu. Dan itu gak pernah berubah walaupun ada seribu aku”
“aku tau shil dan aku merasa jahat,egois,bodoh” ujar sivia. suaranya serak dan ada sedikit air mata dikelopak matanya
“jangan pernah salahin diri sendiri vi karena itu sama aja memperburuk keadaan. Kalo emang kamu nganggep gabriel berarti dan kamu kehilangan dia. Kejar dia” shilla tersenyum. Senyum penuh arti. Sivia tau dia mengucapkan itu tulus
“apa kamu gak akan cemburu?”
Shilla tertawa renyah “apapun rasa itu, cemburu atau apa. itu bukan hak aku. Yah emang awalnya aku kesel,marah,sedih,kecewa tapi kemudian aku tau itu semua gak ada artinya. Jadi buat apa aku mikirin lebih baik aku coba cari lembaran baru. Itu lebih bagus kan” shillan menepuk pundak sivia. ucapannya seperti nasihat untuk sivia saat ini. Mungkin benar, rasa bersalahnya sekarang gak ada artinya, itu semua Cuma kerikil tajam yang gak akan ngebuat kisah ini selesai
“tapi aku udah terlambat kan. Gabriel mungkin udah membuang perasaannya jauh-jauh dan aku juga ngerasa bersalah banget sama dia shil. Aku udah nyuruh dia ngelakuin hal yang sama sekali gak dia mau. Mencintai kamu”
“gak ada kata terlambat vi, kalo emang gabriel tulus sama kamu, dia pasti akan nunggu kamu dan percaya deh. Apa yang dia lakuin sekarang, seperti menghindar semua demi kebaikan kita. Aku, kamu dan gabriel sendiri” shilla tersenyum penuh arti. Gurat wajahnya benar-benar jujur. Jadi dia mengucapkan itu bukan semata-mata menghibur tapi shilla benar-benar sudah menghapus perasaannya kepada gabriel
“kok kamu udah tau duluan si?”
“aku tau ini dari rio dan gabriel. Aku gak sengaja denger perbincangan mereka beberapa hari yang lalu saat mereka makan di kantin. Jujur aku shock tapi setelah mendapat penjelasan aku ngerti semua. Aku jadi orang ketiga” shilla tertawa kecil. Sivia merasa kehangatan dari tawanya “tapi itu bukan salah aku kan? Aku sendiri gak tau yang terjadi sebenernya. Makanya sekarang aku ingin memperbaiki semua. Yah mungkin cinta aku bukan gabriel tapi seseorang yang lebih baik”
“kamu hebat shil. Aku kagum sama ketegaran kamu”
“itu bukan ketegaran tapi memang kewajiban hehe. Sekarang kamu harus selesaiin semuanya” kata shilla yakin.
Sivia menyetujui ucapan itu. dia harus menyelesaikan proses ini! “aku akan selesaiin kisah ini shil”
“iya HARUS!!!”
