Jumat, 28 Januari 2011

Akhir Cerita Indah (CERPEN)

oke langsung aja baca ya
enjoy it!
*****

mungkin ini memang jalan takdirku
mengagumi tanpa di cintai
tak mengapa bagiku
asal kau pun bahagia dengan hidupmu, dengan hidupmu

telah lama kupendam perasaan itu
menunggu hatimu menyambut diriku
tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah  bahagia untukku, bahagia untukku

ku ingin kau tahu
diriku di sini menanti dirimu
meski ku tunggu hingga ujung waktuku
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja

lagu itu terngiang di telinga gabriel. Lagu yang dalam beberapa bulan ini terus dia putar. CINTA DALAM HATI. 3 kata magic yang membuat semua orang bisa berubah. Gabriel sendiri bingung apa makna dari 3 kata itu. kata yang indah namun sangat menyakitkan bila di rasa. Mungkin memendanm cinta tidak selalu buruk. Terkadang memendam perasaan itu adalah hal yang terbaik. Gak selamanya perasaan itu harus diungkapkan. Apalagi jika itu gak memungkinkan. Yah… cinta tak harus memiliki. Mungkin itu yang paling simple. Tapi apa semua orang bisa menerima kata itu?

Gabriel melirik arlojinya yang masih berdetak di angka 11. Pikiran cowo itu sedang terbang bersama laju mobilnya yang tidak terlalu kencang. Rasa gelisah menyelimuti hatinya. gabriel berpikir kenapa cinta itu harus rumit?? Serumit benang wol yang dililit kusut. Susah untuk mengurainya apalagi membuatnya menjadi indah. Tapi apapun itu cintanya saat ini tanpa alasan. Cinta dalam hatinya!! mungkin menyimpan cinta dalam hati sesuatu yang abstrak. Apalagi untuk cowok! Semua akan menganggap gabriel tidak gentle karena hanya bisa memendam perasaannya, tapi bukan itu alasan kenapa dia melakukannya. Bukan karena takut! Tapi memang belum saatnya dan gabriel gak mau kalau perasaannya dapat membuat orang lain terluka

Handphone gabriel bergetar. Diliriknya hp yang berada di atas dasbord. Seketika itu wajah muramnya berubah ceria
“iya hallo vi?”
“yel, cepet ke kampus. Gue mau cerita”
“apa?”
“ada deh. Cepet y ague tunggu. Bay”

Sambungan telfon terputus. Gabriel kembali meletakan Hpnya. Senyumnya yang sumringah kini berubah jadi kecil. Tapi toh itu gak mengurangi rasa bahagia dalam hatinya. cinta emang berjuta rasanya. Hal yang bisa membuat kita jadi aneh… terutama gabriel. Entah kenapa dengan mendengar suaranya di telfon itu sudah cukup memberi bunga dihatinya. Kedengarannya konyol tapi semuanya memang realita. Cowo itu kembali focus pada lagu cidaha yang masih dia putar. Kebiasaan barunya. Memutar lagu itu berulang-ulang. Mungkin benar kita bisa meluapkan perasaan dengan bernyanyi. Yah itu baik kan dari pada gak meluapkannya sama sekali.

Tanpa terasa Honda jazz hitam  itu telah menginjak area parkir. Melamun memang membuatnya terasa cepat
gabriel berjalan kearah taman kampus. Sebenarnya hari ini dia ingin libur. Toh sekarang hari sabtu tapi gabriel sengaja ke kampus untuk mengurus senatnya. Dan satu lagi alasan gila cowo itu………….
“iyel….” senyumnya kembali merekah. Di otaknya kembali terngiang lagu yang beberapa menit lalu dia dengar
“hai vi” cowo itu berjalan kea rah bangku panjang. Tempat seorang gadis menunggunya
“dateng juga loh. Eh gue mau cerita loh…” sivia. cewe itu tersenyum manis. Senyumnya sudah sangat terekam dalam otak gabriel
“tentang apa vi?”
“shilla” mendengar nama itu terlontar dari mulut sivia. senyum di bibirnya mendadak surut. Gabriel sudah bosan mendengar cerita sivia tentang shilla. ya memang itu bukan salah sivia tapi… ahhh andai aja sivia tau yang sebenarnya
“yel… shilla tuh beneran suka sama lo. Dia sayang sama lo tulus. Lo gak tau ya dia tuh seneng banget kalo lo ada dideketnya. Dan satu lagi. Elo first love dia. Bayangin yel. Betapa berharganya lo buat shilla”
“tapi vi…” ucapan gabriel seperti menggantung. Entah untuk berapa kali dia harus bilang kalo dia menganggap shilla hanya sebatas teman!
“yel… buka sedikit hati lo untuk dia. Pasti lo bisa” sivia memegang lengan kekar gabriel. Jujur itu membuat gabriel sedikit salah tingkah tapi dia berusaha kembali ke alamnya semula
“gak segampang itu… lo harus ngerti posisi gue” suara gabriel begitu lembut. Dalam hatinya dia ingin berteriak kalo hatinya saat ini sudah terisi dan gak mungkin dia ganti dengan mudah. SIVIA. lo orangnya vi…
“gue tau tapi seenggaknya lo bales perhatian dia. Dia sering kan bawain lo makanan,sms lo,dan segala hal yang lo suka pasti dia tau”
Gabriel seperti berada diujung jurang, kebimbangan membuatnya ingin jatuh ke bagian terdalam. Andai sivia tau kalo dialah cinda dalam hati itu, kalo dialah yang gak mungkin membuat shilla lebih dari teman untuknya. Tapi gabriel gak mempunyai keberanian untuk itu. semuanya terlalu rumit untuk terpecahkan
“yel… ko lo malah diem si”
“hmhm gak papa vi”
“ayolah. Lo kan cowo, jangan sampe lo buat hati cewe selembut shilla jadi hancur” sivia menatap cowo itu dalam. Tatapan yang membuat gabriel melayang tapi… bukan itu yang dia mau. Bukan tatapan memohon untuk membuatnya menerima shilla
“itu sama aja gue ngasih dia harapan kosong. Sampe kapan si vi lo harus jadi perantara perasaan shilla ke gue… via cinta itu murni, dan gak selamanya cinta bisa kita bagi dengan siapa pun. Terkadang cinta itu tercipta hanya untuk satu orang”
“gue tau. Tapi gue cewe yel, apa yang shilla rasain bisa gue rasain dan betapa hancurnya dia jika harapannya selama ini sia-sia”
‘andai lo juga tau apa yang gue rasain’ gabriel membatin sambil menatap gadis didepannya nanar. Mengapa sulit untuknya bilang suka dan sayang tapi itu bagus. Artinya cintanya selama ini benar-benar tulus, hingga sulit untuk dia ungkapkan dan berujung pada hal yang bimbang
“pertama dia curhat lewat sms ke gue, gue bisa tau kalo dia bener-bener tulus yel. Perasaannya terlalu lembut”

Gabriel ingat. Semua ini berawal dari pertemuan gak dingaja itu. sivia dengan shilla. mereka memang gak saling kenal tapi gabriel sangat mengenal shilla karena papahnya yang memang bersahabat dengan orang tua cewe itu. sedangkan sivia, dia sudah berteman dengan gabriel sejak SMA gabriel menyesali dunia ini yang terlalu sempit hingga kedua cewe itu bisa berteman. semua berawal dari event di kampus. Sivia yang memang panitia acara itu terpaksa harus bekerja sama dengan shilla. kordinator acara yang sama. Mereka saling cerita hingga bisa berteman seperti sekarang. Dan burukya shilla cerita kalau selama ini dia menyukai gabriel. Kalau boleh jujur gabriel tau itu sejak lama. Shilla yang mengungkapkannya sendiri tapi hatinya memang bukan untuk cewe itu. hatinya hanya untuk satu orang. Cewe yang sejak lama dia perhatikan tapi sayang sangat sulit untuknya menyadari akan perasaan gabriel
“iyel ko lo jadi cowo pelamun si. dari tadi gue tuh ngomong”
“eh sorry. Vi udahlah mood gue lagi ke situ. Meningan sekarang kita ke kantin. Gue beliin lo minum biar lo berenti ngomong soal shilla”
“tapi”
“cukup via… vi andai lo tau kalo gue cape… apa yang selama ini lo bilang bener kok. Kalo gue cowo aneh yang gak bisa nerima cewe setulus dan secantik shilla tapi please semua orang punya persepsi berbeda. Hati gue bukan buat dia… “ entah mendapat keberanian dari mana  gabriel berhasil mengungkapkan kegalauan dalam hatinya. Walau gak semua
“iya gue ngerti. Dan semuanya emang ada ditangan lo. Gue Cuma perantara aja. gue gak mau ada cewe yang hancur Cuma gara-gara cinta” suara sivia berubah lirih. Membuat gabriel menatapnya dalam. Ada sebersit sesalnya, mengapa ia bisa membuat sivia seperti itu. tapi gabriel juga berharap sivia tau perasaannya.
“gue ngerti tapi lo juga harus ngerti kalo cinta gak bisa dipaksain. Dan yang namanya patah hati pasti ada”
“iya. sorry ya kalo selama ini gue gak ngerti lo” ungkap sivia dengan seulas senyum
“its oke”
>>>>>>>>>>>>>>

Untuk berapa kalinya gabriel bertingkah autis di kamar. Menulis nama sivia pada selembar kertas, dan tentunya memutar lagu cinta dalam hati yang sudah sangat dia hafal. huh… desahan napas terdengar berat dalam dirinya. Jujur ini sangat membingungkan. Terjebak dalam 2 pilihan yang sudah ada jawabannya, tapi sayang jaawaban itu sangat salah untuk saat ini “if you know that I will always love you. although you would not know it” tulisan itu terpampang jelas di kertas yang sudah penuh dengan nama SIVIA.  gabriel merasa dirinya seperti autis yang menunggu cinta. Kenapa si dia harus terlibat dalam hal itu? kenapa dia tidak bisa mencintai satu wanita dengan mudah. kenapa semuanya terasa begitu sulit? entahlah pertanyaan itu. gabriel membirkan pertanyaan itu melayang dalam otaknya tanpa bisa terjawab.
“den gabriel”
“ehm iya bi” dia membalikkan badannya kearah pembantu yang berada diambang pintu
“ada non shilla dibawah”
“oh iya nanti saya kebawah” dengan malas gabriel bangun dari tempat tidur. Kedatangan shilla saat ini bukan yang dadakan, cewe itu sudah menefonnya beberapa menit yang lalu.
“ada apa shil” iyel tersenyum tipis dan duduk berhadapan dengan cewe itu
“aku mau nganterin kamu brownies. Aku tau banget kamu suka brownies” shilla menyodorkan sekotak kue lezat itu. cukup lama gabriel hanya memandangnya. Dalam bayangnya gabriel berharap cewe yang memberikan kue ini adalah sivia.
“hm thanks ya shil. Sebenernya lo gak usah repot-repot”
“iya gak papa kok. Aku kesini usulan dari sivia. katanya papah mamah kamu lagi gak ada dirumah jadi siapa tau aku bisa nemenin kamu”
Okey untuk berapa kalinya gabriel harus mengingat nama itu lagi. Sivia andai elo yang ada disini mungkin gue akan ceria, gak BT kaya gini. Kenapa harus shilla… dan bodohnya kenapa elo yang nyuruh dia dateng kesini. Ungkap gabriel dalam hati
“sivia baik ya… aku seneng bisa temenan sama dia. Anaknya asik,seru,gokil dan satu lagi. Dia pengertian banget. Aku berasa punya kakak”
“iya. sivia emang baik”
“kamu beruntung yel, udah temenan sama dia sejak lama. Aku aja yang baru beberapa minggu udah seneng banget”
Menanggapi ucapan shilla. gabriel hanya tersenyum simpul. Baginya ucapan shilla benar 1000 persen. Dia memang beruntung kenal sivia “shil, lo sering curhat bareng kan sama via. Via sering curhat sama lo tentang apa?”
“via si jarang lebih sering aku. Tapi kalo curhat dia lebih sering mengenai hobbynya dan masalahnya dikampus. Kaya dosen atau pelajaran”
“kalo tentang cinta?” tanya gabriel ragu, dia gak mau salah mengucapkan pertanyaan itu
“hmhm hapir gak pernah si?tapi aku tau via lagi suka sama cowo?”
“SIAPA?” gabriel seperti mendapat duren jatoh diatas kepalanya. Sivia suka sama cowo?? Jujur sejak lama dia berteman dengan gadis itu, dia gak pernah tau kalo sivia suka sama cowo, atau emang siva gak pernah nunjukinnya?
“kok kamu kaget gitu si?”
“hmhm abis aku jarang aja denger sivia lagi naksir cowo”
“kirain kamu… hehe”
“kirain apa shil?”
“kamu cemburu kalo via punya cowo”
Glekkk… ucapan seperti menampar gabriel. Jelas! Gabriel akan sangat cemburu kalo memang cowo itu bukan dirinya
“eh gak mungkin lah. Gue kan Cuma temennya. Shil lo tau gak siapa cowo itu?”
“aku gak tau tapi yang pasti dia deket sama sivia dan mungkin sama kamu sendiri”
“oo..” gabriel membentuk huruf O dimulutnya. Otaknya seperti berputar. Mencari tau siapa cowo yang dimaksud shilla. ‘siapa yang sivia suka?’ pertanyaan itu bergabung jadi satu dalam otaknya
“yel.kuenya gak dimakan? By the way kayaknya aku gak bisa lama. Mamah udah sms nih. Udah malem juga” shilla bangkit dari duduknya
“hm iya. thanks ya shil kuenya”
“oke”
Sepeninggal shilla. gabriel merebahkan tubuhnya di sofa. pikirannya masih berkutat pada pertanyaan tadi. Siapa cowo yang berhasil meluluhkan hati sivia? ahh gabriel merasa malam ini dia gak akan tidur nyenyak
>>>>>>>>>

Panas matahari pagi itu disambut dengan kantung mata hitam. Gabriel baru saja mandi. Tapi sayang kelopak matanya masih saja bengkak karena kurang tidur. Pagi ini gabriel harus pergi. Suatu hal malas di hari minggu cerah apalagi dengan keadaannya seperti ini.
Setelah dirasa rapi, gabriel menuju mobilnya. Dia menarik napas kuat. Hari ini dia akan bertemu banyak orang, dan salah satunya adalah sivia. tapi dengan kondisinya seperti ini gabriel merasa ingin terus dirumah. Memecahkan pertanyaan yang membuatnya seperti orang aneh “oke. Gue bisa bilang kemaren gue begadang nonton film” gabriel menstarter mobilnya, perlahan melajukannya menunju  PIM (pondok indah mall)

Kurang lebih 20 menit dia sudah ada di tempat itu. gabriel berjalan santai menuju j-coo. Tempat dia janjian dengan beberapa temannya untuk membicarakan tugas terbaru dari dosen.
“hei. Baru dateng lo” alvin menymbutnya. Gabriel hanya tersenyum tipis,. Hari ini moodnya terlalu jelek
“sorry ya tadi gue bangun agak kesiangan”
“yoi gak papa kali kita juga belum mulai. Masih nunggu rio” sahut zevana membuat gabriel mengangguk pelan
“yel ko mata lo item gitu si. kurang tidur?” tanya sivia yang memang duduk berhadapan dengan gabriel
“hmhm iya. semalem gue nonton film sampe larut” akhirnya gabriel memakai jawaban itu. menurutnya itu jawaban bohong terbaik
“oo… kirain ngapain”
“alah… paling ngeronda bukannya nonton film” sahut alvin enteng.
“yee emang gue kaya elo vin tukang ronda alias hansip”
“kata siapa gue hansip,. Gue penjaga keamanan”
“udah jayus banget si kalian berdua” zevana menengahi. Bercandaan cowo-cowo emang aneh, keliatan jayus abis
“eh rio dateng tuh” semua menoleh keraah rio. Cowo tinggi itu sekarang duduk disebelah sivia. wajahnya terlihat seperti menyesal “sorry ya gue telat. Nyokap gue minta nganterin ke salon dulu”
“its oke yo. Kita juga belum mulai” ujar sivia melirik rio disebelahnya. Gabriel yang memang saat itu berada didepan keduanya jelas menangkap atmosfer baru dalam diri sivia. entah apa itu… tapi yang pasti sivia berubah canggung. Gabrel kenal sivia lama dan dia tau cewe itu berubah tegang seperti berada disebelah dosen killer
Setelah makan kecil kelima mahasiswa itu melanjutkan tujuan mereka ke sini. Mengerjakan tugas!. Cukup sering perdebatan terjadi. Terutama masalah konsep dan isi. Semuanya punya pendapat masing-masing konsentrasi gabriel seperti terpecah saat itu. dia benar-benar menangkap hal yang ganjal. Sivia berubah!! Biasanya dia kritis dalam menyampaian pendapat tapi sekarang dia seperti menuruti pendapat rio!. Bukan seperti sivia yang biasanya. entah gimana gabriel mempunyai pendapat sivia menyukai cowo itu! tapi apa mungkin? Sedangkah sivia pun jarang ngobrol atau main dengan rio
…………………………

“via gue mau tanya sesuatu sama lo?” gabriel membuka pembicaraan. Saat ini dirinya dan sivia sudah selesai dari pekerjaan tadi. Mereka berdua asik jalan di mall sambil menikmati sebuah ice cream sementara yang lain sudah pulang beberapa waktu lalu
“apa yel?”
“gue ngerasa tadi lo berubah”
“hah? Berubah gimana?” sivia seakan tak mengerti maksud gabriel
“biasanya  lo paling rajin kalo ngasih pendapat tapi tadi ko lo kalem aja ya dan lebih nurut sama pendapatnya rio”
Tibatiba sivia berhenti. Tenggorakannya serasa tersangkut “ko lo bisa punya pendapat gitu yel”
“tuh kan lo jadi kaget gitu. Ya gue ngerasa aja. ada atmosfer yang beda kalo lo deket sama rio”
“siapa yang kaget… lagian beda gimana kayaknya biasa aja” sivia kembali berjalan. Dia berusaha menyusun jawaban jika nanti gabriel bertanya seperti tadi
“gak usah boong gitu kali… gue kenal lo udah lumayan lama dan  gue tau kalo lo tadi saltng dan canggung. Apa lo suka sama rio?”
UHUKKK…sivia tersedak hebat. Dia gak menyangka gabriel akan langsung menanyakan pertanyaan itu
“lo gak papa kan vi?”
“gak papa. Lagian pertanyaan lo aneh” elak sivia berusaha bersikap biasa
“tapi bener kan?” tanya gabriel takut. Please jawab enggak vi atau lo bakal bikin hati gue hancur
“hmhm gue…. Kalo boleh jujur iya”
Sebuah jawaban yang membuat gabriel lemas, jawaban menampar dan sangat menyakitkan. “kok bisa?” suaranya pelan dan nyaris tak terdengar
“gue sendiri gak tau yel.tiba-tiba perasaan itu dateng aja”
“oke… terus sekarang?”
“gue gak tau. Yah biar ajalah rio tau dengan sendirinya”
Gabriel mengangguk lemah. Jawaban sivia sudah cukup menjelaskan semua. Entah gimana hatinya saat ini. Hancur, terluka atau sakit? gabriel rasa semuanya ada. Patah hati!!
>>>>>>>>>>>>>>>>>

“via, gue boleh tanya gak?” ujar gabriel sambil menyusun buku-bukunya. Saat itu mereka sedang ada di perpustakaan. Mencari tugas kuliah seperti biasa
Sivia menoleh, kemudian tersenyum kecil “apa yel. Tanya aja”
Gabriel diam sejenak. Hatinya sangat bimbang hingga dia gak tau apa yang harus dia lakukan. Kejadian tempo hari membuat gabriel sadar kalau perasaannya selama ini sia-sia. Perasaan bodoh yang dia simpan rapat-rapat. Haruskah dia mengakuinya sekarang? Tapi itu akan sama aja memperburuk keadaan
“vi, gimana perasaan lo sama rio sekarang” akhirnya pertanyaan itu terlontar dalam satu tarikan nafas. Dan jujur ada perih yang terasa
Sivia berhanti dari kegiatannya, dia duduk di bangku sambil menopang dagu. Gabriel gak ngerti maksud perubahan sikap itu
“yel, aku bingung. Apa perasaan ini salah karena aku ngerasa ini Cuma buang-buang waktu. Rio gak akan pernah nerima aku lebih dari temen karena memang diantara kita gak ada yang special tapi kalo boleh jujur aku masih berharap”
“aku ngerti yang kamu rasain vi. Dan aku rasa gak ada salahnya kamu punya perasaan itu. setiap orang berhak mencintai dan dicintai”
“tapi kalo cinta itu gak mungkin terjadi?” sivia membalikkan badannya, menghadap gabriel yang berdiri dibelakang
“kita harus bisa nerima itu, karena itu yang buat bahagia orang yang kita sayang. Mungkin lo tau kata-kata cinta gak harus memiliki. Itu bukan hanya sekedar kata-kata tapi punya makna yang dalem. Gak selamanya kita bisa milikin orang yang kita sayang dan itu bukan yang terburuk tapi justru yang terbaik. Karena kebahagiaan dia nantinya juga akan membuat kita tersenyum kan”
“walau senyum itu pahit”
Gabriel mengangguk. itu yang dia rasakan sekarang. Tersenyum dalam kepahitan. tapi buat gabriel itu gak masalah asalkan senyum sivia gak hilang. Itu udah CUKUP
“elo mau gue bantuin deket sama rio?” tanya gabriel. Rasa sakit itu muncul begitu pekat
“gak usah yel. Biar waktu aja yang jawab semua”
“tapi vi, apa itu gak akan buat hati lo sakit?”
“gak. Gak sama sekali” jawab sivia mantap. Gabriel memandang sivia teduh. Andai dia bisa melakukan apa yang sivia lakukan. Tapi rasa sayangnya begitu besar hingga sulit untuk gak merasakan sakit itu
“yel, gimana sama shilla?”
“gak gimana-gimana vi”
“yel boleh gak elo nurutin satu permintaan gue, satu aja. dan gue janji gue akan nurutin apa mau lo”
“ko lo gitu si ngomongnya. Emang mau minta apa?”
“terima shilla”
BRAKK buku ditangan gabriel jatuh. Dia menatap sivia nanar.
“sorry yel tapi gue mohon. Sekali ini aja”
“apa itu buat lo bahagia vi?”
“mungkin. Karena buat gue, bisa ngeliat orang lain bahagia dengan orang yang dia sayang itu bahagia gue yang gak ternilai”
Gabriel membuang napasnya. Dulu gabriel janji pada dirinya, bahwa dia akan melakukan apa aja asal sivia bisa bahagia tapi bukan ini!! Tuhan kenapa semua begitu rumit. Apa harus aku mengorbakan perasaan ini. Apa harus aku terluka asal orang aku sayang tersenyum?
“gue pikirin nanti vi”
“pikiran ya yel. Oh y ague duluan ya, bay”
Sepeninggal gadis itu, gabriel duduk ditempat cewe tadi. Dia memikirkannya. Tapi gak ada satu pun jawaban. gabriel menyobek kertas kosong di bagian belakang buku. Kemudian mengambl pulpen diatas meja

Sivia…….. entah gimana gue bisa nulis ini. Vi andai ada kesempatan buat muter waktu, gue aka puter waktu itu. gue akan melakukan 2 hal. Gak pernah ketemu lo sama sekali atau pergi saat gue sadar akan perasaan itu tapi gue terlambat, perasaan itu datang tanpa bisa gue cegah. Gue mengangumi lo lebih dari yang lo tau dan lebih dari orang lain. Mungkin gue cowo pengecut vi yang gak bisa ngungkapin perasaannya.  Karena gue sadar rasa ini terlalu besar, terlalu murni dan terlalu indah. Buat gue, elo beda dari gadis lain. Elo punya tempat special dan hati ini!! Gue rasa Cuma tercipta buat lo. elo cinta pertama gue dan gue harap juga cinta terakhir gue. Walaupun gue sadar itu gak mungkin. Gue tau elo emang gak bisa gue milikin lebih dari temen tapi lo juga harus tau vi itu udah cukup buat gue. gue pengen lo tau kalau selama ini apa yang gue rasa itu jujur, gue tersenyum dalam kepahitan dan gue nutup semua celah dalam hati gue, BUAT ELO VI. Tapi mungkin ini Cuma cinta dalam hati, cinta yang gak akan pernah berujung. tapi asal lo tau. Mencintai lo dalam hati itu udah cukup buat gue bahagia. You are always beautiful for me and you always wonder this until whenever.

Gabriel memandang kertas itu. kertas yang menurutnya lebih mirip surat. Ahh tapi surat itu gak akan sampai pada sivia. dan gabriel gak akan mau kalau surat itu ada ditangan sivia. biarlah surat ini ada ditangannya. Dan entah sampai kapan
“woy bro” seseorang menepuk pundak gabriel. Membuatnya kembali sadar dari hal indah tadi. Mengangumi sivia!!
“eh yo. Ada apa?”
Rio . cowo itu duduk disamping gabriel “gak papa. Nyapa aja. tumben main ke perpus”
“maksud lo? Ya gak papa kan… toh ini punya kampus jadi gue berhak main kesini kan gue bayar kuliahnya”gabriel nyengir
“iyalah yel. Eh tau gak lo buku yang alvin punya? Katanya ada juga ya di perpus?”
“iya tau kok. Emang ada. Ketinggalan lo”
“hehe gue kan jarang main di perpus. Cariin dong”
“yeh… dasar lo. Yaudah bentar” gabriel beranjak pada deretan rak buku. Sementara rio hanya memperhatikan gabriel yang meneliti setiap buku besar didepannya.
“loh apaan ni” rio memungut secarcik kertas yang tanpas sengaja jatuh saat tangannya menyenggol kertas itu. rio menimbangnya. Ada rasa ingin tau dalam dirinya untuk membaca kertas yang dilipat asal itu. tapi suara gabriel membuat niat itu diurungkan
“rio sini lo. Yang ini bukan bukunya?” gumam gabriel tanpa melihat rio. Pandangannya masih meneliti deretan buku didepannya
“yoi yang ini. Thanks ya. Eh… cabut yuk. Gue males lama-lama disini haha” rio hanya nyngir yang hanya dicibir gabriel dalam hati “dasar. Yaudah yok” gabriel mengambil tasnya tanpa ingat surat rahasia yang baru ia tulis
“yo, ada acara gak lo malem ini?” tanya gabriel saat menuruni anak tangga
“gak ada. Kenapa? Mau ngajak gue kencan?” sahut rio asal
Gabriel memajukan mulutnya. Seenaknya aja rio bilang gitu. Dia masih normal kali! “najis deh..  gak. ada yang mau gue omongin sama lo. Penting banget. Jam 7 di café loli”
“oo kirain lo ada rasa sama gue. Hahaha” rio masih becanda. Gabriel mendengus. Dalam hatinya dia bertanya. Kenapa sivia bisa suka sama cowo macem rio. Yang slengean dan asal kalo ngomong
“rio….. gila lo ya. Jadinya gimana? Bisa gak?”
“bisa-bisa. Anytime for you”
Ingin rasanya gabriel lari dari situ. Dia takut kalo rio benar-benar ada kelainan….
>>>>>>>>>>>
Gabriel duduk diatas kap mobilnya. Sesekali gabriel memandang arloji yang udah nunjukin jam 7 lewat 15 itu. rio benar-benar ngaret. Padahal cowo itu kesini naik motor tapi masih aja telat kira-kira jam 7 lewat 20 motor ninja rio terpakir dihalaman café loli.. gabriel sengaja gak masuk duluan, mencegah kalo rio ngaret dan dia  gak mau kalo Cuma bisa duduk manis di dalem. Ternyata dugaannya gak salah kan?? setelah omelan kecil, gabriel menarik rio masuk ke dalam café itu. suasana didalam cukup sepi. Hanya ada 5 orang pengunjung disana. Maklum, ini bukan malam minggu !!
Setelah memesan makanan, gabriel memulai obrolannya. Dia menarik napas dalam “yo… gue mau nanya sama lo. Seandainya ada cewe yang suka sama lo. Tapi dia gak berani bilang. Lo mau ngelakuin apa?”
“apa ya. Ya gue harus tau dulu cewe itu siapa. Kalo emang gue juga suka ya gue terima”
“kalo cewe itu sivia?” pertanyaan itu meluncur cepat dalam satu tarikan napas
“hah. Sivia. VIA MAKSUD LO?” rio mebelalakan matanya
“iya lo tau kan”
Gak ada jawaban dari rio tapi sedetik kemudian “HAHAHAHAHA”
“ko lo ketewa” gabriel memandangnya heran
“ya abis lo lucu. Ko sivia”
“gue serius yo. Dia suka sama lo. Gue sendiri  gak tau apa yang bisa nyebabin dia suka”
Rio kembali diam… cukup lama hingga makanan pesanan mereka datang “sekarang gue deh yang balik nanya. Apa kepentingan lo si sama sivia sampe bela-belain ngajak gue ketemuan Cuma buat nanya gini?”
Pertanyaan rio sangat menampar. Satu alasan!! DIA INGIN MEMBUAT SIVIA BAHAGIA
“kok lo gak bisa jawab”
“hmhm” gabriel hanya mendesah. Entah apa yang harus dia jawab
“udah lo gak usah sembunyi dalam topeng lo itu. jujur yel. Karena kejujuran lebih berharga daripada memendam” rio merogoh saku celananya, mengambil lipatan kertas yang sudah lecek “mungkin lo tau apa ini”
Mata gabriel membulat… dia menepuk dahinya. Menyesali kebodohan itu. kenapa dia bisa lupa akan suratnya?? “lo dapet itu dari mana?”
“gak usah pura-pura gak tau. yel gue kira lo itu cowok gentle ya. Cowo yang idaman. Tapi apa…. buat ngungkapin perasaan lo sendiri aja gak bisa” cibir rio. Gabriel gak berkomentar “gue ngerti. Lo punya perasaan sama via udah lama tapi karena suatu hal yang gue gak tau apa dan pasti hal itu gak penting, lo jadi mundur. Lo lebih memilih menyimpan cinta lo yang entah sampai kapan. Membiarkan hati lo sakit dan menebar senyum sebagai topeng”
“lo gak ngerti yo. Mungkin mudah buat bilang cinta tapi gak mudah kalo lo ada di posisi gue”
“posisi lo emang kaya apa? lo ada di jurang atau ada di hutan lebat sampe linglung dan bimbang gak karuan”
“lo bener… gue emang ada di jurang. Jurang yang dalam. Gue harus bisa bebas dari jurang itu tapi hanya ada 2 pilihan tapi sayang keduanya gak akan bawa gue pulang. Keduanya Cuma akan buat gue sakit. karena 2 pilihan itu emang salah”
“jadi cinta lo buat 2 hati” rio menyimpulkan maksud perumpamaan gabriel
“you know? This is worse”
Akhirnya gabriel meceritakan semuanya. Semua yang terjadi. Antara dirinya, sivia dan shilla. tentang cintanya kepada gadis yang dia suka begitu lama namun tak ada keberanian untuk dia mengungkapkan. Tapi ketika ada setitik nyali, itu semua surut saat shilla hadir diantara mereka. Sivia menganggap shilla begitu pantas untuknya,hingga gabriel menyerah dengan situasi itu
 rio hanya mengangguk mendenga cerita gabriel. menurutnya ini cukup rumit tapi pasti ada jalan keluarnya. Hanya aja Cuma gabriel yang tau. rio merasa gabriel harus milih salah satu. Atau dia gak pilih dua-duanya
“apa menurut lo gue ngehindar aja ya dari dua-duanya?” tanya gabriel mengakhiri ceritanya.
“itu teserah lo tapi menurut gue semua harus ada keputusannya. Lo harus milih satu atau gak sama sekali” rio menegaskan. Dia memberi senyum yakin pada gabriel yang hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya
………………………………..
Langit pekat bertambur bintang menemani kebimbangan di hati itu. rasanya buat apa penantian selama itu kalau ujungnya hanya rasa ragu yang ada, buat apa selama ini dia menuggu kalau akhirnya berakhir tanpa hasil. Tapi toh omongan rio ada benarnya. Semua harus diputuskan. gabriel harus memilih. Mengorbankan satu cewe entah shilla atau sivia. tapi sangat sulit untuk memilihnya. Atau yang terakhir pergi dari kehidupan 2 cewe itu dan gak berurusan dengan mereka sama sekali.
“mungkin gue butuh waktu buat tenang, gue harus menghilang sebentar dari ini semua. Sekedar buat cari jalan yang terbaik” ujar gabriel dengan tarikan napas panjang.  Dia memejamkan matanya. Menikmati indahnya malam dengan bintang yang mungkin saksi dari kegalauannya saat ini
>>>>>>>>>>>>>>