>>>>>>>>>>>>>>>
Penyesalan hanya ada diakhir tapi penyesalan bukan akhir dari segalanya. Justru penyesalan adalah pembelajaran. Sivia merasakannya. Dia sadar semua itu udah terjadi. Dan sekarang dia harus memperbaikinya beberapa jam lalu dia sudah mengirim pesan yang isinya menyuruh gabriel datang kesini. Ke bukit kecil di dalam kota. Tapi mungkin gabriel gak akan datang. karena ini sudah lewat 1 jam dari pesannya
“aku akan disini entah sampai kapan” sivia memejamkan matanya. Merasakan angin yang menerpa wajah dan helai-helai rambutnya. Hatinya perih tapi mungkin gak ada apa-apannya jika dibanding gabriel
“Bawa perasaan ini terbang dan hilang bersama angin, bawa pergi ke langit,terbang ke samudera hindia,pasifik,tenggelem dia laut mengalir ke kutub, membeku dan akhirnya mati tanpa bisa mencair” sivia terus memejamkan matanya. Rambutnya terbang bersama angin. Tapi ngga bersama perasaannya
“jangan hilangin perasaan itu vi” sesaat suara itu terdengar lembut. Tapi sivia bergeming dia tetap memejamkan matanya. Buatnya suara itu hanya halusinansi karena sampai kapan pun suara itu gak akan datang untuknya
“aku disini. Buka mata kamu. Jangan pernah bilang kalo kamu akan membuang perasaan itu” tangan kekar itu sivia rasa begitu nyata. Beberapa detik dia hanya merasakannya sampai kini badannya diputar beberapa derajat “buka mata lo” perlahan sivia membuka matanya. Merasakan kehangatan yang lain, kehangatan yang nyaman
“iyel” orang itu berdiri tegak didepannya. Wajahnya tersenyum. Senyuman yang beberapa minggu ini menghilang
“sorry gue telat”
“gue kira lo gak mau dateng” ujar sivia lirih. Wajahnya kini berada dekat dengan wajah gabriel
“gue bukan gak mau dateng tapi gue takut. Via sorry ya selama beberapa minggu ini gue ngehindar dari lo,ngejauh bahkan terkesah aneh. Tapi itu bukan karena gue marah atau ada masalah tapi itu karena gue gak mau bikin hati seseorang sakit dan buat semuanya tambah kacau. Gue tau elo udah tau semuanya kan?”
“iya. dan elo udah buat gue jadi orang yang paling jahat” sivia menatap mata bening gabriel. Ada teduh dan rasa nyaman yang ia rasakan tapi kenapa ia baru sadar itu sekarang? Kenapa ngga sejak dulu?
“gue Cuma takut vi kalo gue terus berada dalam posisi itu justru gue yang merasa jadi cowok paling jahat. Gue gak mau nyakitin siapa pun jadi gue mutusin buat lari dari itu semua walaupun pada akhirnya gue sadar itu gak akan nyelesaiin masalah” gumam gabriel, dia balas menatap sivia.
“apapun alasannya gue lah orang yang salah dalam cerita ini yel. Gue gak peka sama perasaan lo, gue terlalu egois dan selalu mentingin perasaan shilla. padahal gue gak tau perasaan lo ke dia kaya apa”
Gabriel tersenyum kecut. Memang benar. Sivia salah. Salah kerana dia ngga bertanya dulu apakah dia juga menyukai shilla
“via,,, selama ini gue pake topeng. Topeng dari hati gue yang kalut. Topeng dari diri yang pengecut. Tapi akhirnya gue harus buka topeng itu. karena gue sendiri gak tahan. Gue mau semua orang tau apa yang ada di dalam hati gue. Dan sekarang topeng itu terbuka tapi elo udah tau soal itu bahkan sebelum gue berani ngelepas topengnya”
Sivia kembali mengernyit. Omongan gabriel susah untuk dicerna “maksudnya?”
“iya. gue baru berani buka topeng itu beberapa jam yang lalu. Saat rio dan shilla nyameprin gue dan bilang kalo topeng itu udah gak ada artinya lagi, kalau elo lagi nunggu gue disini dan kalo gue gak nyamperin elo, gue akan kehilangan penantian gue untuk kedua kalinya” gabriel menarik lembut tangan sivia. “gue pengecut ya vi? Cuma bisa memendam cinta?” gabriel tersenyum sambil mengerlingkan matanya
“iya elo pengecut!! Kenapa si elo gak jujur. Dan kenapa elo malah mau bantuin gue deket sama rio?” sahut sivia. senyumnya yang manis kini kembali terlihat
“karena apa yang buat lo bahagia gue akan lakuin. Itu janji gue vi”
Sivia merasakan hatinya mencelos. Tuhan… kenapa dia bisa melewatkan ini?melewatkan cowo setulus gabriel
“oh ya gimana sama rio?” gabriel kembali mengerling, membuat sivia melotot kearahnya “maksudnya??? Gue udah gak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. Ternyata itu Cuma perasaan sesaat. Oh ya elo tau gak perasaan kehilangan gue lebih dari perasaan suka gue ke rio”
“loh kok gitu?”