Waktu yang berjalan membuat semua berubah. Kisah itu lambat laun berganti. Rasa kehilangan mejalar bersma angin yang bertiup. Entah sampai kapan kisah itu akan terus bergulir. Kisah yang endingnya belum diketahui. Kisah yang jalan ceritanya hanya waktu yang tau. tapi kisah itu yang membuat sivia sadar akan hal yang baru dalam hatinya. Mungkin dia merasakannya. Merasakan kisah yang memang sengaja di buat. Tapi sivia gak tau apa inti kisahnya. Yang dia tau sekarang seperti kehilangan sesuatu walapun dia rasa itu tak terlalu besar apapun alasannya. Sivia merasa kehilangan!! Gabriel. Sosok itu tak lagi dia temui. Gabrel seperti hilang. Di kampus mereka hanya sekali dua kali bertatap muka, cowo itu pun tak menyapa saat bertemu, hanya seulas senyum yang mewakili, bahkan dia seperti sengaja menghilang. Setiap bertemu gabriel berusaha pergi dengan berbagai alasan. Alasan yang masuk akaln namun tak jelas untuk sivia.
‘gue ada tugas’ ‘gue harus jemput adek gue’ ‘senat lagi banyak urusan’ ‘gue ngantuk butuh istirahat’ ‘nyokap sakit’ ‘gue males yang lain aja’ dan berbagai alasan lainnya. sivia mendesah. Pandangannya menyapu seluruh halaman kampus. Honda jazz hitam itu pun tak lagi terlihat di parkiran. Gabriel benar-benar berubah. Tapi apa yang membuatnya seperti itu? pertanyaan itu terus melintas di otak sivia selama 5 hari ini.
“viaa…….” Rio membanting tasnya di atas meja panjang di bawah pohon. Tempat cewe itu duduk dan melamun. Sivia meliriknya sebentar kemudian kembali melamun. Sekarang perasaannya hilang begitu saja. Perasaannya terhadap rio! Yah entah gimana caranya tapi itu terjadi begitu aja. mungkin rio emang bukan yang terbaik dan rasa sukanya hanya sesaat
“vi ko diem si. lagi pms ya?” tanya rio enteng.
“gak” sivia menggeleng pelan. Dia sedang tidak ingin becanda apalagi becandaan garing seperti tadi
“kenapa? Kangen sama someone?”
“gak tau”
“aduhh dasar orang galau. Susah diajak ngobrol”
“siapa yang galau. Enggak”
“masa si? tau gak tanda-tanda orang galau. Dia suka ngelamun, dan mikirin orang yang menurut dia berarti. Lo miirin gabriel kan?”
Sivia menoleh. Dia tersentak. Kenapa cowo itu bisa tau? apa begitu kelihatan?
“gak usah kaget. gue tau kok bahkan gue tau lebih dari lo”
“maksudnya yo?” sivia mengerutkan dahinya.
“mungkin saatnya lo tau ini… gue juga cape kalo harus nyembunyiinya apalagi ngeliat lo uring-uringan gini vi” rio membuka tasnya. Mengambil sebuah kertas yang sudah amat lecek. Lebih lecek saat surat itu dia kasih ke gabriel tempo hari
“lo baca isinya dan lo akan tau yang sebenernya. Oh ya lo tau shilla kan?”
Sivia mengangguk “kenapa sama shilla?”
“dia udah ngerti semuanya dan dia berharap yang terbaik” rio bangkit dari duduknya. Meninggalkan sivia dengan segala rasa bingungnya setelah memandang sepersekian menit. Sivia menyerah. Dia memilih membukanya
Entah ribuan batu itu datang dari mana. Tapi yang pasti sivia merasa sakit. apa yang telah ia perbuat? Apa yang telah ia lakukan pada orang setulus gabriel? Dan kenapa dia bisa melakukan itu? sivia merasa sangat bodoh. Dia memaki dirinya sendiri. Ya Tuhan gue pasti jahat banget. Kenapa gue bisa nyakitin gabriel kenapa dia gak pernah tau itu semua. Dan kenapa dia malah membuat gabriel menerima shilla? sivia menelungkupkan wajahnya. Ingin dia menangis. Kenapa dia membiarkan orang yang benar-benar tulus itu pergi? Apa dia begitu egois?
“nangis sepuasnya kalo emang itu membuat semua lebih baik”
Sivia mendongak,mencari asal suara itu “shilla” suaranya parau, mungkin kerana dia terlalu ingin menahan tangisnya
“aku udah tau semua vi”
“shilla aku minta maaf. Aku sendiri baru tau sekarang”
“harusnya aku yang minta maaf. Aku sadar cinta itu gak bisa dipaksain. Hati gabriel untuk kamu. Dan itu gak pernah berubah walaupun ada seribu aku”
“aku tau shil dan aku merasa jahat,egois,bodoh” ujar sivia. suaranya serak dan ada sedikit air mata dikelopak matanya
“jangan pernah salahin diri sendiri vi karena itu sama aja memperburuk keadaan. Kalo emang kamu nganggep gabriel berarti dan kamu kehilangan dia. Kejar dia” shilla tersenyum. Senyum penuh arti. Sivia tau dia mengucapkan itu tulus
“apa kamu gak akan cemburu?”
Shilla tertawa renyah “apapun rasa itu, cemburu atau apa. itu bukan hak aku. Yah emang awalnya aku kesel,marah,sedih,kecewa tapi kemudian aku tau itu semua gak ada artinya. Jadi buat apa aku mikirin lebih baik aku coba cari lembaran baru. Itu lebih bagus kan” shillan menepuk pundak sivia. ucapannya seperti nasihat untuk sivia saat ini. Mungkin benar, rasa bersalahnya sekarang gak ada artinya, itu semua Cuma kerikil tajam yang gak akan ngebuat kisah ini selesai
“tapi aku udah terlambat kan. Gabriel mungkin udah membuang perasaannya jauh-jauh dan aku juga ngerasa bersalah banget sama dia shil. Aku udah nyuruh dia ngelakuin hal yang sama sekali gak dia mau. Mencintai kamu”
“gak ada kata terlambat vi, kalo emang gabriel tulus sama kamu, dia pasti akan nunggu kamu dan percaya deh. Apa yang dia lakuin sekarang, seperti menghindar semua demi kebaikan kita. Aku, kamu dan  gabriel sendiri” shilla tersenyum penuh arti. Gurat wajahnya benar-benar jujur. Jadi dia mengucapkan itu bukan semata-mata menghibur tapi shilla benar-benar sudah menghapus perasaannya kepada gabriel
“kok kamu udah tau duluan si?”
“aku tau ini dari rio dan gabriel. Aku gak sengaja denger perbincangan mereka beberapa hari yang lalu saat mereka makan di kantin. Jujur aku shock tapi setelah mendapat penjelasan aku ngerti semua. Aku jadi orang ketiga” shilla tertawa kecil. Sivia merasa kehangatan dari tawanya “tapi itu bukan salah aku kan? Aku sendiri gak tau yang terjadi sebenernya. Makanya sekarang aku ingin memperbaiki semua. Yah mungkin cinta aku bukan gabriel tapi seseorang yang lebih baik”
“kamu hebat shil. Aku kagum sama ketegaran kamu”
“itu bukan ketegaran tapi memang kewajiban hehe. Sekarang kamu harus selesaiin semuanya” kata shilla yakin.
Sivia menyetujui ucapan itu. dia harus menyelesaikan proses ini! “aku akan selesaiin kisah ini shil”
“iya HARUS!!!”
>>>>>>>>>>>>>>>