“soalnya gue sadar gue gak bisa kehilangan lo” sivia menjawabnya dengan nada yang susah diartikan. Suaranya terkesan jail namun ketulusan juga terlihat dari nada bicaranya
Gabriel tersenyum. Mungkin memendam itu baik tapi yang gak baik kalo harus mengorbankan orang yang kitas sayang. Dan sekarang dia telah mendapatkan penantiannya. Sivia!!
“jadi bener ni udah gak suka lagi sama rio. Dia kan ganteng” gabriel tersenyum jail
Sivia hanya manyun dan melepaskan genggaman gabriel “ih kamu ya. Bener deh aku tuh udah gak suka lagi sama rio. Mungkin aku Cuma kagum dan sekarang aku sadar satu hal kalo orang yang aku sayang ada didepan mata ku sendiri dan bodohnya aku melewatkannya dulu” sivia mengucapkannya sambil melempar tatapannya kesegala arah, ia ngga berani kalo harus melihat mata gabriel saat ini. Sivia takut penyesalannya semakin besar
“itu bagian dari proses vi. Gak ada yang perlu disesalin. Aku juga salah kok. Aku terlalu kalem sama perasaan sampai aku rela nyakitin perasaan aku sendiri”
“oh ya masalah shilla gimana? Apa dia…”
“aku rasa dia bisa ngerti. Dia dewasa dan bahkan dia yang maksa aku kesini” gabriel memotong ucapan sivia. perlahan gabriel maju dan kembali pada posisi awalnya. Berhadapan dengan gadis itu
“would you be my girl friend?”
“ciyeeee… terima aja vi” suara itu terdengar dari balik ilalang. 2 orang manusia dengan jailnya bersuil. Yap!! Mereka rio san shilla. entah sejak kapan kedua orang itu berada disana
“loh kok?”
“sorry ya mereka emang ikut kesini tapi aku juga gak tau sampe ngintip” gabriel gantian menatap shilla dan rio. Tatapan murka lebih tepatnya
“abis gue takut aja lo gak jadi nyatain cintanya makanya nyegah-myegah gue kesini hehe” rio nyengir dan berjalan mendekat
“iya dan ternyata gabriel berhasil melakukan hal yang buatnya sulit itu.suatu hal yang dulunya gak mungkin buat dia” timpal shilla dia kini berdiri disamping sivia dan merangkulnya
“tapi elo berdua jadi ganggu tau”gumam gabriel setengah kesal. rio hanya tertawa “oke deh gue gak mau ganggu. Shil dari pada jadi nyamuk meningan kita ketempat lain. Mereka mah jadul kencan di bukit yang ada ilalangnya gini. Gak gaul. Meningan kita ke café”
“oo jadi rio ngajak shilla kencan. Ehem ada apa ya?” sivia berdeham pelan. Dia melemparkan senyum mengejek kepada rio. Sementara shilla hanya bisa mendelik “what? Gak lah vi…”
“kalo iya juga gak papa?” timpal gabriel. Rio Cuma bisa bergumam pelan “ko jadi gue yang kena”
“eh eh tapi kalian berdua cocok loh. Kalian kan bagian dari kisah gue sama sivia” gabriel berpendapat yang langsung diangguki sivia “yap betull!”