Penyesalan hanya ada diakhir tapi penyesalan bukan akhir dari segalanya. Justru penyesalan adalah pembelajaran. Sivia merasakannya. Dia sadar semua itu udah terjadi. Dan sekarang dia harus memperbaikinya beberapa jam lalu dia sudah mengirim pesan yang isinya menyuruh gabriel datang kesini. Ke bukit kecil di dalam kota. Tapi mungkin gabriel gak akan datang. karena ini sudah lewat 1 jam dari pesannya
“aku akan disini entah sampai kapan” sivia memejamkan matanya. Merasakan angin yang menerpa wajah dan helai-helai rambutnya. Hatinya perih tapi mungkin gak ada apa-apannya jika dibanding gabriel
“Bawa perasaan ini terbang dan hilang bersama angin, bawa pergi ke langit,terbang ke samudera hindia,pasifik,tenggelem dia laut mengalir ke kutub, membeku dan akhirnya mati tanpa bisa mencair” sivia terus memejamkan matanya. Rambutnya terbang bersama angin. Tapi ngga bersama perasaannya
“jangan hilangin perasaan itu vi” sesaat suara itu terdengar lembut. Tapi sivia bergeming dia tetap memejamkan matanya. Buatnya suara itu hanya halusinansi karena sampai kapan pun suara itu gak akan datang untuknya
“aku disini. Buka mata kamu. Jangan pernah bilang kalo kamu akan membuang perasaan itu” tangan kekar itu sivia rasa begitu nyata. Beberapa detik dia hanya merasakannya sampai kini badannya diputar beberapa derajat “buka mata lo” perlahan sivia membuka matanya. Merasakan kehangatan yang lain, kehangatan yang nyaman
“iyel” orang itu berdiri tegak didepannya. Wajahnya tersenyum. Senyuman yang beberapa minggu ini menghilang
“sorry gue telat”
“gue kira lo gak mau dateng” ujar sivia lirih. Wajahnya kini berada dekat dengan wajah gabriel
“gue bukan gak mau dateng tapi gue takut. Via sorry ya selama beberapa minggu ini gue ngehindar dari lo,ngejauh bahkan terkesah aneh. Tapi  itu bukan karena gue marah atau ada masalah tapi itu karena gue gak mau bikin hati seseorang sakit dan buat semuanya tambah kacau. Gue tau elo udah tau semuanya kan?”
“iya. dan elo udah buat gue jadi orang yang paling jahat” sivia menatap mata bening gabriel. Ada teduh dan rasa nyaman yang ia rasakan tapi kenapa ia baru sadar itu sekarang? Kenapa ngga sejak dulu?
“gue Cuma takut vi kalo gue terus berada dalam posisi itu justru gue yang merasa jadi cowok paling jahat. Gue gak mau nyakitin siapa pun jadi gue mutusin buat lari dari itu semua walaupun pada akhirnya gue sadar itu gak akan nyelesaiin masalah” gumam gabriel, dia balas menatap sivia.
“apapun alasannya gue lah orang yang salah dalam cerita ini yel. Gue gak peka sama perasaan lo, gue terlalu egois dan selalu mentingin perasaan shilla. padahal gue gak tau perasaan lo ke dia kaya apa”
Gabriel tersenyum kecut. Memang benar. Sivia salah. Salah kerana dia ngga bertanya dulu apakah dia juga menyukai shilla
“via,,, selama ini gue pake topeng. Topeng dari hati gue yang kalut. Topeng dari diri yang pengecut. Tapi akhirnya gue harus buka topeng itu. karena gue sendiri gak tahan. Gue mau semua orang tau apa yang ada di dalam hati gue. Dan sekarang topeng itu terbuka tapi elo udah tau soal itu bahkan sebelum gue berani ngelepas topengnya”
Sivia kembali mengernyit. Omongan gabriel susah untuk dicerna “maksudnya?”
“iya. gue baru berani buka topeng itu beberapa jam yang lalu. Saat rio dan shilla nyameprin gue dan bilang kalo topeng itu udah gak ada artinya lagi, kalau elo lagi nunggu gue disini dan kalo gue  gak nyamperin elo, gue akan kehilangan penantian gue untuk kedua kalinya” gabriel menarik lembut tangan sivia. “gue pengecut ya vi? Cuma bisa memendam cinta?” gabriel tersenyum sambil mengerlingkan matanya
“iya elo pengecut!! Kenapa si elo gak jujur. Dan kenapa elo malah mau bantuin gue deket sama rio?” sahut sivia. senyumnya yang manis kini kembali terlihat
“karena apa yang buat lo bahagia gue akan lakuin. Itu janji gue vi”
Sivia merasakan hatinya mencelos. Tuhan… kenapa dia bisa melewatkan ini?melewatkan cowo setulus gabriel
“oh ya gimana sama rio?” gabriel kembali mengerling, membuat sivia melotot kearahnya “maksudnya??? Gue udah gak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. Ternyata itu Cuma perasaan sesaat. Oh ya elo tau gak perasaan kehilangan gue lebih dari perasaan suka gue ke rio”
“loh kok gitu?”
“soalnya gue sadar gue gak bisa kehilangan lo” sivia menjawabnya dengan nada yang susah diartikan. Suaranya terkesan jail namun ketulusan juga terlihat dari nada bicaranya
Gabriel tersenyum. Mungkin memendam itu baik tapi yang gak baik kalo harus mengorbankan orang yang kitas sayang. Dan sekarang dia telah mendapatkan penantiannya. Sivia!!
“jadi bener ni udah gak suka lagi sama rio. Dia kan ganteng” gabriel tersenyum jail
Sivia hanya manyun dan melepaskan genggaman gabriel “ih kamu ya. Bener deh aku tuh udah gak suka lagi sama rio. Mungkin aku Cuma kagum dan sekarang aku sadar satu hal kalo orang yang aku sayang ada didepan mata ku sendiri dan bodohnya aku melewatkannya dulu” sivia mengucapkannya sambil melempar tatapannya kesegala arah, ia ngga berani kalo harus melihat mata gabriel saat ini. Sivia takut penyesalannya semakin besar
“itu bagian dari proses vi. Gak ada yang perlu disesalin. Aku juga salah kok. Aku terlalu kalem sama perasaan sampai aku rela nyakitin perasaan aku sendiri”
“oh ya masalah shilla gimana? Apa dia…”
“aku rasa dia bisa ngerti. Dia dewasa dan bahkan dia yang maksa aku kesini” gabriel memotong ucapan sivia. perlahan gabriel maju dan kembali pada posisi awalnya. Berhadapan dengan gadis itu
“would you be my girl friend?”
“ciyeeee… terima aja vi” suara itu terdengar dari balik ilalang. 2 orang manusia dengan jailnya bersuil. Yap!! Mereka rio san shilla. entah sejak kapan kedua orang itu berada disana
“loh kok?”
“sorry ya mereka emang ikut kesini tapi aku juga gak tau sampe ngintip” gabriel gantian menatap shilla dan rio. Tatapan murka lebih tepatnya
“abis gue takut aja lo gak jadi nyatain cintanya makanya nyegah-myegah gue kesini hehe” rio nyengir dan berjalan mendekat
“iya dan ternyata gabriel berhasil melakukan hal yang buatnya sulit itu.suatu hal yang dulunya gak mungkin buat dia” timpal shilla dia kini berdiri disamping sivia dan merangkulnya
“tapi elo berdua jadi ganggu tau”gumam gabriel setengah kesal. rio hanya tertawa “oke deh gue gak mau ganggu. Shil dari pada jadi nyamuk meningan kita ketempat lain. Mereka mah jadul kencan di bukit yang ada ilalangnya gini. Gak gaul. Meningan kita ke café”
“oo jadi rio ngajak shilla kencan. Ehem ada apa ya?” sivia berdeham pelan. Dia melemparkan senyum mengejek kepada rio. Sementara shilla hanya bisa mendelik “what? Gak lah vi…”
“kalo iya juga gak papa?” timpal gabriel. Rio Cuma bisa bergumam pelan “ko jadi gue yang kena”
“eh eh tapi kalian berdua cocok loh. Kalian kan bagian dari kisah gue sama sivia” gabriel berpendapat yang langsung diangguki sivia “yap betull!”
“tapi gak gini juga” tanpas sadar rio dan shilla mengucapkan kata yang sama. Mereka saling berpandangan dan jelas! Saat itu wajah shilla bersemu merah
“ahahahahahaha” sivia dan gabriel tertawa lepas
Tawa itu terdengar bersama suara angin dan kicauan burung. Tawa dari mereka yang merasakan indahnya bahagia, indahnya dari akhir cerita yang gak terduga. Hidup memang misteri, semua sudah ada jalannya dari mulai prolog hingga epilognya. Namun tetap aja yang menentukan alur itu hanya Tuhan dan waktu. tapi bagaimanapun akhirnya toh semua punya kesan. Kesan yang tertinggal di halaman terakhir. gabriel menutup kisahnya dengan berbagai makna. Makna akan kejujuran dan cinta yang tulus. Dan satu yang terpenting. Makna dari sebuah proses yang rumit ………………………………………………..
Sivia menatap note book didepannya tanpa berkedip. Entah apa yang begitu menyedot perhatiannya. sekarang tepat seminggu sejak kejadian di bukit itu. sivia merasa hidupnya penuh warna. Yang paling simple dia PUNYA PACAR BARU SEKARANG!!
“via ngapain si?” gabriel duduk disebelahnya sambil menyerahkan sekaleng fanta
“ehm lagi ngecek tugas yel”
“segitunya vi. Oh ya ada kabar bagus loh” gabriel mengerling genit. Berusaha menyedot perhatian sivia
“hmhm apa?” tanyanya datar. Gabriel manyun. Caranya gak berhasil
“SHILLA SAMA RIO JADIAN”
“apa???” sivia terperanjat. Dia menatap gabriel gak percaya “kok bisa?”
“itu yang namanya takdir. Semua gak pernah sama seperti apa yang kita mau. Yahh mungin mereka terlibat cinta tak terduga. Seperti yang kita bilang. Mereka kan bagian dari kisah kita jadi Tuhan adil dengan membuat kisah mereka sendiri hehe”
“iya juga sih. Makin pinter aja sih kamuuu” sivia mencubit hidung gabriel hingga bersemu merah
“iya dong gue gitu haha”
“dasar”
“eh vi dengerin gue deh ehem” gabriel berdeham kecil sejurus kemudian menatap sivia serius “you are the most beautiful woman today. You always fill my heart with your smile. I'm happy to have you”
“hahaha iya deh aku juga”
Dan akhirnya kisah ini berakhir dengan senyuman. Kisah simple tapi butuh pengorbanan. Hidup itu perjuangan jadi jangan pernah bilang kita bakal berenti disini jangan pernah bilang kalo kita gak sanggup karena sesungguhnya kita gak pernah tau kalo kita BISA!! soal cinta…………. Hmhm semua adalah proses. Proses panjang yang mungkin banyak menguras emosi tapi percaya deh… apapun akhirnya cerita cintanya. Semua pasti ada amanat dan pelajaran. So… never be afraid to make love to talk

I will not make the same mistakes that you did I will not let myself cause my heart so much misery I will not break the way you did You fell so hard I've learned the hard way, to never let it get that far

Because of you I never stray too far from the sidewalk Because of you I learned to play on the safe side So I don't get hurt Because of you I find it hard to trust Not only me, but everyone around me Because of you I am afraid

I lose my way
And it's not too long
before you point it out
I cannot cry Because
I know that's weakness in your eyes
I'm forced to fake a smile, a laugh Every day of my life My heart can't possibly break When it wasn't even whole to start with

Because of you
I never stray too far from the sidewalk
Because of you I learned to play on the safe side So I don't get hurt
Because of you I find it hard to trust Not only me, but everyone around me
Because of you I am afraid

I watched you die
I heard you cry
Every night in your sleep
I was so young You should have known better than
to lean on me You never thought of anyone else
You just saw your pain And now
I cry In the middle of the night For the same damn thing

Because of you
I never stray too far from the sidewalk
Because of you I learned to play on the safe side
So I don't get hurt Because of you
I tried my hardest just to forget everything
Because of you I don't know how to let anyone else in
Because of you I'm ashamed of my life because it's empty
Because of you I am afraid

Because of you Because of you (Kelly kracson_ because of you)


Bintang dan Keajaiban (CERPEN)

ini cerpen sy yg kesekian. mudah-mudahan suka

enjoy!!

***

Mungkin gw adalah cowo cengeng. Gw nangis saat gw gak kuat menghadapi masalah, tapi gw juga manusia. Gw hancur saat ngeliat bokap nyokap gw berantem didepan gw tanpa peduli kalo gw sakit
ngeliatnya. Mereka ngebiarin anaknya ngeliat kekerasan terjadi, bahkan mereka
nganggep kalo gw gak ada. Siapa yang mau jadi gw??pasti jawabannya gak ada.
Hidup di keluarga yang gak jelas. Nyokap yang sibuk shoping,arisan,hura-hura
gak jelas dan bahkan dia ngerasa kaya gak punya anak. Sedangkan bokap? Dia
orang yang gila kerja, buat dia times is money. Jadi gak ada waktu buat santai.
Buat dia kita bisa hidup bahagia dengan uang. Padahal itu salah. Kita bisa
hidup bahagia karena kasih sayang. Tapi nyokap dan bokap gw gak sadar akan hal
itu!!!!!

Itu adalah kisah seorang cowo bernama alvin jonathan. Sebenarnya hidup dia sangat berkecukupan. Tapi sayang ketidaksamaan prinsip orang tuanya menyebabkan alvin
benci akan hidupnya yang hanya diisi dengan pertengkaran. Bahkan alvin sempat
berpikir kenapa tuhan membiarkan dia lahir kedunia kalau hanya untuk melihat
ketidakharmonisan keluarganya. Bener-bener miris. Mungkin kalau bisa memilih
alvin lebih milih tinggal di keluarga yang sederhana tapi dipenuhi cinta dan
kasih sayang. Gak seperti kehidupannya. Yg setiap hari hanya diisi rasa sepi.
Atau bahkan pertengkaran.

“ALVINN KAMU MAU KEMANA” teriak mamahnya yang berusaha mengejar mobil alvin yang sudah melaju cukup jauh.

Percuma alvin tetap pergi. Bahkan mobilnya kini melaju sangat kencang. Di dalam mobil, alvin sempat meneteskan air matanya. Dia begitu sakit,sedih,marah,kesal dan
kecewa. Lagi-lagi dia harus nyaksiin papah dan mamahnya berantem.

“Gw mau pergi. Pergi yang jauh” ucap alvin mantap sambil terus melajukan mobilnya. Dia gak peduli banyak orang yang protes karena mobilnya yang berjalan terlalu
kencang. Yang terpenting buat alvin dia pergi jauh dari Jakarta dan orang
tuanya.

Setelah 3 jam alvin bertarung dijalan dengan mobil sportnya. Dia tiba di daerah bandung. Alvin lebih milih pergi ke sebuah desa kecil di kawasan lembang. Dia pengen
tenang.

Saat mobil itu melaju di jalan yang sepi alvin kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai tiba-tiba sebuah sepeda lewat didepannya

“AWASSSSSS”teriak alvin berusaha memberhentikan mobilnya

Dan nyaris. Sepeda itu beserta orangnya hanya terjatuh. Dengan cepat alvin turun dari mobil

“lo gak papa kan?” tanya alvin sambil membantu seorang gadis yang tadi hampir ditabraknya

“gak papa ko” ucap gadis itu dengan nada sedikit kesakitan. Dengan bantuan alvin gadis itu berusaha berdiri

Alvin melihat cewe didepannya dari atas sampai bawah. Dari penampilannya alvin yakin gadis ini pasti penduduk asli desa ini. Dengan rok batik berwarna biru selutut dan
kaos berwarna putih ditambah dengan rambutnya yang diikat dua Udah ngeyakinkan
alvin kalo dia gadis desa sini

“mau gw anter ke rumah lo” tawar alvin ramah

Cewe itu hanya diam, tapi kemudian dia buka suara “rumah aku deket ko, kamu orang Jakarta ya?”

“iya, eh lo tau gak tempat penginapan di daerah sini?”
“disini gak ada. Tapi kalo kamu mau tinggal sebentar di rumah aku ada kamar
kosong kamu mau. Tenang aja disana juga banyak orang ko” tawar gadis itu dengan
senyum kecilnya

Alvin berpikir sebentar kemudian dia mengangguk. gak ada salahnya. Malah bagus kan jadi dia gak perlu repot nyari tempat penginapan lagi.

Gadis itu yang alvin tau bernama zevana pergi ke rumahnya dengan mengendarai sepeda mininya, sementara alvin mengikuti dari belakang dengan mobilnya.

Setibanya di rumah zevana alvin sempat takjub dan kaget. rumahnya luas namun arsitekturnya sangat tradisional. Dan lebih lagi disini banyak anak kecil. Ou
ternyata alvin baru sadar kalo ini adalah panti asuhan setelah membaca tulisan
yang terpampang di depan rumah ini.

“lo punya panti asuhan atau lo anak panti asuhan sini?” tanya alvin saat dia dan zevana duduk di teras rumah

“aku yang punya panti asuhan ini atau tepatnya orang tuaku” jawab zevana dengan senyum manisnya

“ou” alvin membulatkan mulutnya dan menatap anak-anak yang tengah asik bermain. Mereka sangat bahagia walaupun mereka tau kalo mereka tidak punya orang tua.
Mereka bisa tertawa lepas bagai tidak punya beban apapun. Sangat beda dengan
alvin. Walaupun orangtuanya lengkap tapi hidupnya sangat hampa. Bahkan mungkin
anak-anak disini jauh lebih beruntung dari alvin

“ini minumnya. Kamu pasti abis perjalan jauh ya” seorang ibu datang dengan membawa 2 gelas cangkir berisi teh hangat.

“makasih bu” ujar alvin ramah sambil meneguk tehnya.

“bu,boleh kan dia tinggal disini sementara?” tanya zevana

Ibu itu yang ternyata orang tua zevana mengangguk. dia mepersilakan alvin untuk tidur disalah satu kamar yang kosong.

Sebelum ke kamarnya alvin sempat bermain dan berbincang-bincang dengan anak-anak panti. Alvin bahagia melihat keceriaan mereka. Walau sangat sederhana tapi mereka bisa
bahagia. apalagi senyum mereka, bener-bener bisa bikin alvin ikut tersenyum.
Dari kejauhan zevana memandangi alvin dan anak-anak.

“sepertinya cowo itu sedang ada masalah” ucap zevana yang pandangannya tertuju pada alvin

“ze, kamu tau dia dari mana”

“eh ibu. Zeva juga gak tau, tapi diliat dari penampilannya sepertinya dia orang Jakarta”

“iya si ibu juga ngira gitu. Yaudah ibu ke dapur dulu nyiapin makan buat nanti malem”

“iya bu”

Sepeninggal ibunya zevana kembali menatap alvin yang kini asik bermain kejar-kejaran dengan anak-anak. Zevana berpikir untuk bertanya maksud kedatangan alvin ke bandung.
Tapi itu diurungkan zevana, dia gak mau ganggu.