“tapi gak gini juga” tanpas sadar rio dan shilla mengucapkan kata yang sama. Mereka saling berpandangan dan jelas! Saat itu wajah shilla bersemu merah
“ahahahahahaha” sivia dan gabriel tertawa lepas
Tawa itu terdengar bersama suara angin dan kicauan burung. Tawa dari mereka yang merasakan indahnya bahagia, indahnya dari akhir cerita yang gak terduga. Hidup memang misteri, semua sudah ada jalannya dari mulai prolog hingga epilognya. Namun tetap aja yang menentukan alur itu hanya Tuhan dan waktu. tapi bagaimanapun akhirnya toh semua punya kesan. Kesan yang tertinggal di halaman terakhir. gabriel menutup kisahnya dengan berbagai makna. Makna akan kejujuran dan cinta yang tulus. Dan satu yang terpenting. Makna dari sebuah proses yang rumit ………………………………………………..
Sivia menatap note book didepannya tanpa berkedip. Entah apa yang begitu menyedot perhatiannya. sekarang tepat seminggu sejak kejadian di bukit itu. sivia merasa hidupnya penuh warna. Yang paling simple dia PUNYA PACAR BARU SEKARANG!!
“via ngapain si?” gabriel duduk disebelahnya sambil menyerahkan sekaleng fanta
“ehm lagi ngecek tugas yel”
“segitunya vi. Oh ya ada kabar bagus loh” gabriel mengerling genit. Berusaha menyedot perhatian sivia
“hmhm apa?” tanyanya datar. Gabriel manyun. Caranya gak berhasil
“SHILLA SAMA RIO JADIAN”
“apa???” sivia terperanjat. Dia menatap gabriel gak percaya “kok bisa?”
“itu yang namanya takdir. Semua gak pernah sama seperti apa yang kita mau. Yahh mungin mereka terlibat cinta tak terduga. Seperti yang kita bilang. Mereka kan bagian dari kisah kita jadi Tuhan adil dengan membuat kisah mereka sendiri hehe”
“iya juga sih. Makin pinter aja sih kamuuu” sivia mencubit hidung gabriel hingga bersemu merah
“iya dong gue gitu haha”
“dasar”
“eh vi dengerin gue deh ehem” gabriel berdeham kecil sejurus kemudian menatap sivia serius “you are the most beautiful woman today. You always fill my heart with your smile. I'm happy to have you”
“hahaha iya deh aku juga”
Dan akhirnya kisah ini berakhir dengan senyuman. Kisah simple tapi butuh pengorbanan. Hidup itu perjuangan jadi jangan pernah bilang kita bakal berenti disini jangan pernah bilang kalo kita gak sanggup karena sesungguhnya kita gak pernah tau kalo kita BISA!! soal cinta…………. Hmhm semua adalah proses. Proses panjang yang mungkin banyak menguras emosi tapi percaya deh… apapun akhirnya cerita cintanya. Semua pasti ada amanat dan pelajaran. So… never be afraid to make love to talk
I will not make the same mistakes that you did I will not let myself cause my heart so much misery I will not break the way you did You fell so hard I've learned the hard way, to never let it get that far
Because of you I never stray too far from the sidewalk Because of you I learned to play on the safe side So I don't get hurt Because of you I find it hard to trust Not only me, but everyone around me Because of you I am afraid
I lose my way
And it's not too long
before you point it out
I cannot cry Because
I know that's weakness in your eyes
I'm forced to fake a smile, a laugh Every day of my life My heart can't possibly break When it wasn't even whole to start with
Because of you
I never stray too far from the sidewalk
Because of you I learned to play on the safe side So I don't get hurt
Because of you I find it hard to trust Not only me, but everyone around me
Because of you I am afraid
I watched you die
I heard you cry
Every night in your sleep
I was so young You should have known better than
to lean on me You never thought of anyone else
You just saw your pain And now
I cry In the middle of the night For the same damn thing
Because of you
I never stray too far from the sidewalk
Because of you I learned to play on the safe side
So I don't get hurt Because of you
I tried my hardest just to forget everything
Because of you I don't know how to let anyone else in
Because of you I'm ashamed of my life because it's empty
Because of you I am afraid
Because of you Because of you (Kelly kracson_ because of you)