>>>

Malam harinya selepas makan, alvin berjalan ke halaman depan. Dia duduk di sebuah pendopo sambil menikmati suasana malam di bandung. Pandangannya menerawang kedepan.
“Mungkin gak ya papah sama mamah nyariin gw, atau mereka gak sadar kalo gw
pergi” ujar alvin mencoba menahan kesedihannya.

“sebenarnya tujuan kamu kesini mau apa?” zevana berdiri dibelakang alvin, sambil membawa sebuah jaket berwarna hitam

Alvin menoleh kemudian kembali menatap kedepan “gw pengen menghindar dari kehidupan gw, intinya gw kesini buat nenangin diri”

“jadi bener dugaan aku kalo kamu ada masalah” zevana berjalan kearah pendopo dan duduk disebelah alvin “ini dari ibu, disini dingin” zevana menyodorkan jaket
hitam yang dibawanya

“thanks” jawab alvin singkat dan mengambil jaketnya

“masalah kamu sebenarnya apa?” tanya zevana kemudian

Alvin melirik zevana sebentar kemudian mengehela napasnya “gw benci sama kehidupan gw ze,gw pengen lari, pergi supaya gw tenang”

“apa dengan kamu lari semua masalah keluarga kamu itu selesai?” zevana menatap alvin disebelahnya

Alvin membuang mukanya “lo gak ngerti ze, kehidupan gw sungguh miris. Orang tua gw gak pernah ganggep gw ada, mereka sibuk sama urusan mereka masing-masing. buat
mereka yang penting apa yang gw mau mereka bisa turutin dan semua selesai.
Padahal enggak, yang gw butuhin sebenernya kasih sayang mereka,perhatian
mereka. Ze gw sirik sama anak-anak disini. Walaupun mereka gak punya orang tua
tapi mereka bisa bahagia” ucap alvin, sebuah senyum miris terukir di bibirnya

“mereka bahagia karena mereka ikhlas ngejalaninnya. aku yakin kalo kamu ikhlas kamu bisa ngejalaninnya. Hidup itu gak selamanya sempurna. Tapi karena itu semua
kita jadi tau kalo hidup kita penuh arti. Vin aku yakin orang tua kamu sayang
sama kamu. Tapi mungkin cara mereka ngungkapin rasa sayangnya itu gak seperti
apa yang kamu mau. Percaya gak ada orang tua yang gak sayang sama anaknya”
jelas zevana bijak. Alvin hanya terdiam mencerna kata-kata zevana tadi. Mungkin
ada benernya tapi gimana mau ikhlas kalo setiap hari harus liat keegoisan
orangtuanya

“gw tetep mau nenangin diri, sampai waktu yang gak bisa gw tentuin” kata alvin dengan tatapan tajam kedepan. Zevana mau bicara lagi tapi alvin malah pergi. Yah
mungkin dia perlu waktu. Pikir zevana

>>>

Matahari udah menampakan dirinya di ufuk timur. Perlahan zevana membuka matanya. Dilihatnya jam yang tergantung di dinding. ½ 6.

Dengan cepat zevana bergegas cuci muka dan beranjak ke dapur

“ibu,ada yang bisa zeva bantu” tanya zevana begitu dia sampai di dapur

“kamu bantuin ngiris wortel sama kentang aja nak” ucap ibunya yang kini asik dengan berbagai bumbu masak

Zevana bergegas mengambil pisau dan memotong wortel juga kentang yang terlihat masih segar. Gak lama setelah itu anak-anak panti yang umumnya perempuan datang dan
ikut membantu,

Di panti asuhan ini semua anak memang diajarkan untuk hidup mandiri dan gak selalu bergantung dengan orang lain, makanya setiap pagi anak-anak peremuan sudah
bangun untuk rapi-rapi dan beres-beres

Setelah masakan siap zevana bergegas memanggil anak-anak yang lain untuk makan. Sampai yang terakhir memanggil alvin yang dari tadi belum nampakin dirinya.

“alvin” zevana membuka pintu kamar alvin tapi nihil. Kamar itu kosong. Zevana coba cari alvin ke tempat lain tapi alvin juga gak ada

“ka zeva nyari alvin?” tanya seorang anak panti bernama iyan

“iya, kamu liat?”

“dia ke perkebunan teh ka dari tadi pagi”

“ou yaudah makasih ya” zevana tersenyum dan berlalu keluar.

Diambilnya sepeda dari garasi dan bergegas pergi ke perkebunan teh. Sebenarnya ngapain juga zevana bela-belain nyari alvin, toh dia bisa pulang sendiri tapi entah
kenapa ada sesuatu yang memaksa zevana untuk nyusul alvin.

Setibanya dikebuh teh, mata zevana mencari-cari orang yang dimaksud. Dan gak perlu waktu lama untuk zevana nemuin orang itu

“alvin” panggil zevana keras

Alvin yang sedang terdiam di sebuah pendopo menoleh, jujur aja alvin sempet kaget, tapi perasaan itu cepat dihilangkannya

Zevana yang melihat reaksi alvin hanya diam jadi gak sabaran, tanpa pikir panjang zevana menghampiri alvin.

“kamu ngapain, eh ya kamu pulang gih kita mau sarapan” ucap zevana yang napasnya sedikit tersenggal Karen cape

“gw belakangan aja” jawab alvin datar. Zevana melongo, ko cowo ini jadi dingin si. Batin zevana yang menatap aneh ke cowo didepannya. Belum hilang keheranan
zevana terhadap sikap dingin avin, alvin malah beranjak dari tempatnya. Dengan
langkahnya alvin berjalan ke sebuah sungai kecil yang berada gak terlalu jauh
dari tempatnya tadi. Zevana masih terdiam

“ze ngapain masih disitu sini deh” ucap alvin setengah berteriak. Zevana tersadar dari diamnya dan berjalan kearah alvin.

Sampai disana bukannya ngejelasin maksud ke sungai ini alvin malah menyipratkan air sungai ke zevana. Tentu aja zevana gak terima dan bales nyipratin alvin

“ayo loh ze. Kena” tawa alvin ceria sambil terus menyipratkan air sungainya. Zevana yang gak sanggup dengan serangan alvin yang bertubi-tubi akhirnya nyerah dan
menyingkir ke pendopo tadi. Alvin tertawa makin keras ngeliat baju zevana basah
semua. Bener-bener lucu, batin alvin yang tentu aja gak diucapkan secara
langsung.

Saat melangkah dengan sisa tawanya naas alvin terpeleset dan kepalanya membentur sebuah batu besar

“ALVINN” teriak zevana keras,

>>>

Perlahan alvin membuka matanya. Kepalanya terasa pusing. Entah apa yang terjadi pada dirinya

“kamu udah sadar. Syukurlah” senyum zevana menggembang dan wajahnya terlihat lega

“gw dimana?” tanya alvin masih gak ngerti dengan apa yang terjadi pada dirinya

“tadi kamu kepeleset dan kepala kamu kebentur batu”

Alvin mengingat kembali kejadian itu. tapi kepalanya masih pusing. Dilihatnya jendela yang terbuka. Suasana sudah mulai gelap. Berarti udah malem

“gw mau keluar ze” pinta alvin. Suaranya terdengar lirih.

Zevana menganggukan kepalanya dan mengambil sebuah kursi roda. Diajaknya alvin kehalaman rumah sakit. suasanan saat itu benar-benar indah.bintang bertaburan
dan menerangi cahayanya tanpa batas.

Alvin mendongakan kepalanya ke langit, menatap bintang-bintang yang dengan senangnya berkelip-kelip dengan indah.

“kamu gak mau ngabarin orang tua kamu tentang keadaan kamu sekarang ini. Aku yakin mereka khawatir”

“nihil ze. Gw gak yakin mereka peduli sama gw. Dan mungkin mereka gak sadar kalo gw pergi, jadi buat apa gw kasih tau”

Zevana menghela napasnya. Kasian alvin, dia frustasi karena orang tuanya

“kamu liat gak bintang diatas sana. Disana pasti ada bintang buat kamu, dan bintang itu yang akan bawa kamu pada kebahagian. Kamu harus inget vin Tuhan gak pernah
tidur, dia selalu ngedenger doa hambanya.”

“terus apa hubungannya sama bintang. Apa bener bintang bisa ngebawa gw pada kebahagian?”

“iya. Bintang hadir karena keajaiban dan kalo kamu percaya pada keajaiban pasti kamu bisa dapetin bintang yang bersinar dan bintang itu akan ngebawa kamu pada
keajaiban yang kamu harapkan. Tapi itu juga kalo kamu percaya dan kamu ikhlas.
Hidup itu penuh misteri dan kita gak akan tau apa yang akan terjadi besok tapi
kalo kita ikhlas ngejalaninnya baik itu buruk aku yakin kamu bakal nerima
semuanya dengan lapang dada tanpa menyesali apapun”

Alvin menatap zevana disebelahnya. Ucapannya tadi benar-benar dalam. Mungkin ada benarnya. Selama ini alvin emang menyesali kehidupannya dan alvin juga gak
pernah ikhlas ngejalaninnya. Ya zevana benar alvin harus ikhlas. Dan sekarang
alvin janji untuk ikhlas nerima semuanya.!!!

>>>

Hari ini matahari bersinar sangat cerah, udara di lembang juga sangat sejuk. Dengan semangat alvin membuka matanya. Dilihatnya zevana yang tertidur di sofa. sebuah
senyum mengembang dibibir cowo putih itu

Dengan langkahnya yang sulit alvin beranjak mengahampiri zevana. Di belainya rambut zevana lembut “thanks ya lo udah ngajarin gw banyak hal. Dan gw akan inget itu terus”

TOKK TOKK. Pintu kamar alvin terketuk,dan masuklah seorang suster “nak alvin ada yang mencari nak alvin di luar” kata suster itu ramah.

Alvin mengangguk dan beranjak keluar

Dan alvin hanya terperangah melihat tamu yang datang. Apa alvin mimpi? Tapi semuanya begitu nyata.

“alvin sayang” mamahnya berlari menghampiri alvin dan memeluknya erat. Yaps yang datang adalah papah mamah alvin. Sungguh ini luar biasa

“sayang kamu kenapa pergi si, dan sekarang kamu bisa ada di rumah sakit. kamu bikin khawatir mamah”

“mamah khawatir sama alvin?” tanya alvin masih gak percaya

Mamahnya saling pandang dengan papah. “kita khawatir, kita udah cari kamu kemana-mana bahkan semua temen kamu udah papah telfon. Maafin papah sama mamah ya karena
kita gak ngerti perasaan kamu” papahnya berjongkok dan gantian memeluk alvin

“iya sayang maafin kita ya” mamahnya tersenyum dan meneteskan airmatanya

Alvin sangat terharu, ini seperti mimpi indah, dan kalau memang ini mimpi alvin gak akan bangun.

Dari kejauhan zevana hanya tersenyum, alvin udah dapetin kebahagiannya, dan sekarang alvin gak akan pernah menyesali kehidupannya lagi.



Besoknya alvin sudah dibolehkan pulang, sebelum berangkat kejakarta alvin sengaja ngajak papah mamahnya ke panti asuhan yang selama di lembang alvin tempati. Ternyata
mamah papahnya udah tau tentang panti ini, malah tante nia (ibunya zevana) yang
ngasih tau keberadaan alvin di sini. Tentunya dengan menelfon dari HP alvin
yang tertinggal saat alvin pergi ke kebun teh

“mah pah alvin pergi bentar ya”

Mamahnya yang sedang asik ngobrol dengan tante nia mengangguk.

Alvin berjalan ke halaman belakang. Dilihatnya zevana yang sedang terdiam di ayunan. Alvin harus berterima kasih sama zevana.

“ze thanks ya”

Zevana tersadar dari lamunannya, dia menoleh dan melihat alvin yang berdiri disebelahnya

“buat apa?”

“buat nasihat lo. Lo bener kalo kita ikhlas ngejalanin hidup hidup itu bakal lebih berarti, dan lo tau gw udah dapetin bintang yang semalem” alvin tersenyum dan berjalan
mendekat

“sama-sama. Aku Cuma pengen kamu sadar kalo gak ada orang tua yang gak sayang sama anaknya. Oya kamu pulang hari ini?” tanya zevana. Entah kenapa ada perasaan sedih dan
kehilangan yang zevana rasain. Padahal dia baru ketemu alvin 4 hari ini tapi
seperti udah ketemu lama.

“iya. Sebenernya gw masih pengen disini, main sama anak-anak nikmatin suasana sejuk dan gw masih pengen belajar banyak dari lo”

Zevana terdiam dan menatap alvin dalam. Rasanya begitu berat untuk kehilangan cowo itu

“ze, gw ada sedikit kenang-kenangan buat lo” alvin tersenyum dan mengambil gelang hitam yang tergantung di tangannya “Cuma ini yang bisa gw kasih” alvin meraih tangan
zevana dan memasang gelang karet berwarna hitam itu

“makasih ya, aku pasti bakal merasa kehilangan banget” kata zevana tulus dan itu adalah kata hati zevana saat ini

“gw juga, walaupun pertemuan kita baru tapi gw ngerasa ini begitu berarti. Lo udah ngebuat hidup gw berubah dan gw gak akan lupain itu” alvin menggenggam tangan
zevana erat. Perasaan kehilangan juga sangat dirasakan alvin

“tapi gw janji kalo gw ada waktu gw pasti main kesini. Karena gw yakin gw gak akan bisa kehilangan lo” alvin menatap zeva dalam. Ada kasih sayang terpancar disana

Zevana tersenyum dan mengangguk “aku akan tunggu kamu ko”

“CIYEEEEE” sorak semua anak panti yang melihat adegan romantis didepannya

Alvin dan zevana menoleh. Beberapa saat kemudian mereka tersenyum dan tertawa bersama.

“ze, gw sayang sama lo” bisik alvin di telinga zeva.

Jantung zevana berdegup kencang, secepat itu alvin bilang sayang sama dia. Tapi zevana seneng “me too” zevana tersenyum simpul



Siang ini alvin bener-bener ngerasa hidupnya penuh arti, jujur aja susah untuk alvin ninggalin tempat ini. Pasti alvin akan kangen tawa anak-anak panti yang begitu
polos. Oya papah alvin juga udah janji loh untuk ngasih dana bantuan untuk
panti ini, baik sekolah ataupun untuk keperluan sehari-hari, zeva sama ibunya
juga gak perlu cape-cape masak karena papah alvin sengaja manggil orang untuk
bantuin tante nia dip anti. Dan zevana bisa sekolah serius tanpa harus ikut
bantu jagain anak-anak

“dadah semua, kita pergi dulu ya” teriak alvin dari jendela mobilnya

Semua anak panti,tante nia dan zevana melambaikan tangannya. Dan mobil itu melaju sampai tak terlihat lagi

Zevana hanya menatapnya dengan berbagai perasaan. Tapi satu yang pasti, zevana bahagia dan dia akan terus nunggu alvin. Zevana percaya alvin akan nepatin janjinya
“you always in my heart”





________TAMAT__________



The rains of love (CERPEN)

kayaknya gak sebagus yang sebelumnya :(. hmhm abis ini cerpen yang paling panjang yg pernah ku buat. wkwk udah gitu cerpen pertama saya yang menggunakan sudut pandang orang pertama. jadi agak gak jelas gitu. maklumin ya. dibuatnya juga disaat iseng dan disela thr.wkwk
oke hope you like it!
***

Kadang aku terpaku ketika hujan datang. Desiran suaranya membuat hatiku tenang, air yang mengalir membuatku ingin melihatnya terus. Apalagi ketika hujan datang saat malam. Beradu dengan dingin dan rintikan air. Sungguh membuatku merasa teduh. Mungkin aku bisa berlama lama duduk di jendela kamar hanya untuk menatap hujan. Tapi aku juga benci jika hujan datang bersama petir. Rasanya keindahan yang harusnya dirasakan jadi hilang dengan suara keras yang memekakan telinga.
Aku ingin sekali petir berhenti, dan saat petir berhenti aku bisa kembali menikmati bau hujan dan rintikannya yang membuat teduh
“acha udah malem gak tidur nak?” tanya mamahku yang kini merangkulku hangat
“iya mah sebentar lagi” tolaku halus. Rasanya sangat sulit untukku meninggalkan hujan. Aku ingin terus menikmatinya. Bahkan mungkin sampai aku terlelap
“yaudah mamah keluar dulu”
Sepeninggal mamahku, aku kembali menghadap keluar jendela. Desiran hawa dingin sangat kurasakan. Walaupun aku sudah memakai cardigan hawa dingin itu masih terasa menusuk
HOAM…. Kantuk mulai kurasakan. Ku lihat jam didinding yang berdetak lambat. Sudah jam 9, memang waktunya aku berbaring di tempat tidur. Tapi rasanya hujan belum berhenti. Ah lebih baik aku tidur saja. Tidur tenang ditemani desiran hujan yang membuat tidurku terasa indah
>>>

Matahari beranjak naik menyambut pagi yang mulai datang. Aku bersiap kesekolah pagi ini. Hari ini untuk pertama kalinya aku masuk SMA. Rasanya gak sabar untuk itu. kata orang masa SMA adalah masa yang paling membahagiakan dan penuh kesan. Tapi bagaimana dengan ku ya? Hmhm mudah-mudahan seperti itu
Sambil mempoles bedak tipis di wajah, aku mematut diri dicermin. Aku sudah siap untuk SMA!!.
“acha… keke udah nunggu dibawah” teriak mamah yang aku yakin kini berada di ruang makan
“iya mah sebentar” aku beranjak ke meja belajar. Mengambil tas dan peralatan MOPD yang sudah kusiapkan. Dengan semangat aku keluar kamar menuju ruang makan. Disana papah dan mamah sudah siap begitu juga keke. Sahabat setiaku yang rumahnya berada tepat disebelah rumahku
“mah acha berangkat dulu ya” kataku sambil meneguk segelas susu dan melahap sepotong roti. Memang sedikit terlambat dan aku yakin keke sudah gak sabar ingin berangkat. Maklum ini hari pertama SMA jadi harus baik baik dan gak boleh ternoda oleh kesalahan kecil seperti terlambat
“tapi cha nanti kamu laper?”
“gak mah gak papa. Pah acha berangkat dulu. Mah acha berangkat” pamitku sambil mencium kedua tangan papah dan mamah
Dengan langkah lebar aku berjalan menuju garasi dan naik ke mobil
“cielah semangat banget si cha” kata keke membuka pembicaraan saat mobil mulai melaju
“iya dong. Kan hari pertama SMA” kataku bangga Sambil terus tersenyum
“hmhm iya si”
Perjalanan dari rumah kesekolah gak terlalu lama. Hanya 15 menit. Dan sekarang aku disini. Didepan gedung besar yang megah. Pandanganku menyapu seluruh sekolah. dan satu kata yang dapat menggambarkan semua. KEREN.
Sekolah ini emang keren banget. Fasilitas lengkap, bersih dan nyaman apalagi ini sekolah faforit dan gak sembarang orang bisa masuk. Hanya orang-orang yang lulus tes aja yang bisa masuk kesekolah ini. Dan jujur aja aku merasa beruntung karena aku salah satu dari mereka
“ayo ke” ajaku sambil menggandeng tangan keke memasuki sekolah
Aku dan keke sangat takjub saat memasuki halamannya. Sangat luas dan bersih. Huwa benar-benar sekolah impian
“gila ni sekolah keren abis. Gak sia-sia masuk sini” ucap keke yang matanya menatap seluruh sudut sekolah.
Aku mengangguk setuju. Sekolah ini benar-benar menakjubkan
“hei anak baru ngapain masih disini. Cepet masuk ke barisan” kata seorang laki-laki yang sudah bisa kutebak. Dia pasti kaka kelas dan panitia MOPD
“i… iya ka” ujar keke yang langsung menariku ketengah lapangan untuk apel pagi
“selamat pagi semuanya. Selamat datang di SMA bintang. SMA yang kita cintai. Saya yakin semuanya yang ada disini adalah murid-murid terpilih yang berhasil lolos tes mengalahkan ratusan orang lainnya. Dan saya sangat bangga bisa membatu adek-adek untuk beradaptasi disekolah ini. Dan Mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan., mengingat jam sudah pukul 7 dan saya rasa adik-adik sudah tidak sabar maka saya akan segera membuka acara MOPD ini. Mudah-mudahan hari pertama MOS ini bisa berkesan dan menyenangkan ya. Sekian dari saya. Dan atas nama pengurus osis SMA bintang saya mengucapkan terima kasih. Dan MOPD tahun 2010 dibuka” suara tepuk tangan menyambut pidato singkat ketua osis SMA bintang. Semua tersenyum dan tak sabar untuk menjadi warga sekolah ini. Begitu juga aku dan keke yang kini bersiap memasuki kelas. Aku bahagia sekolah disini apalagi aku sekelas dengan keke. Hmhm semuanya lengkap!
“selamat pagi. Selamat datang di SMA bintang. Mudah-mudahan kalian betah ya disini. Oke selama seminggu saya dan teman-teman saya akan menjadi pendamping kalian, jadi gak perlu sungkan untuk bertanya terutama tentang sekolah ini. Oya perkenalkan nama saya Nova cyntia sinaga dari kelas 12 ipa 1 dan ini kedua teman saya yang akan juga menjadi pendamping kalian”
“makasih nova. Perkenalkan saya deva ekada. Kalian bisa panggil saya deva. Saya dari kelas 12 ips 3”
“halo saya Ahmad fauzi ardiansyah bisa panggil saya ozy. Saya dari kelas 12 ipa 4”
Semua anak mengangguk. dan tersenyum ramah pada ketiga kaka kelas yang berdiri didepan
Setelah perkenalan dari kaka kelas sekarang giliran kami murid-murid 10.2 yang memperkenalkan diri. Satu-satu maju kedepan. Menyebutkan nama lengkap,alamat,asal SMP dan alasan masuk ke sma bintang.
Setelah menunggu gak terlalu lama tibalah giliranku.
“halo semua nama saya Larissa Saffana Arif, kalian bisa panggil saya acha. Alamat saya di komplek permata indah blok A nomor 7. Asal sekolah dari SMP kebangsaan. Alas an saya sekolah disini mungkin hampir sama dengan yang lain. Yaitu karena sekolah ini memiliki citra bagus dengan prestasinya. Tapi saya juga punya alesan tersendiri yaitu saya sangat ingin masuk kesekolah internasional agar wawasan saya dapat berkembang luas dan menemukan teman baru dari berbagai sekolah. alasan lainnya karena memang ini sekolah impian jadi saya ingin mencapai impian saya dengan sekolah disini.”
“udah?atau mau lagi. Kamu perlu waktu berapa menit untuk memperkenalkan diri. Kayaknya kamu yang paling lama. Kalau ingin menceritakan biografi diri sendiri jangan sekarang. Nanti aja di luar sekolah” ujar salah satu kaka pendamping yang aku tau bernama ozy. Aku sempat tercekat dengan ucapannya. Emang salah alasan ku terlalu panjang?
“biarin lah zy, lagian itu hak dia” kak nova membelaku dan itu membuat aku sedikit tersenyum,
“yaya. Teserah kamu. Tapi aku gak suka gaya dia tadi” kata ka ozy tetap pada pendiriannya. Huh dalam hati aku memakinya saat ini. Ka deva sama ka nova gak papa tapi dia? Ko berlebihan.
“yaudah acha, kamu bisa kembali ke tempat duduk” ujar kak nova yang langsung aku angguki. Aku gak mau nyari masalah di hari pertama apalagi sama kaka kelas. NO WAY!
“sabar ya cha” kata keke begitu aku duduk
Aku hanya mengangguk pelan. Dan kembali menatap kedepan. Sesekali aku melihat kearah kaka kelas yang tadi memarahiku. Ya ka ozy. Kenapa si dia kayaknya sinis banget. Liat aja tampangnya kaya gak ikhlas jadi panitia MOS

Jam istirahat aku dan keke menuju kantin. Kami habis menyaksikan demo eskul yang seperti biasa selalu ada di setiap acara MOPD. Kantinnya benar-benar bersih. Dan aku yakin makanannya pun sehat-sehat. Untung aja aku cegah mamah buat bawain bekel
“hmhm siomaynya enak banget” ujar keke yang mulai melahap siomay pesanannya.
Aku menatap keke lucu. Anak itu masih kanak-kanak. Liat aja bumbu siomaynya belepotan disekitar mulut
“dasar kamu ke. Liat tuh belepotan mulut kamu” aku mengambil selembar tisu dari saku. Dan menyerahkannya pada keke. “thank you acha” katanya sambil mengelap bumbu yang belepetan di sekitar mulutnya
Aku hanya tersenyum kecil “ke aku beli minum dulu ya. Lupa”
“iya cha”
Aku beranjak ke kedai minuman. Dengan sedikit mengantri aku dapat memesan segelas jus strawberry kesukaan ku
BRUKK
Aku terjatuh ketika tak sengaja terselengkat kaki salah satu murid. Sontak minum yang sudah kupesan tumpah. Dan lebih parahnya lagi ka ozy. Kaka yang tadi bersikap tak enak itu kini berdiri dengan baju basah dan wajahnya. O… seperti harimau yang siap memangsa buruannya
“sekarang kamu lari keliling lapangan. 3 kali puteran” perintahnya tegas. Semua penghuni kantin manatapku yang hanya bisa tertunduk. Sebagian ada yang iba tapi sebagian lagi bersikap biasa
Aku hanya mengangguk pasrah. Lagi-lagi aku gak mau cari masalah apalagi sama yang modelnya kaya gini
Dengan sangat berat hati aku menuju lapangan yang luasss bangettt. Yaampun 3 keliling sama aja 6 keliling lapangan sekolah smp. Aku menarik napas berat.
“ayo cepet” teriak ka ozy lagi. Aku menggerutu dalam hati. Kemudian mulai berlari.
Di saat seperti ini aku berharap ada malaikat yang datang menolong, memberi ku tenaga atau menghentikan kaka kelas kejam itu
Lapangan masih menungguku lebih luas lagi tapi aku benar-benar gak kuat. Tenagaku terkuras habis. dan sekarang ahhh. Semuanya tampak buram. Dan tampak bintang-bintang disekitar kepalaku
“ACHAAAA” teriakan keke sempat kedengar samar-samar tapi itu hilang ketika semuanya benar-benar gelap
>>>
“shshs” aku mencoba membuka mata dan melihat sekitar. Tapi kepalaku terasa sangat berat
“lo gak papa” suara seorang cowo samar-samar ku dengar, aku mencoba mencari asal suara itu
“hei, lo gak papa kan?” tanyanya sekali lagi. Aku hanya mengangguk walaupun aku belum bisa melihat jelas siapa yang berbicara tadi
“sorry ya gue gak tau kalo lo belum makan dari pagi, makanya jadi pingsan gini” ujarnya penuh sesal
Aku semakin menajamkan pendengaran dan penglihatan “i…iya ka” jawabku seadanya. Sekarang aku tau siapa yang berucap. KA OZY! Ya dia. Kaka kelas kejam itu
“acha kamu udah gak papa” keke memasuki UKS tempatku sekarang berada, wajahnya tampak panik.
Aku mencoba mengangguk dan sedikit tersenyum. Sekarang kepalaku sudah berangsur baik. Mudah-mudahan gak pusing lagi seperti tadi
“gue anter pulang ya?” ajak ka ozy. Aku memandangnya heran. Ko tiba-tiba dia berubah manis gini
“hmhm tapi aku bareng keke”
“iya sama keke. Gue bawa mobil ko”
Aku menatap keke, mengisyaratkan apakah kita harus menerima ajakan ka ozy ini?
“tapi belum jam pulang kan kak?” tanya keke selembut mungkin
“belum si tapi kalian dapet dispen. Ya anggep aja ini permintaan maaf kaka atas kesalahan kaka”
“yaudah deh ka. Ya kan ke?” lagi-lagi aku menatap keke meminta jawaban
“iya ka”
Akhirnya aku dan keke pulang dengan dianter ka ozy, di mobilnya aku hanya diam, abis bingung mau apa. kepala ku juga masih sedikit pusing. Sementara keke yang duduk dibelakang asik dengan HPnya. Yah bersabar diam dalam waktu 15 menit sama kaka kelas aneh yang kini menyetir disebelahku
“stop ka ini rumahnya”
Honda jazz hitam itu pun berhenti tepat didepan rumahku.
“makasih ka” kataku tulus
“sama-sama. Makanya hati-hati kalo bawa minum” ujar ka ozy datar dengan wajah dinginnya. Aku mendengus dalam hati. Orang ini aneh! Tadi baik,eh bisa berubah dingin lagi malah pake nyindiri segala
“iya ka” balas ku gak kalah datar dan langsung turun dari mobil. Tanpa menunggu mobil itu pergi aku langsung memasuki rumah. Biarin aja kaka kelas itu mau nganggep kaya apa.
“acha kamu ko udah pulang?” tanya mamahku heran
“tanya sama keke aja. aku mau langsung ke kamar” ujarku pelan dan langsung naik ke lantai atas. Membaringkan tubuh di kasur dan mengembalikan mood ku yang lagi jelek ini
“mimpi apa si berurusan sama kaka kelas kaya gitu. Uhhh tapi sabar 3 tahun aku akan disana” aku melempar tubuhku di kasur dan menerawang pada langit-langit kamar. Kini aku coba bersabar, masa baru satu hari masuk langsung bad mood
>>>

MOS pun selesai. Sudah seminggu aku berkutat pada kegiatan itu dan sekarang aku bisa mulai belajar dan menjadi warga resmi SMA bintang. Sekarang aku banyak mendapatkan teman baru tapi tetap keke yang paling setia.
Siang ini aku sama keke mau daftar  eskul. Aku berniat ikut pakibra tapi keke dia mau ikut MIPA. Setelah melakukan pendaftaran pada sanggar masing-masing aku dan keke beranjak ke lapangan basket, bergabung dengan teman-teman yang lain
Saat itu ada kaka kelas yang sedang bermain, katanya kelas 11 sma kelas 12. Dan salah satu dari cowo-cowo yang bermain aku melihat satu sosok yang sangat menyebalkan. Ka ozy!! Kenapa ada dia.
“ka deva keren banget. Liat deh pas dia lay up,soothing uh keren banget” suara keke ku dengar jelas.sekarang dia lagi asik memperhatikan lapangan basket, terutama ka deva. Dia memang sudah menjadi salah satu fans kaka kelas yang cukup populer itu apalagi pas aku pingsan waktu mos, ka deva sama keke sempet ngobrol. Dan lihatlah keke sekarang jadi ngefans berat sama ka deva
“balik yuk ke kelas” ajaku pada keke. Sebenernya aku udah tau jawaban keke. Pasti dia nolak
“males ah cha, kamu aja gih duluan” tolaknya tanpa melihat ku
Aku mendesah dan memutuskan pergi dari lapangan basket sendirian. Tapi bingung juga mau kemana. Oh ya kenapa gak ke perpus! Hmhm oke perpustakaan
….
Ozy duduk di pinggir lapangan dengan keringat mengalir deras. Kini dia asik meneguk air minumnya hingga habis
“zy gue boleh minjem uang gak, uang gue dikelas ni, aus banget” ucap deva yang duduk disebelah ozy. Keadaannya gak jauh beda dengan ozy. Berkeringat dan kehausan
Ozy mengangguk dan mengambil dompet dari tas kecil yang dibawanya. Tibatiba dari tas itu sebuah foto terjatuh.
“zy, foto shilla” deva mengambil foto tadi dan menyerahkannya pada ozy
“thanks”
“lo masih inget sama dia?” tanya deva hati-hati. Tiba-tiba hausnya hilang dan kini dia menatap ozy serius
“masih lah dev, dia cinta pertama gue. Gue sayang banget sama dia. Tapi ya lo tau kan kejadiannya. Mungkin gue gak akan bisa dapetin yang kaya shilla”
“lo gak boleh ngomong gitu. Masih banyak lagi cewe diluar sana”
“tetep aja perasaan gue gak bisa berubah sama shilla”
“walaupun shilla udah ninggalin lo” potong deva yang langsung membuat ozy terdiam.
“zy lo harus bisa nerima kalo shilla bukan yang terbaik buat lo. Jangan terus berharap kalo itu Cuma buat lo sakit” lanjut deva yang lagi-lagi hanya disambut kebisuan ozy
Cukup lama suasana hening terjadi, hingga ozy bisa membuka mulutnya “gue emang udah sakit jadi biar aja lebih sakit” katanya yang langsung berlalu keluar lapangan.
Deva hanya mendesah dan menatap kepergian ozy nanar. Sampai kapan dia harus berharap pada suatu hal yang gak pasti, buat  apa dia rela sakit Cuma untuk cewe yang gak mungkin dia miliki
^^^^^^^^
Sudah 10 menit aku berada di perpus ini tapi belum ada buku yang ingin ku baca. Buku-bukunya bagus tapi aku rada males bacanya, mungkin buku itu terlalu berat untukku
“loh dia” aku mendesah begitu melihat seorang cowo yang kini duduk termenung. Kenapa harus dia cowonya.
“misi kak” ucapku ramah sambil mengambil buku yang tergeletak di meja tempat cowo itu duduk
“iya” jawabnya datar
Aku menganguk pelan. Seperti biasa jawaban datar dan dingin darinya
“eh tunggu dulu” suara ka ozy menghentikan langkahku. Aku sempat bingung tapi kemudian aku berbalik menghadapnya “kenapa kak?”
“gue minta maaf ya kalo selama ini gue bersikap gak enak sama lo. Sorry gue gak ada maksud” katanya datar. Hadoh ni orang minta maaf aja nadanya datar banget
Aku mengangguk dan tersenyum “iya ka gak papa”
Ka ozy mengembangkan senyumnya. Sumpah senyunya manis banget! Tapi ah dia tetep ngeselin
“cha, kalung lo” mata ka ozy tiba-tiba menatap kalung yang tergantung dileherku
“kenapa kak?” tanyaku heran
Kak ozy menggeleng, dia kembali membuang muka kearah lain “gak papa”
Aku hanya mengangguk “kak, acha balik duluan ya”
“iya”
Sepanjang perjalanan menuju kelas aku memikirkan pertemuan tadi. Tiba-tiba aku teringat dengan senyumnya. Manis dan tulus. Tapi kenapa ya sikapnya ko dingin dan aneh padahal aku bisa liat kalo dia orang yang baik dan penuh kasih sayang
^^^^^^
Pulang sekolah aku gak bareng keke. Hari ini ada latihan paskib untuk anggota baru . pasti sampe sore tapi gak papa , kan pengen cari pengalaman baru
Sudah 30 menit latihan tapi harus berhenti ketika hujan mulai turun. Hujan! Yah sesuatu yang aku tunggu.
Aku beranjak ke sebuah bangku yang letaknya didepan kelas, aku hirup bau hujan dan kuarasakan rintikan suaranya. Benar-benar indah.
“ngapain lo disini” suara seseorang membuat ku terlonjak. Kemudian aku liat siapa yang berucap tadi “ah aku lagi latihan paskib terus hujan jadi berenti deh”
Orang itu mengangguk dan melihat kearah pasukan paskib yang sedang duduk duduk gak terlalu jauh dari tempat ku sekarang
“ou… gue boleh duduk disini kan?” tanyanya lagi
“iya silakan”
Dia hanya tersenyum tipis kemudian duduk. Aku sempat meperhatikannya saat dia asik membongkar tasnya sendiri.
Wajahnya manis tapi raut wajahnya seperti menyimpan kesedihan,
“kenapa cha?”
Aku terlonjak, dan membuang muka kearah lain. Mati gue ketauan lagi! Batinku sesal
“acha”
“eh ka gak papa ka ozy” aku hanya bisa tersenyum masam dan kembali menatap kedepan.
Suasana hening terjadi, hanya suara rintikan hujan dan riak tawa anak-anak paskib yang terdengar. Yah maklum lah, yang duduk disebelahku kan mr. dingin nan datar
“cha, hmhm gue boleh tanya sesuatu gak?” ucap ka ozy memecah keheningan
Aku menatapnya bingung tapi kemudian mengangguk “boleh. Apa kak?”
“kalung yang lo pakai itu bener punya lo?”
Aku mengernyit heran. Sejak tadi aku memang memperhatikan kak ozy selalu melihat kalung yang kupakai. Entah apa maksudnya. Apa mungkin dia suka kalung ini?
“emang kenapa kak. Sebenernya ini bukan kalung aku tapi punya kakakku”
Ka ozy terdiam, seperti mengenang sesuatu tapi aku gak tau apa. cukup lama aku menunggu jawaban darinya
“cha, kalung itu mirip banget kaya kalung...” ucapan ka ozy menggantung, aku jadi semakin bingung dengannya “kaya punya” lagi lagi ucapannya terhenti
“kak, kaka mau ngomong apa si?”
“eh sorry cha. Gak papa ko”
“ou kirain kenapa”
Ka ozy kembali diam, dia ikut menatap ke depan bersama ku tapi aku yakin dia bukan sedang menikmati hujan tapi memikirkan sesuatu hal
“cha, apa kakak kamu beli kalung itu di Bali?” tanya ka ozy yang tatapannya tetap kedepan
“iya. Ko kaka tau?” tanyaku gak mengerti
ozy tampak menarik napasnya “kalo boleh tau nama kakak kamu siapa?”
“ka shilla. nama lengkapnya Ashilla Zahrantiara. Kalung ini emang punya dia dan ini emang dibeli saat dia liburan di bali”
“ternyata bener”
“hah bener apa kak?” aku menatap kak ozy penuh tanya. Ucapannya bener-bener susah dimengerti
“lo adiknya shilla, dan kalung berliontin  A itu memang punya dia kan?”
Aku semakin gak ngerti tapi aku hanya bisa mengangguk “i…iya ka. Ko kaka tau si, kaka kenal sama ka shilla”
“shilla pacar gue. Tapi hubungan kita agak renggang saat shilla mutusin sekolah di amrik. Dan kalung itu selalu ngingetin gue sama dia”
Aku terenyak, ka shilla emang pernah cerita kalo dia punya pacar tapi umurnya dibawah ka shilla dan orangnya itu… “jadi kakak pacarnya ka shilla yang umurnya dibawah dia”
“iya. umur kita beda satu tahun. Pantes aja pertama gue ngeliat lo, wajah lo familiar buat gue karena wajah lo mirip banget kaya shilla, bukan Cuma wajah tapi juga gaya. Dan semua makin meyakinkan saat gue ngeliat kalung itu”
Aku mengangguk, sekarang aku mengerti “iya si, aku sama ka shilla emang gak beda jauh dari wajah sama sifat kita. Oya kak terus hubungan kaka sama ka shilla gimana. Maksud aku sejak ka shilla nerusin sekolah di amrik. Soalnya ka shilla gak pernah cerita lagi, mungkin dia lagi sibuk ngurusin kuliah kedokterannya disana”
“gue udah putus sama dia 3 bulan yang lalu” jawab ozy datar
Jujur aku merasa gak enak. Sekarang kak ozy pasti sedih “maaf kak aku bener-bener gak tau, terakhir ka shilla bilang kalo dia akan berusaha ngejalanin hubungan jarak jauhnya sama kakak”
“iya kita emang udah coba tapi kita gak bisa, teruatama shilla. dia merasa Cuma bikin gue sakit, makanya dia lebih milih hubungan ini berakhir. Gue ngerti karena  shilla disana untuk ngejar cita-citanya jadi dokter dan gue gak mau ganggu” kak ozy menundukan wajahnya. Ada gurat kesedihan yang dalam terlihat
“sabar ya kak. Aku ngerti kesedihan kakak. Mungkin ini yang terbaik buat ka ozy sama ka shilla”
“iya. Gue pengen ko shilla bahagia” “walaupun hati kaka sakit?” tanyaku hati-hati “biarlah kalo itu emang harus terjadi. Life must go on” kak ozy tersenyum pada ku, walaupun aku tau itu senyum yang dipaksakan “iya kak” aku membalas senyumnya. dan ini bener-bener diluar dugaan. Ternyata kaka kelas dingin, datar bin nyebelin itu mantan pacar kakakku sendiri!
“cha gue balik dulu”
“iya”
Sepeninggal kak ozy aku kembali diam. Sambil menatap hujan, aku kembali teringat kejadian tadi. Kasian kak ozy. Dibalik sikap dingin dan anehnya dia menyimpan masalah yang berat
Tanpa terasa hujan berhenti bersamaan dengan matahari yang mulai beranjak ke ufuk barat. Sebagian anggota paskib sudah pulang, sekolah juga udah sepi. Lebih baik aku mencari taksi. Mamah pasti udah khawatir di rumah
^^^^^^^^^^^^^^
“acha” suara keke membuat ku beranjak dari novel yang sedari tadi aku tekuni
“kenapa ke ?”
Keke gak menjawab dia malah ikut berbaring di tempat tidurku. Aku mendengus pelan. Ni anak main tiduran aja
“cha tadi kan gue pulang bareng kak deva loh”
“hah ko bisa?”
“hehe bisa dong”
“ih keke cerita dong sama gue” kini aku menatap keke penasaran
“kan tadi nyokap gak bisa jemput terus pas gue lagi nyari taksi kak deva lewat dan ngajak pulang bareng. Uh so sweet”
“ou…” seru ku biasa dan kembali membaca novel yang tadi sempat terhenti
“just ou? Dasar gak bisa lebih heboh sedikit apa?” kata keke dengan nada marah, padahal aku tau itu Cuma dibuat-buat
“so? Emang kamu seleb ke harus heboh kalo lagi deket sama cowo?”
“ya gak si, tapi biar gue seneng kan cha” katanya membela diri “eh cha kak deva cerita sama gue kalo lo harus maklumin sikap kak ozy selama ini,katanya kak ozy gitu gara-gara ditinggalin cewenya. Kasian banget ya dia” lanjut keke
“dan lo tau siapa cewenya?”
“hah siapa?”
“kak shilla”
“what? Kak shilla kaka lo. Ko bisa?”
Aku hanya mengangkat bahu dan menceritakan semua pada keke. hingga malam larut aku dan keke masih terjaga sampai akhirnya kami terlelap
>>>>

Sudah sebulan aku menjadi murid SMA. Mungkin benar anggapan kalau masa SMA adalah masa penuh pengalaman. Karena sekarang aku sangat merasakannya.
Punya banyak temen baru, menjadi lebih dewasa dan mendapat banyak pelajaran dari yang lain. Dan semua hal yang gak aku dapetin saat SMP (penulis sok tau padahal belum SMA :p)
Hari ini untuk pertama kalinya aku akan mengikuti lomba paskibra. Walaupun gak masuk dalam pasukan inti tapi cukup seneng bisa berpartisipasi. apalagi lombanya tingkat kota. Mungkin saat aku kelas 11 aku bisa masuk dalam pasukan inti
“semangat ya cha” kata keke saat aku sedang mematut diri di cermin. Seperti biasa anak itu muncul tiba-tiba
“oke ke”
“cha ada yang nunggu dibawah tuh” kata mamah yang ikut masuk ke kamarku
“iya cha, kebawah yuk” ajak keke yang semakin membuat ku bingung
“hmhm iya deh”
Aku menuruni tangga menuju ruang tamu. Disana aku melihat seorang wanita sedang asik menatap foto-foto keluarga. Dari belakang aku tau siapa orangnya
“KA SHILLLA” teriaku langsung memeluknya
“hai adeku tersayang”
“ko kaka balik tiba-tiba?” tanyaku manja
“kan mau ngasih kejutan. Eh adek kaka mau lomba ya. Semangat ya. Kaka boleh kan liat kamu lomba?”
“boleh dong kak”
Dengan penuh semangat, aku, kak shilla dan keke berangkat menuju tempat lomba. Hari ini mamah gak bisa ikut karena harus jenguk temennya yang sakit. walaupun gitu aku tetap senang karena ada kak shilla
Kurang lebih ½ jam aku sampai di senayan tempat berlangsungnya lomba. Disini sudah ramai dengan muri-murid SMA yang datang dari jabodetabek.
“kak shilla, keke, aku kesana dulu ya mau siap-siap”
Aku langsung bergabung dengan anggota paskib SMA bintang. Dikit lagi sekolah ku akan tampil

Suara tepuk tangan terdengar meriah saat pasukan pasikbra SMA bintang mulai melakukan formasi. Aku melihat kak shilla dan keke yang terus memberi semangat, tapi tiba-tiba pandangan ku tertuju pada kak ozy. Aku baru ingat. sekarang ada kak shilla terus gimana sama kak ozy?
Dari kejauhan aku bisa melihat kalau kak ozy menyadari kehadiran kak shilla. aku jadi pensaran apa yang terjadi selanjutnya
Kurang lebih ½ jam SMA bintang melakukan aksinya. Tepuk tangan membahana ketika pasukan SMA bintang melakukan formasi terakhir. Sungguh aku merasa bahagia, dan mudah-mudahan hasil kerja keras para paskibra SMA bintang bisa berbuah manis
Selesai lomba aku, kak shilla dan keke memilih pergi ke sebuah kedai es kelapa yang gak terlalu jauh dari tempat lomba. Aku haus banget walaupun cuaca gak terlalu panas tapi rasa lelah dan bahagia membuat keringat ku keluar deras
“hai shil” suara itu sontak membuat aku,keke dan kak shilla menoleh. Malah kak shilla sampai tersedak “ozy?” ucap kak shilla gak percaya
“boleh ngomong sebentar?”
Kak shilla mengangguk dan beranjak pergi ke sebuah taman bersama kak ozy
“apa ya yang terjadi?” tanya keke. aku hanya mengangkat bahu
…………………………….
“shil, ko kamu udah balik?” tanya ozy membuka pembicaraan
“hmhm aku kangen keluarga. Gimana kabar kamu zy?” tanya shilla tampak kikuk. Untuk pertama kalinya shilla bicara lagi dengan ozy secara langsung sejak mereka putus
“baik ko” walaupun hati aku sakit. lanjut ozy dalam hati
“sorry ya, kalo aku ngambil keputusan itu. aku Cuma gak mau kamu jadi sakit hati. Aku juga pengen sekolah disana dengan tenang tanpa takut perasaan kamu gimana”
“tapi shil aku tetep sakit” aku ozy yang berusaha menahan kesedihannya
“sorry banget. Aku gak bermaksud. Maaf zy, aku tau aku jahat, aku udah nyia-nyiain kamu, dan bikin kamu hancur. Tapi tolong jangan tambah beban aku zy. Kamu boleh ngelakuin apa aja biar rasa sakit hati kamu sembuh, asal jangan suru aku untuk jadi seperti dulu. Karena aku gak bisa” setetes air mata mengalir di pipi shilla. ozy hanya menatapnya nanar. Dia gak tau harus apa. dia sangat mencintai shilla tapi gadis itu tidak mencintainya lagi. Rasanya sakit tapi ozy akan lebih sakit kalau melihat shilla menangis seperti ini
“apa kamu udah punya yang lain?” tanya ozy dingin
Shilla gak bisa menjawabnya. Hanya air mata yang terus mengalir. Sesunggunya itu benar tapi shilla gak mungkin bilang, karena akan sama aja dia menyakiti hati ozy lebih dalam lagi
“shilla” ucapan seorang laki-laki membuat shilla dan ozy menoleh. Seorang cowo tinggi berjalan menghampiri mereka
“jadi ini cowo yang udah gantiin aku?” tanya ozy lagi lagi dingin
“kenalin gue Mario, pacarnya shilla kita satu sekolah saat di amrik” kata cowo itu sambil mengulurkan tangannya
Ozy menatap uluran tangan itu kemudian menepisnya kasar “gak perlu”
“ozy sorry. Aku tau kamu pasti kecewa tapi pliss cinta gak bisa dipaksain, aku telah bersama rio dan aku bahagia. Aku harap kamu bisa menemukan yang lebih baik dari aku dan saat kamu menemukannya kamu bisa merasa sangat bahagia” ucap shilla yang hanya disambut kebisuan ozy. “aku balik dulu ya” ucap shilla yang langsung pergi bersama cowo bernama rio tadi
Ozy terduduk lemas di rerumputan. Hatinya sakit,kecewa,panas. Semua bercampur dibenaknya. Apakah ini yang bisa dia terima selama penantiannya. Sejak lama ozy berharap kalau shilla kembali lagi dengannya. Tapi apa? semua kebalik. Sekarang ozy tau rasanya sakit hati dan itu sangat sangat menyakitkan!!
Hujan turun perlahan, tapi ozy gak bergeming, dia tetap diam dan terduduk. sampai hujan benar-benar turun deras dan membasahinya ozy masih terpaku. Dia gak peduli dengan hujan yang turun sederas apapun.
“kak ozy” aku beranjak menghampiri kak ozy dengan sebuah payung di tangan. Firasat ku benar. Kak ozy pasti gak bisa nerima dengan kehadiran kak rio
“kak hujan gede banget, nanti kaka sakit”
“biarin cha, biar aja. semuanya udah buat aku sakit” kata ozy di sela suara hujan yang deras
“kaka harus bangkit jangan terpuruk gitu. Ini bukan mau kak shilla. mungkin ini takdir dan kaka harus bisa nerimanya. Seperti yang kaka bilang life must go on”
Kak ozy menatapku lirih. Dia menangis. Ya dia menangis. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah bersama air hujan. Aku mendekat dan meletakan payung yang kupakai. Aku gak peduli baju ku basah
“kak, percaya semua akan indah pada waktunya” kataku tulus. Kak ozy mencoba tersenyum , kemudian dia memelukku ! entah kenapa aku gak bisa menolak pelukan itu. “thanks cha” hanya kata itu yang keluar dari mulut ozy. Aku membalasnya dengan senyum tipis
Cukup lama kak ozy menangis dalam pelukan ku hingga aku merasa pelukan itu mengendur
“kak ozy” tapi kak ozy gak bergeming dan akhirnya tubuh kak ozy terlepas
“kak bangun ka, bangun” aku mencoba mencari bantuan dari sekitar. Wajah ozy tampak pucat dan badannya sangat dingin
“kakak bangun!!”
>>>

Sudah 3 hari kak ozy gak masuk sekolah, dia sakit sejak kejadian di taman itu.
Aku bisa mengerti kedaannya. Mungkin kalau aku berada dalam posisi kak ozy sekarang pasti aku akan melakukan hal yang sama. Tapi sungguh aku bingung harus apa. di satu sisi ini  bukan salah kak shilla, bukan salahnya kalau kak rio telah mengambil hatinya saat ini. Tapi kak ozy juga berhak marah, penantiannya selama ini sia-sia gitu aja
“cha jadi jenguk kak ozy?” tanya keke saat kami berada di kantin
“iya ke, sekalin nyampein titipan kak shilla” jawabku seadanya. Ya hari ini aku punya rencana buat jenguk kak ozy bareng keke dan kak deva sekalian nyampein titpan dari kak shilla. hari ini kak shilla akan balik ke amrik, tentunya bersama rio.
^^^
Mobil kak deva berhenti tepat di depan rumah minimalis bercat putih. aku dan keke turun duluan dari mobil. Seorang wanita paru baya menyambut kami
“mau cari den ozy ya, dia ada di kamarnya” wanita itu mempersilakan masuk dan mengantar kami menuju sebuah kamar di lantai 2.
“silakan masuk” ucapnya lagi.
Kami mengangguk dan memasuki kamar itu. tampak kak ozy yang tengah terbaring ditempat tidurnya.
“gimana keadaan lo zy, baik? Cepet masuk ketinggalan pelajaran aja.inget kita udah kelas 12 udah mau UN” ucap deva membuka pembicaraan
Ozy hanya tersenyum masam “iya dev gue tau, kan ada guru setia gue yang nanti juga akan bantu gue”
“hah siapa?”
“ya elo lah siapa lagi”
“dasar lo!” sebuah bantal mendarat tepat di wajah ozy dan selang beberapa detik sebuah bantal kembali melayang, kali ini tepat di wajah deva
“ka ozy, ada titipan dari kak shilla. hari ini kak shilla balik lagi ke amrik” kataku sambil menyodorkan sebuah kotak yang aku juga gak tau isinya apa
Ozy menatap kotak itu sebentar kemudian meraihnya. Tampak sebuah boneka,gelang,dan kertas ada disana. Pasti itu semua pemberian kak ozy buat kak shilla
“oya satu lagi,kak shilla ninggalin voice mail buat kaka” aku menyerahkan HPku pada ozy
“yaudah gue dengerin ini dulu” ozy beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan sedikit menjauh
“ozy,aku gak tau harus bilang apalagi sama kamu, mungkin seribu maaf aku gak akan bisa buat sakit kamu hilang. Tapi tolong jangan pernah benci aku, jangan paksa aku untuk jadi yang kamu mau, aku emang jahat tapi tolong jagan sudutin aku ya zy. Walaupun aku udah sama rio tapi kamu tetep special buat aku. kamu udah pernah nempatin tempat di hati aku,dan aku janji itu gak akan berubah.walaupun aku gak sama kamu lagi. Ozy aku pengen kamu bahagia, dan aku tau siapa yang bisa bikin kamu bahagia. ACHA. Entah kenapa aku yakin acha orangnya. Aku udah denger semua cerita kamu dan acha. aku sempet ketawa dengernya. Zy jagain ya acha ya, mungkin kamu cinta pertama dia. Upss maaf aku keceplosan. Aku tau ko acha mulai suka sama kamu, terutama sejak sikap kamu berubah ke dia. Jadi lebih manis dan lebih lembut. Walaupun acha gak bilang langsung. Ozy aku gak akan maksa kamu untuk ngelakuin hal yang kamu inginin tapi aku Cuma minta jadi ozy yang dulu.ozy yang ramah,ceria,easy going,suka becanda,dan suka ngelucu walaupun garing. Zy hari ini aku balik ke amrik, kuliahku udah dimulai,doain aku ya supaya lancar dan aku bisa cepet-cepet jadi dokter. Hmhm mudah-mudahan semuanya baik-baik ya. Bay ozy” rekaman suara shilla berhenti. Ozy menarik napasnya berat, sangat berat kemudian dia kembali duduk di tempat tidurnya
“kak ozy mau ke bandara nyusul ka shilla?” tanyaku lembut
“jam berapa pesawatnya berangkat?”
“jam 2”
Ozy melirik jam di tangannya. sudah jam 1 lewat 40 menit.
“kak ozy harus percaya kalau cinta gak harus memiliki. Mungkin kak ozy gak bisa milikin cinta kak shilla lagi tapi kak ozy udah pernah milikinnya dulu” jelasku dengan senyum semanis mungkin. Entah kenapa ada perasan yang aneh yang ku rasakan. Ada rasa gak tega melihat kak ozy sakit dan sebuah perasaan takut kalau kak ozy masih sangat berharap pada kak shilla
“iya cha.thanks ya. Oya masih ada waktu buat ke bandara”
Semuanya saling pandang, kemudian kak ozy beranjak ke lemarinya,mengambil sebuah jaket hitam “ayo, ko malah pada diem”
“eh iya yuk” deva bangkit berdiri lalu diikuti aku dan keke
^^^^
Aku,keke,kak deva dan kak ozy berlari menyusuri bandara. Jalanan macet dan kami telat. Jam udah nunjukin pukul 2 lewat 10 dan aku rasa pesawat kak shilla udah berangkat
“percuma pesawatnya udah berangkat” ucap deva berusaha mengatur napasnya.
“iya aku setuju sama kak deva” kata keke yang juga tampak kelelahan
Ozy berdiri mematung. Hanya terdengar desahan napasnya yang tak beraturan. Aku beranjak menghampiri dia
“kak mungkin kak shilla emang udah pergi”
“iya cha. Aku rela ko. Kamu tau tujuan aku kesini untuk apa?”ozy berbalik menghadapku
“apa?”
“ada sesuatu yang ingin aku sampaikan”
“apa kak”
Ozy gak menjawab dia malah mendekat pada ku. Entah kenapa jantung ku berdetak lebih cepat. Kenapa ini? Ko aku tegang
“kalau adiknya yang satu ini mau aku pacarin” ucap kak ozy yang langsung merangkul pundak ku
DEGG  jantung ku rasanya ingin copot. Kak ozy tadi bilang apa. apa aku gak salah denger
“ko diem. Gimana. Sorry ya kalau gue gak romantis dan tiba-tiba. Cha selama beberapa minggu ini gue banyak ngalamin hal, dan ujung-ujungnya lo selalu hadir, lo hadir membawa angin segar buat gue. Lo bikin gue sadar kalau semua yang udah terjadi gak mungkin di bisa dirubah dengan apa yang kita mau. Dan lo ngajarin gue satu hal penting. Kalo semua akan indah pada waktunya”
“ciyeee” suara keke dan deva membuatku menoleh. Mereka asik bersiul dan tersenyum jail. Dan apa-apaan mereka asik rangku-rangkulan. Jangan-jangan!! Dasar keke dia pasti udah jadian sama kak deva, tapi kenapa gak bilang.
“keke lo dah jadian sama kak deva?”
“iya dong cha, kemarin” katanya bangga. Aku mendengus kemudian aku sadar ada ozy disebelahku
“cha ko gue dikacangin. jadinya gimana?” tanyanya sambil mengedikan sebelah mata
Aku terkekeh kemudian mencubit hidung ozy “mau koooo” kataku yang langsung kabur menarik keke
“acha awas ya, kalo ketangkep aku kelitikin kamu”
“udah zy haha “
“ko kita senasib si punya pacar childist gitu?”
Deva hanya tersenyum tipis “itu yang namanya takdir”
“haha betul juga lo. Yaudah kita kejar mereka sekarang”
“ayo siapa takut. Pasti gue duluan yang nangkep keke” kata deva yakin
“oke, liat aja. acha yang gue tangkep duluan” seru ozy gak mau kalah
“tangkep-tangkep. emang kita ayam” suaraku membuat ozy dan deva membalikan badan
“ko?” ozy menatap aku dan keke gak percaya
“kita gitu loh!!!” ujarku dan keke sambil tertawa
^^^^^^^^^^^
malam ini hujan turun gak terlalu deras. Aku menatap keluar jendela. Seperti biasa menikmati bau dan suara rintikannya. Hari ini hari yang penuh kejutan. Kejutan yang gak akan aku lupain. Kejutan di saat masa SMA Dan mungkin akan banyak kejutan yang akan keterima nanti tapi aku siap ko. Walaupun buruk tapi aku yakin pasti ada himahnya. Karena apa SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA. Its extraordinary and I’m unforgettable it
DRT DRT. ‘1 new message’
Aku mengambil HP yang tergeletak di tempat tidur dan membuka pesan yang baru saja masuk
From: ozy mr.aneh
SELAMAT TIDUR MY PRINCE. HAVE A NICE DREAMS, AND YOU ALWAYS HAVE IN MIND. I HOPE YOU TOO
Aku hanya bisa tersenyum ketika membaca sms itu. sms dari pangeran aneh tapi kini sangat special. PANGERAN OZY. Sambil berbaring aku menyetel kaset dikamar untuk menemani tidurku yang mungkin akan sangat nyenyak

Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu

Segala seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti A
ku tetap tak ’kan berubah

Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu Untukku sendiri

Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air

Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku 
(UTOPIA_HUJAN)